INDRAGIRI HULU (Nadariau)– Hamparan lahan yang dahulu terbengkalai dan dipenuhi rerumputan liar kini menyimpan cerita tentang ketekunan, keberdayaan perempuan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Di Desa Lambangsari V, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu, sekelompok perempuan membuktikan bahwa perubahan dapat berawal dari langkah sederhana, memulai dari nol dengan mengolah tanah, mengubah singkong menjadi produk bernilai ekonomi, dan memanfaatkan limbah organik agar kembali memberi manfaat bagi lingkungan.
Dulunya, lahan tidur milik Pemerintah Desa pernah diolah oleh bapak bapak di desa setempat. Saat itu motivasinya agar lahan itu tidak terlihat terbengkalai, walau ada harapan juga dari lahan yang memiliki luas tidak lebih dari setengah hektar bisa mendatangkan pendapatan bagi pengelola.
Seiring waktu, dari sayur sayuran yang ditanam diatas lahan desa tidak memenuhi ekspektasi awal, hingga akhirnya Keputusan angkat bendera menjadi akhir cerita perjuangan kaum Adam di Lambangsari V dan dari Keputusan itu memberi ruang bagi rerumputan liar untuk kembali menutupi seisi lahan.
Sekian lama ditinggal, sekelompok ibu ibu dengan jumlah anggota berangka ganjil 13 orang datang dengan penuh energi pembaharuan. Semangat memberikan kontribusi nyata bagi kelompok yang kemudian melabeli diri sebagai Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, sekumpulan ibu ibu tangguh ini melihat peluang ditengah rumput liar dan ilalang menutupi lahan terbengkalai.
“Dulunya pernah bapak bapak mengolah lahan tersebut, tapi tidak lama. Sepeninggalan itu kembali terbengkalai, hingga bertahun tahun,” terang Ketua KWT Melati Sri Wiji Rahayuningsih, Selasa (7/10/2026)
Wanita yang akrab dipanggil mbak Yayuk ini mengisahkan, semangat untuk Kembali mengolah lahan yang ditinggal oleh bapak bapak datang dari cerita ngalor ngidul seperti layak nya ibu ibu bertemu teman satu circle dengan obrolan yang tak berujung, Panjang lebar bercengkrama, selentingan selentingan ringan, bahkan ada curhatan dari peserta musyawarah akbar ibu ibu desa yang menggantungkan hidup dari cucuran keringat suami, sampai kepada rasa terpendam yang nyaris sama antar peserta diskusi. Bagaimana mencari jalan keluar agar kebutuhan keluarga bisa terbantu lewat hal hal kecil yang kadang terlewatkan.
Apalagi ada tiga orang dari peserta ngrumpi desa Lambang Sari V itu adalah orang tua tunggal tanpa suami yang menjadi tulang punggung keluarga, ekonomi di masa sulit memperparah kondisi finansial tanpa ada celah pendapatan yang bisa menopang kehidupan satu keluarga.
“Awalnya kami ibu ibu biasa ngumpul ngumpul bersama, ada 13 orang. Diantaranya ada yang menjadi tulang punggung keluarga. Biasa lah ibu ibu kalau bertemu. Urusan dapur dan ekonomi keluarga sering tak terlewat untuk dibahas,” kisah Yayuk
“Namun dari cerita cerita itu timbullah keinginan bagaimana kami bisa menghasilkan pendapatan melalui usaha yang dilakukan bersama, walaupun dimulai dari yang kecil. Namun sedikit banyak akan sangat berarti dimasa sulit seperti saat itu,” imbuhnya
Memulai di tahun 2022, gagasan-gagasan perbaikan ekonomi yang diprakarsai oleh 13 perempuan itu mengorat oret konsep usaha yang akan dijalankan kedepan, dengan semangat kebersamaan 13 ibu ibu visoner ini memulai dari nol meskipun dengan kemampuan dan modal yang terbatas.
“KWT Melati berdiri di 2022 silam, sudah empat tahun kami merintis usaha bersama ini,” tutur Yayuk.
Dari lahan milik Pemerintah Desa Lambangsari V, KWT Melati bisa menghasilkan singkong sebagai bahan baku Keripik Ubi Ibu
Dituturkan Yayuk, hingga sampai ke titik ini, dukungan banyak pihak membuka jalan bagi mereka untuk terus berkembang dan berinovasi dengan kegiatan pembaharuan lainnya, dukungan yang sangat membantu datang dari Kepala Desa, Instansi pemerintah seperti DLH Inhu dan Pertamina melalui Corporate Social Responsibility (CSR)nya, KWT Melati diawal berdirinya juga menghadapi kendala dilapangan, seperti susah nya mengolah lahan yang sudah lama di tinggalkan.
“Kendala nya yang kami hadapi yaitu mengolah lahan pertama kali sangat susah, karena lahan itu sudah lama terbengkalai, untungnya ada banyak pihak yang terus mendukung kami, ini menjadi semangat bagi ibu ibu anggota kelompok bertahan,”ungkapnya
Bazar UMKM memperkenalkan produk keripik Ubi Ibu yang di ikutsertakan oleh Pertamina EP Lirik
Setelah keripik ubi buatan ibu ibu di KWT Melati konsisten berproduksi, yang rata rata memiliki nilai omzet 1.5 juta – 3 juta perbulan membuat bahan baku yang dihasilkan dari lahan sendiri tidak mencukupi kebutuhan pokok produksi yang terus meningkat, solusinya KWT Melati menjadi penampung hasil kebun singkong warga lainnya.
“Setelah Keripik Ubi Ibu kita secara berkelanjutan berproduksi, kendala bahan baku kita dapatkan dari petani petani singkong yang ada di Desa Lambangsari V, itu juga menjadi usaha kita membantu para petani memasarkan hasil kebun singkongnya,” kata Yayuk.
Diakui Yayuk, peran Pertamina EP Lirik yang sering mengikut sertakan KWT Melati dalam berbagai pelatihan yang diadakan oleh perusahaan minyak berplat merah itu, baik ditingkat lokal maupun di luar daerah.
Melalui berbagai pelatihan, anggota KWT Melati memperoleh kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan tentang pengembangan usaha, kualitas produksi, serta pengemasan produk agar lebih menarik bagi calon pembeli.
Untuk promosi pemasaran produk unggulan Keripik Ubi Ibu, kata sang Ketua 13an mengungkapkan, Pertamina EP Lirik mempunyai andil yang besar dengan mengikutsertakan produk UMKM KWT Melati di berbagia event dan bazar sehingga Keripik Ubi Ibu sudah dikenal luas masyarakat.
“Terima kasih kami ucapkan kepada pihak Pertamina EP Lirik yang sudah melakukan pendampingan kepada kami sejak awal, sampai kami berporduksi hingga mengikutkan kami anggota KWT Melati di berbagai pelatihan, seperti di Medan, Pekanbaru dan pelatihan yang diadakan di pertamina sendiri, itu sangat membantu KWT Melati tumbuh dan berkembang,” kata Yayuk mengakui
Di KWT Melati, keuntungan dari hasil usaha bersama yang dijalankan selama ini tidak lantas di bagi rata dalam bentuk Sisa Hasil Usaha (SHU) ke seluruh anggota kelompok, namun semua keuntungan yang terkumpul di simpan di rekening KWT Melati yang nantinya akan dipergunakna untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) kelompok dengan melaksanakan study banding ke KWT KWT yang sudah sukses menjalan bisnisnya.
Study banding yang diikuti seluruh anggota KWT Melati baru baru ini melakukan perjalanan ke pulau Jawa dengan destinasi wisata di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Perjalanan selama 4 hari itu memiliki makna tersendiri bagi anggota KWT Melati untuk meningkatkan rasa kebersamaan. Disamping menimba ilmu di tempat baru, refreshing juga menjadi alasan kelompok ini memilih Yogayakarta untuk menyegarkan energi anggota yang sekian tahun bertungkus lumus dengan tanah, cangkul, umbi, minyak goreng, kuali dan bumbu resep kebanggaan.
“Insya Allah Malaysia, kami akan datang,” kata Yayuk optimis dengan hasil dagangan keripik ubinya
Selain memanfaatkan promosi langsung, Keripik Ubi Ibu juga menyasar calon pembeli lewat aplikasi digital, dengan hadir di berbagai platform media sosial. KWT Melati aktif membagikan aktivitas kelompok ini ke masyarakat lewat Facebook dan Instagram.
KWT Melati tak melulu tentang para ibu ibu rumah tangga yang berkerut kening dalam berbagai persolaan keluarga, ada juga sosok Gen Z di mayoritas kelompok ini yang memiliki peran tak kalah pentingnya dalam memperkenalkan kelompok kepada pengguna medsos maupun melayani pembeli yang ingin memesan Keripik Ubi ibu secara online.
Sosok itu Bernama Anggit Maruti, yang keseharian di beri tugas untuk mengelola Instagram dan facebook KWT Melati, gadis imut ini memiliki peran dalam mengelola konten konten kegiatan ibu ibu dan juga operasional bisnis melalui internet, yang ia lakukan memastikan eksistensi KWT Melati di dunia nyata dan dunia maya.
“Saya admin nya untuk media sosial KWT Melati, saya mengelola Facebook Dapoerubikwtmelati dan instargramnya Keripikubiibu, penjualan secara online saya melayani,”kata Anggit singkat
Kepala Desa Lambangsari V Kecamatan Lirik, Safrizal mengaku bangga dengan aktifnya pengembangan program ketahanan pangan mandiri dan pemberdayaan Perempuan dalam bidang ekonomi yang digerakkan oleh ibu ibu dibawah naungan KWT Melati.
Kiprah kelompok ibu ibu ini yang telah menunjukkan peran nyata sebagai penggerak ketahanan pangan lokal menjadi kebanggaan tersendiri baginya sebagai seorang pamong desa. Bagi Safrizal, keberhasilan yang diraih hari ini merupakan buah dari kerja keras, semangat gotong royong, kekompakan, dan komitmen seluruh anggota KWT Melati dalam memanfaatkan potensi yang ada di desa.
Disadarinya, menghasilkan sumber daya hayati dalam semangat membangun ketahanan pangan harus serta merta diiringi dengan mengupgrade kemandirian, keterampilan agar peluang peluang ekonomi muncul seiring kuatnya peran perempuan dalam pembangunan desa.
“KWT Melati telah membuktikan bahwa dengan kemauan dan kerja bersama, lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat dikembangkan menjadi sumber manfaat bagi masyarakat,”kata Safrizal bangga
Sang Kades menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pertamina EP Lirik atas dukungan dan pendampingan yang selama ini diberikan kepada KWT Melati. Bantuan tersebut menjadi dorongan bagi kelompok untuk terus berkembang, berinovasi, dan meningkatkan produktivitas. Ditegaskannya, Sinergitas antara masyarakat, pemerintah desa, dan dunia usaha seperti ini sangat penting untuk mewujudkan pemberdayaan yang berkelanjutan.
“Harapan kami, KWT Melati terus tumbuh menjadi kelompok yang mandiri, produktif, dan inspiratif, tidak hanya bagi masyarakat Desa Lambang Sari V, tetapi bisa menginspirasi ibu ibu di desa lain, di daerah lain. Semoga keberhasilan ini menjadi motivasi agar semakin banyak warga untuk mengembangkan potensi lokal, memperkuat ketahanan pangan keluarga, dan bersama-sama membangun desa yang lebih baik,”tegasnya
Pelatihan peningkatan SDM diikuti oleh anggota KWT Melati yang diadakan oleh Pertamina Sumbagut
Semangat ProKlim di Lambang Sari V tidak berhenti pada pemanfaatan hasil pertanian. Kepedulian terhadap lingkungan juga diwujudkan melalui pengelolaan limbah organik dengan memanfaatkan lubang biopori.
Pengolahan sampah melalui lubang Biopori menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu air meresap ke dalam tanah sekaligus mengelola sampah organic yang berasal dari aktivitas produksi keripik ubi ibu. Sampah seperti kulit singkong dimanfaatkan melalui lubang biopori yang sesuai, sehingga berpotensi terurai menjadi bahan organik yang bermanfaat bagi tanah.
“Sekarang perlakuan warga terhadap sampah berubah, Sisa bahan baku pengolahan keripik dan sisa makanan rumah tangga warga Lambangsari V diolah melalui proses biopori yang menggunakan pipa plastik. Kebiasaan ini turut membantu mengurangi timbulan sampah organik,”ungkapnya
Melalui pembinaan Pertamina EP Lirik, pengembangan ProKlim di Desa Lambang Sari V diharapkan terus mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan. Pendampingan yang berkelanjutan serta keterlibatan aktif warga yang diinisiasi oleh KWT Melati menjadi unsur penting agar kegiatan yang telah dirintis dapat berkembang dan memberikan manfaat berkelanjutan.
Safrizal tak membayangkan sebelumnya, lahan yang sempat terbengkalai bertahun tahun kini menjadi potensi lokal yang saling bertalian antara Singkong yang ditanam, keripik ubi yang diolah, serta sampah organik yang dimanfaatkan melalui biopori menjadi kesadaran bersama warga dalam menjaga lingkungan.
“Sekarang kesadaran ProKlim warga sudah menjadi budaya baru, dampaknya jumlah sampah pun berkurang karena sudah di pilah dan dimanfaatkan menjadi kompos,”tandasnya
Manajer Pertamina Field Lirik, Lukman Arif
Dukungan Pertamina EP Lirik kepada KWT Melati, dsebutkan Lukman Arif berbentuk pendampingan usaha dan mensponsori produk keripik ubi ibu untuk ikut serta di berbagai event promosi UMKM baik di Kabupaten Indragiri Hulu maupun di tingkat regional Provinsi Riau.
“Karena KWT Melati merupakan binaan kita (Pertamina red) tentu kita dukung upaya upaya untuk mengembangkan kelompok ini menjadi lebih produktif dan menghasilkan produk yang dapat bersaing di pasar yang kompetitif saat ini,” kata Lukman Arif saat meresmikan bank sampah Delima Desa Lambangsari V, Rabu(7/10/2026)
Kisah KWT Melati bukan semata-mata tentang singkong yang tumbuh di atas lahan yang pernah ditinggalkan, atau keripik ubi yang perlahan menemukan jalannya ke tangan pembeli. Lebih dari itu, ada 13 perempuan yang membuktikan bahwa usaha tak mengkhiati hasil, lewat obrolan sederhana tentang kebutuhan dapur menjelma menjadi gerakan ekonomi.
Melalui pendampingan Pertamina EP Lirik, lahan yang dahulu dipenuhi rerumputan kini menumbuhkan harapan, sementara sisa kulit singkong yang semula dianggap sampah mendapat kesempatan untuk kembali memberi manfaat bagi tanah. Perubahan itu tidak hadir dalam semalam, KWT Melati membuktikan bahwa keberhasilan tumbuh perlahan, dari tangan-tangan perempuan yang tekun bekerja, dari kebersamaan yang dirawat, dan dari keyakinan bahwa desa memiliki kekuatan untuk membangun masa depannya sendiri.
Sebab, ketika perempuan diberi ruang untuk tumbuh, bukan hanya ekonomi keluarga yang bergerak, tetapi juga kesadaran menjaga lingkungan dan harapan bagi generasi berikutnya ikut bersemi.
“Harus diakui, untuk mengembangkan usaha rintisan, dan agar konsisten menjalankan program desa proklim memang ibu ibu kata kuncinya, di tangan ibu ibu itu bisa terwujud,” pungkas Lukman Arif***
Penulis : Apon Hadiwijaya


