Kamis, Mei 14, 2026
BerandaRegionalRohil" Membunuh Tuhan Kecil "

” Membunuh Tuhan Kecil “

Membunuh Tuhan Kecil

Rokan Hilir ( Nadariau Com ) – Meski Tuhan telah menunjukkan eksistensinya di jagad raya, dengan berbagai macam bentuk penciptaanya yang perfect. Namun, topik pembicaraan tentang Tuhan tidak pernah mengalami kontensius yang final. Bagi manusia ekstrovert dengan paham pluralis maka pemikiran tentang eksistensi Tuhan dalam kehidupan fana menjadi sangat penting.

Tidak heran pendidikan Tauhid dan dasar-dasar kepercayaan yang konsisten dalam QS. Al-Ihklas 1-4 telah diajarkan sejak dini kepada mereka yang beragama Islam.Teks-teks suci yang merupakan landasan kehakikian Tuhan itulah yang mempengaruhi kehidupan manusia secara holistik. Sehingga dalam wacana kontektualnya manusia banyak berandai-andai tentang eksistensi Tuhan dan bahkan banyak manusia menuhankan ciptaan Tuhan.

Orang-orang Mesir Kuno mendapatkan Tuhannya sebagai Dewa Ra atau Re. Tidak puas hanya dengan satu Tuhan Orang Mesir Kuno menciptakan Osiris untuk melengkapi Ammon Re. Orang Persia mengenal Zoroaster dan Mani ; Orang Jepang mengenal Amaterasu Omikami; penduduk lembah Sungai Nill mengenal lebih banyak Dewa yang mewakili beberapa kekuatan.

Bahkan ilmuwan barat seperti August Comte dengan logika-logika ilmu sainsnya mengatakan bahwa Tuhan tidak lagi memiliki tempat dalam imajinasi manusia. Hal yang sama juga dikukuhkan oleh Darwin dalam teori evolusinya. Namun usaha untuk menyingkirkan Tuhan hanya imajinasi belaka.

Banyaknya capaian dan keberhasilan ilmuwan-ilmuwan dibidang sains dan teknologi diera modern membuat manusia mengalami kehampaan spritual dan mengalami kegelisahan yang akut akan kehadiran Tuhan. Enstein mencari Tuhan di alam semesta dengan ilmu fisikanya.

Dengan fisika Enstein menuju bagian terdalam alam semesta dan baginya Tuhan tidak bermain dadu dalam menciptakan alam semesta ini. Max Planck mencari Tuhan di alam yang lebih kecil, dalam patikel-partikel atomik. Charles Darwin pelopor teori evolusi bahkan tidak ragu-ragu tentang keberadaan Tuhan. Darwin dibingungkan oleh keindahan bulu-bulu burung merak. Pandangan evolutif Darwin mentok pada bulu-bulu burung merak. Bahkan filsuf Benedict Spinoza membangun filsafatnya dengan ide-ide Tuhan seperti ketika dia menggantikan “Tuhan yang transenden” dengan “Tuhan yang Imanen.

Begitulah proses manusia melakukan penyelidikan dalam mencari Tuhan. Sehingga Tuhan yang didapatkan tidak jarang hanya dikembangkan dan dikebiri oleh logika mereka sendiri. Alhasil melalui proses yang ilmiah tanpa ritualitas ini banyak mengalami kerancuhan dan keraguan tentang eksistensi Tuhan itu sendiri.

Hingga saat ini, banyak manusia yang terjebak mengkuti ajaran Karl Marx baik secara eksplisit maupun inplisit. Meski tidak sadar namun tingkah dan polarisasi sikap mereka mengarah kepada ajaran Matrealistis Marx yang menuhankan materi dan mengukur segala sesuatu dengan materi.

Fenomena seperti inilah yang melingkupi kehidupan manusia diera modern. Kehampaan spritual menjadi biasa namun kepuasaan dari segi jasmani menjadi hal primer bagi kebanyakan manusia. Sehingga sikap dan tingkah laku mereka cenderung membawa kerugian bagi individu dan lingkungannnya.

Padahal materi yang selalu dituhankan oleh manusia selama ini akan binasa dan itu hanyalah kesenangan sesaat sebagaimana Allah jelaskan diujung ayat 185 QS. Surat Ali-Imran. Hal itu dapat dilihat dari skema pembentukan jiwa manusia yang ditulis oleh Muhammah Muhyidin dalam bukunya “hidup dipusaran Al-Fatihah”. Muhyidin menjelaskan bahwa jiwa manusia dibentuk dari dua unsur yang berbeda, yaitu adalah Ruh-Ku dan tubuh, sehingga jadilah jiwa manusia .

Al-Quran telah menyebutkan bahwa “Ruh-Ku” yakni Ruh Allah. Karena ruh tersebut bersifat suci, sedangkan tubuh adalah materi yang tersusun, dari partikel-partikel dan atom-atom. Jika menggunakan bahasa Cina, tubuh itu memiliki empat unsur: Tanah, api, air dan udara. Semuanya adalah materi dan sifatnya kotor. Dengan demikian jiwa dibentuk dari unsur yang suci dan kotor.

Maka dalam kehidupannya, manusia mempunyai kecenderungan kearah yang suci dan kearah yang kotor. Maka dalam Al-Quran juga menjelaskan bahwa jiwa manusia itu lebih hina dari pada seekor binatang apabila ia cenderung pada materi. Namun , manusia akan bisa melampaui seperti malaikat Jibril apabila ia cenderung pada Ruh. Tetapi di dalam jiwa juga terdapat tiga Fakultas yaitu adalah; perasaan, akal dan hati.

Disebabkan manusia mempunyai dua kecenderungan maka perasaan, akal dan hati juga memiliki dua kecenderungan yang berbeda . Itulah yang disebut sebagai perasaan, akal dan hati yang positif dan perasaan, akal dan hati yang negatif. Ketiga unsur ini akan bersih apabila diarahkan pada bimbingan kesucian (Ruh Allah). Sebaliknya ketiga unsur tersebut akan kotor apabila bimbingannya diarahkan pada (tubuh, materi).

Sehingga upaya manusia untuk kembali kepada Tuhan Besar (Tunggal) harus konsisten dan jangan parsial. Dan harus sesuai dengan keikhlasan hati seperti surat Al-Ikhlas 1-4 yang telah menjelaskan tentang keesaan Tuhan Allah. Keikhlasan hati untuk membunuh Tuhan Kecil yang selama ini membuat kesyirikan dalam hidup manusia harus diaktualisasikan. Sebab tidak ada Tuhan di dunia ini kecuali Allah.

Sebagaimana Allah berirman dalam Surat Al-Hadid ayat 3: “Dialah yang awal dan yang akhir yang zhahir dan yang bhatin dan Dia mengetahui segala sesuatu”. Hal ini linier dengan kehidupan di bumi yang riil (ada) dan teratur (cosmos), tidak kacau (chaos), berarti ada yang menciptakannya dan Tuhan yang Tunggal, esa dan mutlak . Itulah Tuhan Allah seluruh manusia disegala tempat dan masa. ( Penulis : Alben Tajudin, SH. MH./ SY ).

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer