Senin, Mei 18, 2026
BerandaIndeksDaniel/ Leo: Recovery, Reuni, lalu Resiliensi (?)

Daniel/ Leo: Recovery, Reuni, lalu Resiliensi (?)

OLEH: Yuniandono Ahmad. GAMBAR: Daniel Marthin kembali berpasangan dengan Leo Rolly Carnando. Setelah absen selama setahun karena cedera, dan 2 (dua) tahun Daniel tidak duet dengan Leo. Sumber gambar: https://bwfworldtour.bwfbadminton.com/news-single/2026/05/16

PASANGAN Leo Carnando/ Daniel Marthin menjuarai nomor ganda putra Thailand Terbuka 2026 level BWF World Tour Super 500. Setelah “dipecah” selama 2 tahun, ini merupakan turnamen pertama saat mereka diduetkan kembali. Turnamen pertama, gelar juara yang pertama pula. Bagi Leo tahun ini, dan di kota sama: Bangkok, menjadi kampiun yang kedua, setelah menjuarai Thailand master bersama Bagas Maulana -awal Februari lalu.

Strategi mereka masih sama: Leo main di depan net, Daniel menggebuk dari belakang. Leo banyak mendapat poin dari servis yang menyulitkan lawan, Daniel dari smash keras -bahkan ketika di depan net. Di final sebenarnya pasangan India Chirag/ Satwiksairaj berusaha mengacak pasangan kita. Daniel diserang bertubi-tubi, kemudian Leo diberi bola (shuttlecock) melambung. Namun Daniel/Leo pada posisi yang sangat balans: Leo sesekali memukul smash dan masuk, sementara Daniel mampu membuat kok bergulir tipis di pinggir net.

Pasangan nomor 3 (tiga) dunia, sekaligus unggulan pertama di Stadion Nimibutr Bangkok ini,  yaitu Chirag Shetty/Satwiksairaj Rankireddy, tumbang dua game langsung 21-12, 25-23. Hebatnya sejak babak 32 besar, Leo/ Daniel mengalahkan semua lawannya dengan straight set. Bahkan pasangan Tiongkok yang dulu sering mengalahkannya -yaitu Ren Ji Ting/ Ren Xiang Yu, di semifinal takluk 21-15 21-18 melawan pasangan Klaten-Jakarta ini.

Daniel mampu pulih dari cedera (hampir setahun di tahun 2025), kita sebut saja sebagai Recovery. Rekover yang cepat karena pertama main langsung juara. Daniel dipasangkan lagi dengan Leo, disebut “Reuni”. Yang menjadi pertanyaan: Apakah mereka mampu bertahan (resilience).

Mengenai ketahanan -atau resiliensi- ini menjadi pilihan beberapa pemain sehingga tidak tampil di Bangkok. Setelah 2 (dua) pekan lalu bermain di ajang Thomas Uber Cup di kota Horsens, Denmark. Seperti misalnya Korea (negara peraih Uber Cup 2026) tidak mengikutsertakan An Seo Young, pasangan Baek Hana/ Lee So-hee, dan pasangan Kim Hye-jeong/ Kong Hee-yong. Tiongkok sang peraih Thomas ke-12 kali, tidak mengirim Liang Weikeng/ Wang Chan. Juga sang runner up, Peracis absen di Thailand Open kali ini.

Beberapa pemain memaksakan namun hasil kurang optimal. Shi Yuqi, yang tampil cemerlang selama Thomas Cup (tanpa mengalami kekalahan) akhirnya harus walk over di semifinal, semestinya melawan Anders Antonsen. Chen Yufei juga kalah, namun masih bisa ditolerir, karena dijinakkan oleh unggulan pertama -Akane Yamaguchi dari Jepang.

Terkait ketahanan atau resiliensi ini juga demikian, apakah sepekan kemudian bila turun di Malaysia Master, mereka akan juara kembali. Atau bila menghadapi pasangan papan atas lain -seperti misalnya Seo Seung Jae/ Kim Won Ho dari Korea dan Aaron Chiah/ Yik- bisakah kemenangan didapat pasangan pelatnas ini.

Seandainya mungkin masih terlalu dekat logic dan reason (karena baru saja menikmati kemenangan) bisakah pasangan ini bertahan tahun depan, dua tahun lagi, atau nanti di olimpiade musim panas di Los Angeles, California, tahun 2028 mendatang?

Tentunya oleh PBSI perlu dianggap sebagai tantangan. Periode lalu di bawah asuhan pelatih Herry Iman Pierngadi, kita memiliki banyak pemain ganda putra. Namun pada Hari – H kompetisi penting malah bertumbangan. Seperti minions (Kevin/ Gideon) begitu merajai tahun 2017-2020, namun terseok saat Olimpiade 2021. Juga pasangan Bagas Maulana/ Fikri yang melakukan “veni vidi vici” di all England 2022, namun itulah gelar satusatunya mereka sebelum dipisah: Bagas/ Leo, Fikri/ Daniel (kemudian Daniel Marthin mengalami cedera, sehingga Fikri berpasangan dengan Fajar Alfian).

Resiliensi berkaitan dengan konsistensi. Soal ini petinju Muhammad Ali (almarhum) pernah mengatakan “Champions are made from something they have deep inside: a desire, a dream, a vision.” Penafsiran “deep inside” bukan sekadar motivasi sesaat, tetapi daya tahan untuk terus konsisten.

Artinya prestasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mencapai kemenangan, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan performa secara konsisten. Seorang atlet mungkin mampu tampil luar biasa dalam satu turnamen, namun tantangan sesungguhnya adalah menjaga ritme permainan dan stamina ketika harus berpindah dari satu kompetisi ke kompetisi lain.

Di dunia tenis kita kenal Roger Federer, Rafael Nadal, dan Novak Djokovic yang mampu menjaga level permainan selama lebih dari satu dekade. Namun memang bedanya, petenis (tunggal putra terutama) ketika mampu menjuarai 1 (satu) turnamen grand slam -sama dengan 40 kali juara bulutangkis super series.

Mungkin padanannya kalau di bulutangkis, dapat dilihat pada Lin Dan dan Lee Chong Wei. Juga ganda kita Hendra Setiawan -yang masih bertahan di usia 39 tahun. Kini olahraga modern bukan hanya perlombaan mencari puncak prestasi, tetapi juga perjuangan menjaga ritme agar tetap berada di puncak. Sebab dalam dunia kompetitif, menjadi hebat sekali mungkin sulit, tetapi tetap hebat dalam waktu lama jauh lebih sulit lagi.

Kemenangan pemain yang sama-sama 24 tahun ini, Leo/ Daniel di Tailan memang perlu kita sambut gembira. Setelah gagal total di Thomas Cup, gelar di Bangkok ini sebagai Pelepas dahaga, dan mungkin titik cerah menghadapi Asian Games 2026 di Nagoya, Jepang nanti. Semoga recovery Daniel, reuninya Leo/ Daniel, akan mengarah resiliensi pasangan kit aini menuju puncak: Olimpiade 2028 mendatang.

Seperti ungkapan terkenal dari Aristoteles, “Excellence is not an act, but a habit.” Keunggulan bukanlah tindakan sesaat, melainkan kebiasaan yang terus dipelihara. Kemenangan mungkin dapat diraih oleh sedikit keberuntungan, juga bakat. Tetapi mempertahankan prestasi membutuhkan karakter dan ketahanan. Maka seorang juara sejati bukan hanya mereka yang mampu menang sekali, atau juara satu kali. Melainkan mereka yang sanggup terus kompetitif, dan tetap konsisten menghadapi perubahan zaman.

ditulis oleh Yuni Andono Achmad SE ME, pengamat olahraga yang tinggal di Bogor

Gemini_Generated_Image_d84jwqd84jwqd84j

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer