Rabu, Juni 19, 2024
BerandaIndeksEvaluasi Selama Tur Eropa

Evaluasi Selama Tur Eropa

oleh: Yuniandono Achmad. Gambar dari https://bwfworldtour.bwfbadminton[dot]com Pasangan the Daddies masuk final All England (AE). Dengan masuk final AE 2023 maka Hendra Setiawan meneguhkan dominasi selalu masuk final di turnamen yang diikuti sejak 22 tahun yang lalu.

SEJAK awal bulan Maret para pemain bulutangkis Indonesia mengikuti beberapa turnamen di Eropa. Dimulai dari Jerman Terbuka (Germany Open) kemudian All England di Birmingham, dan sekarang yang masih berlangsung adalah di Swiss Terbuka.

Di Jerman Terbuka, semua pemain pelatnas Cipayung tidak diturunkan. Hanya klub Djarum yang mengirim pemainnya, yakni di sektor ganda campuran. Yaitu Praveen Jordan/ Melati Daeva Oktavianti, dan Dejan Ferdinansyah/ Gloria Emanuella Widjaja. Keduanya hanya sampai di babak kedua atau 16 besar.

Dejan/ Gloria sempat bermain bagus pada babak pertama, dengan menyingkirkan unggulan Tan Kian Meng/Lai Pei Jin dari Malaysia dengan straight set. Namun pada babak berikutnya kalah dari pasangan Hong Kong, Reginald Lee Chun Hei/ TY Ng.

Sedangkan Praveen/ Melati dengan susah payah lolos babak pertama mengalahkan pasangan tidak terkenal dari Jerman, Moszczynski/ Geiss, sebelum kepentok oleh the rising star dari Tiongkok -Feng Yanzhe dan Huang Dong Ping. Pasangan Feng/ Dongping menjadi kampiun di Jerman open tersebut.

Di All England, pertarungan saudara tidak terhindarkan, antara Praveen/ Melati melawan Dejan/ Gloria pada babak pertama. Praveen/ Melati menang rubber dengan skor cukup ketat 19-21, 21-17, dan 21-18. Pada babak berikutnya, Praveen/ Melati kalah mudah, dua set langsung, melawan pasangan nomer satu Thailand, Dechapol/ Sapsiree.

Sementara di Swiss open ini kedua pasangan Djarum tersebut kalah di babak pertama. Praveen/ Melati kalah tipis, rubber game, melawan pasangan Malaysia, Goh Soon Huat/ SJ Lai, dengan angka 21-13, 15-21, dan 20-22. Sedangkan Dejan/ Gloria kalah melawan sesama pasangan Indonesia, Rinov Rivaldy/ Pitha Mentari. Dari tayangan youtube terlihat, Rinov/ Pitha menang dengan 3 (tiga) game, dan diakhiri dengan tangisan air mata Pitha. Pitha merupakan pacar dari Syabda Perkasa Belawa, pemain tunggal putra yang meninggal dalam kecelakaan di jalan tol Pemalang 2 (dua) hari sebelumnya.

Dari penampilan Praveen/ Melati dan Dejan/ Gloria, bisa sedikit disimpulkan bahwa Dejan/ Gloria sebenarnya lebih berpeluang untuk maju di bulan, ataupun di tahun-tahun ke depan. Dejan/ Gloria lebih sering kalah dengan sesama pemain Indonesia. Namun lebih mampu untuk menggulingkan pasangan dari negara lain. Sedangkan duo Praveen/ Melati ada handicapped di Praveen Jordan yang baru lepas dari cedera berkepanjangan -yang menderanya lebih dari 6 (enam) bulan di tahun lalu.

Nanti bulan April, usia Praveen sudah menginjak 30 tahun. Tentunya perlu pertimbangan sendiri mengingat pemain tunggal putra di mixed double itu bermain layaknya tunggal putra. Praveen bisa pindah ke ganda putra, dengan mencari pasangan yang jauh lebih muda. Sedangkan Melati Deva bisa kembali ke partner yang kemarin sempat dipasangkan selama beberapa bulan, ialah Mohamad Reza Pahlevi. Mungkin mereka akan lebih bersinar prestasinya.

Di sektor ganda campuran ini, prestasi yang menjanjikan juga diperlihatkan pasangan Rehan Naufal Kusharjanto/ Lisa A Kusumawati. Mampu melaju ke semifinal All England, dan bermain sengit kala melawan “monster XD” dari Tiongkok, Zhang Siwei/ Huang Yaqiong, dengan permainan impresif selama satu jam rubber game. Di Swiss Open ini, Rehan/ Lisa juga masih melaju sampai babak kedua. Kita berharap Rehan/ Lisa bisa bermain prima saat putaran final Sudirman Cup di daratan China nanti.

Beberapa pemain lain yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut.

Ganda putra “BaKri” atau Bagas Maulana/ M Shohibul Fikri, kembali belum bisa lolos ke perempat final -di tiap turnamen yang diikutinya- semenjak menjadi juara All England tahun lalu. Masih untung tahun ini (seperti tahun lalu) terjadi All Indonesian Final kala pasangan Fajar/ Alfian melawan “the Daddies”. Meski bermain ciamik di babak awal -dengan mengalahkan pasangan gaek Korea, Kim Sa Rang/ Kim G Jun, dan pasangan nomor dua Malaysia Teo Eow Yi/ Ong YS- namun duo “BaKri” ini takluk di tangan seniornya yaitu Fajar Alfian/ Rian Hardianto.

Fajar/ Rian akhirnya menjuarai level super 1000 tersebut -yang artinya selain mengukuhkan sebagai ganda terbaik dunia juga mampu menggaet hadiah utama senilai 92.500 dollar AS atau sekitar Rp 1,4 miliar. Sementara itu, Ahsan/Hendra yang menjadi runner-up, berhak membawa pulang 43.750 dollar AS (Rp 672,3 juta).

Tunggal putra Shesar Hiren Rusthavito, juga belum mampu lolos dari partai babak pertama. Di All England kalah melawan pemain Melayu usia 22 tahun, Ng Tze Yong. Kemudian di Swiss kalah dari pemain “bukan-bukan” dari Perancis (keturunan Vietnam) yaitu Nguyen. Pemain Malaysia Ng Tze Yong melanjutkan permainan energiknya dengan mengandaskan nomor 1 (satu) dunia yaitu Viktor Axelsen. Meskipun kemudian Yong takluk di tangan sang juara Li Shifeng dari Tiongkok di perempat final.

Pasangan ganda muda kita, yang dijuliki the babbies, sempat memunculkan harapan ketika bermain spektakuler di babak awal All England. Leo Rolly Carnando/ Daniel Martin mengalahkan pasangan juara dunia tahun lalu dari Malaysia, Aaron Chia/ Soh Woi Yiik. Kekalahan ini tentunya memusingkan pelatih kepala BAM, Rexy Mainaky, yang menggadang-gadang Chia/ Soh sebagai kandidat utama untuk membidik emas Olimpiade Paris 2024.

Babak kedua turnamen All England, Leo/ Martin mengandaskan pasangan Denmark, Bay/ Molhede, namun sayang determinasinya kurang kuat sehingga kalah dengan ganda Tiongkok WK Liang/ Wang Chan dengan rubber game. Kalah tipis, dan terhitung kedua pasangan ini bisa dikatakan seangkatan. Melihat keduanya, seakan bayangan untuk olimpiade 2028 melintas. Bahwa keduanya bisa akan bersaing dengan ketat untuk 2024, bahkan 2028 nanti. Sayangnya di Swiss Open, the babbies takluk babak pertama melawan pasangan Denmark yang mereka kalahkan waktu AE lalu, yakni Bay/ Molhede.

Melihat ketiga turnamen ini, sepertinya berat untuk bersaing ke depan bagi tunggal putra Shesar Hiren dan pasangan Praveen/ Melati. Masih terngiang saat Thomas 2022 lalu, Shesar begitu digdaya di ajang Thomas Cup. Tidak pernah kalah. Salah satunya dengan menaklukkan mudah pemain Jepang, Kodai Naraoka. Tahun ini gentian Kodai yang berkibar, serta mampu mengandaskan Shesar dengan mudah di Perancis Terbuka bulan November lalu. Atau analogi lain seperti Ng Tze Yong yang menjadi pecundang saat semifinal Thomas Cup tahun 2021, dikalahkan oleh Jonathan Christie. Bulan ini Yong mampu menyingkirkan Victor Axelsen.

Time flies sepertinya. Untuk Praveen sebaiknya pindah ke sektor ganda putra -dengan mencari pasangan yang jauh lebih muda. Sedangkan Melati bisa kembali dipasangkan dengan pasangannya kemarin, M Pahlevi.

Artikel ini ditulis oleh Yuni Andono Achmad, S.E., M.E., staf pengajar di beberapa PTS di Jakarta dan kota Depok.

 

 

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer