Songket Sawahlunto Bisa Mendunia, Berkat Status Warisan Dunia

Sawah Lunto (Nadariau.com) – Kota Sawahlunto di Sumatera Barat ditetapkan UNESCO sebagai World Heritage atau Situs Warisan Dunia dengan nama Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto beberapa waktu lalu. Penetapan tersebut disambut baik oleh masyarakat Sawahlunto guna memasarkan produk kerajinan songket, yaitu Songket Silungkang.

“Kita mengapresiasi bahwa Sawahlunto merupakan Warisan Dunia oleh UNESCO. Maka Songket Silungkang juga harus bisa mendunia. Apalagi setiap tahun selalu mengadakan carnival mengenai Songket Silungkang,” ucap Anggota DPD RI Provinsi Sumatera Barat Emma Yohanna dalam keterangan tertulis, Minggu (8/9/2019).

Menurut Emma, Songket Silungkang sulit didapatkan dan hanya dipakai untuk acara tertentu. Pembuatannya sangat rumit mengakibatkan harga Songket Silungkang menjadi mahal.

“Tapi sekarang pemerintah telah melakukan terobosan bagaimana Songket Silungkang menjadi pakaian kasual, maka diperlukan inovasi-inovasi dari desainer yang menjadikan Songket Silungkang bukan sekedar kain tapi souvenir ataupun pakaian kasual,” tuturnya.

Emma menjelaskan Songket Silungkang adalah kebanggaan masyarakat Sumbar. Lantaran Sumbar sebelumnya tidak memiliki industri atau pabrik besar, sektor pariwisatanya menjadi tonjolan daerah tersebut. Kini, Songket Silungkang juga menjadi kebanggaan masyarakat Sumbar.

Dengan perpaduan pariwisata dan kerajinan Songket Silungkang, Emma yakin bisa menambah daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Sawahlunto. Dengan ini, pendapatan masyarakat dan ekonomi keluarga Sawahlunto akan bertambah.

“Sebenarnya kota Sawahlunto hanya salah satu, namun masih banyak daerah di Sumbar yang memiliki sentral industri dan budaya. Jadi setiap daerah memiliki khas songket masing-masing. Harapan kita ke depan Sumbar bisa lebih dikenal di negara-negara lain,” tutup Emma.

Dewan Kerajinan Nasional Lisa Mustafa Abu Bakar berharap dengan adanya SISSCa, Songket Silungkang bisa go international sehingga menambah daya tarik wisatawan untuk datang ke Sawahlunto.

“Ini akan berdampak pada perekonomian masyarakat di Sawahlunto. Untuk itu, kami terus mempromosikan Songket Silungkang agar bisa dikenal lagi,” tegas Lisa.

Lisa berharap dengan momen heritage dari UNESCO, Songket Silungkang bisa dikenal lagi dan menjadi seperti Jember Fasion Carnival yang selalu ditunggu para wisatawan.

“Harapan kita di Sawahlunto juga bisa seperti itu Jember Fasion Carnival. Tentu akan menambah kerajinan Songket Silungkang. Untuk itu momen ini harus kita angkat,” ujarnya.

Lisa juga berharap berharap ke depan ada MoU antara kabupaten/kota terdekat seperti Sijunjung dan Solok sehingga bisa sejalan dengan Sawahlunto. Maka wisatawan yang datang ke Sawahlunto dapat disambut budaya Minang dari Solok dan Sijunjung.

“Maka kita harus bersinergi antara kabupaten/kota. Tidak hanya kabupaten/kota saja, pemerintah pusat juga bertanggung jawab dalam mengangkat kebudayaan di Minang. Semua harus bersinergi, dengan adanya UMKM ini sehingga membuka lapangan pekerjaan dan menambah perekonomian keluarga,” harapnya.

Ketua Indo Jalito Peduli Astri Asgani menyatakan sebagai organisasi sosial salah satu penggagas SISSCa, mereka memperkenalkan Songket Silungkang dari Sawahlunto agar bisa bersaing di kancah internasional. Mereka juga akan memperdayakan perekonomian daerah dan keluarga di Sawahlunto.

“Ke depan ini harus menjadi tanggung jawab bersama baik pusat dan daerah untuk meningkatkan ekonomi di Sumbar khususnya Sawahlunto,” kata Astri. (detik/nrc)