Kuasa Golkar di Dewan Pelalawan

Liaz Abnur

Di Pelalawan, Partai Golongan Karya (Golkar) masih sangat digdaya dalam setiap kontestasi politik, dalam hajatan lima tahunan pemilihan kursi legislatif,  partai beringin selalu meraup kursi mayoritas. Bonusnya jabatan ketua dewan menjadi haknya kader terbaik Golkar, tradisi ini telah berlaku sejak negeri seiya sekata terbentuk.

Di gelaran terakhir pileg tahun 2019, Golkar berhasil mempertahankan dominasinya di gedung wakil rakyat Pelalawan, Raihan sembilan kursi dari 35 kursi yang tersedia menasbihkan Ketua DPD Golkar Pelalawan, Adi Sukemi- MT mengemban jabatan prestise, mengetuai ke 34 orang orang yang telah mendapatkan legitimasi masyarakat untuk mewakili suara, hati dan aspirasi mereka.

Nama Adi Sukemi- tak asing lagi di dunia perpolitikan daerah pemekaran Kabupaten Kampar ini, ia pernah tercatat sebagai anggota DPRD RI periode 2009-2014, pengalaman politiknya di tingkat nasional tentu tidak di ragukan lagi dari politisi yang mewarisi gen politik dari sang ayah, HM Harris yang notebene adalah Bupati Pelalawan dua periode, dan pernah  menjadi Ketua DPRD dua periode pula.

Ambisi politik bro As, tidak terhenti sampai orang nomor satu di legislatif doang, keinginan untuk mendekati karir politik sang ayah membuatnya berkeinginan untuk maju di gelaran pilkada 2020. Konsekwensinya, bro As harus mengundurkan diri sebagai Ketua DPRD Pelalawan.

Selama proses demokrasi berjalan, tugas tugas ketua dewan dijalankan oleh pelaksana tugas, Syafrizal kader PDIP yang menduduki jabatan Wakil Ketua I pun ditunjuk.

Setelah empat bulan tampuk kepemimpinan di DPRD Pelalawan dijalankan oleh pelaksana tugas, di pertengahan bulan Januari 2021, DPP Golkar mengirim surat ke sekretariat DPRD untuk segera menunjuk kader terbaiknya, kader pengganti untuk menduduki kursi kosong sepeninggalan bro As.

Dari surat yang ditujukannya, bernomor: B-507/GOLKAR/I/2021 tanggal 11 Januari 2021 perihal persetujuan pergantian antarwaktu pimpinan DPRD Kabupaten Pelalawan sisa masa jabatan 2019-2024.

Berbekal surat itu, tanggal 18 Januari 2021, diadakan rapat paripurna penetapan calon Ketua DPRD sisa masa periode 2019-2024, di akhir paripurna, disahkan penetapan Ketua Fraksi Golkar DPRD Baharuddin sebgai Ketua DPRD Pelalawan.

Setelah SK pengangkatan Baharuddin di tandatangani oleh Gubernur Riau, 1 Februari 2021 menjadi hari yang spesial bagi legislator peraih 3.780 suara sah di dapil 4 pileg 2019 lalu, ia secara resmi menjadi bagian dari Forkopinda Pelalawan setelah Ketua Pengadilan Negeri mengambil sumpah dan melantiknya menjadi Ketua DPRD Pelalawan.

Bahar tengah berbahagia, Jabatan Ketua DPRD yang disandangnya kini tentu merupakan cita cita dan impian semua politisi dan legislator, jabatan penuh kebanggaan dan harga diri seorang politisi sejati.

Kehadirannya di kursi ketua dewan, juga membawa nama baik partai yang telah membesarkannya, dominasi dan hegemoni partai yang telah mengakar sejak orde baru itu masih terjaga hingga kini, di negeri Pelalawan, warna kuning menguasai, paling tidak di legislatif.

Golkar Pelalawan saat ini, hanya bisa mempertahankan kuasanya di legislatif, setelah kader partai rival menumbangkan calon kada yang diusung Golkar di Pilkada Pelalawan baru baru ini, padahal dua dasawarsa Golkar cukup berkuasa di kantor tetangga, tempat Eksekutif berkerja membangun Kabupaten Pelalawan jaya.

Di internal Golkar, Baharuddin memang merupakan kader terbaik, sederet jabatan strategis di Partai beringin pernah di embannya, jabatan Bendahara dijabatnya dari tahun 2011-2017, terakhir jabatan Sekretaris di percayakan kepadanya. Dua periode sebagai anggota DPRD membuatnya layak men-dapatkan kepercayaan DPP Golkar untuk jabatan ketua dewan.

Tapi memang harus di akui, Bahar bukan satu satunya kader Golkar yang bisa mengemban jabatan itu, penunjukkan Bahar menyalip nasib Imustiar yang sudah malang melintang membesarkan Golkar di peta politik Kabupaten Pelalawan, ia adalah penyumbang terbesar suara golkar di negeri Pelalawan ini, tiga perhelatan Pileg untuk kursi DPRD Pelalawan selalu mencatatkan namanya sebagai peraup suara terbanyak. Ia sudah mapan berpartai, senioritas dan kepemimpinan nya tidak diragukan lagi.

Sebagai kader terbaik, Imustiar harus menerima keputusan DPP yang memang pertimbangannya juga berasal dari pengajuan dari DPD Golkar Pelalawan. Imustiar harus legowo, catatan konstituennya belum menjadi pertimbangan partai untuk mengantarkannya di kursi ketua. Apakah Imustiar kecewa, wallahualam, hanya Allah dan dia sendiri yang mengetahui suasana hati nya.

Selain Imustiar, ada nama Afrizal kader Golkar terbaik asal Langgam, keanggotaan legislatifnya saat ini adalah periodesasi keduanya dalam karir politik, jabatan kepartaiannya mungkin belum menyaingi Baharuddin, dan masa periodesasi jabatan dewan dan raupan suara pileg tak sementereng Imustiar, akan tetapi Afrizal punya keunggulan lain dari dua kader yang disebut sebelumnya, Afrizal masih menjaga digdaya Golkar di daerah pemilihannya pada Pilkada lalu, calon kada yang diusung partai beringin masih meraup suara mayoritas di tempat tinggalnya, dibandingkan Bahar dan Imustiar yang keok mempertahankan kuasa Golkar di kampung halamannya.

Baharuddin adalah ka-der Golkar terpilih, ia telah mendapat restu sang ketua DPD Golkar Pelalawan, Adi Sukemi – yang telah meninggalkan jabatan prestise itu demi impian yang tertunda. SK DPP membuktikan bahwa saat ini, ia adalah politisi ulung Golkar di negeri Seiya sekata Kabupaten Pe-lalawan.

Selamat mengemban tugas pak Ketua dewan, semoga komitmen mengawal pembangunan di negeri ini, menyerap aspirasi masyarakat untuk Kabupaten Pelalawan yang maju, bermarwah dan bermartabat. Sukses bung Bahar….!

Oleh : Liaz Abnur

Penulis adalah wartawan Nadariau.com