Pekanbaru (Nadariau.com) – Propam Polda Riau, Selasa (27/09/2022) kemaren, memeriksa lima orang anggota Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Riau, terkait kasus penganiayaan yang diduga dilakukan oleh oknum polwan berinisial Brigadir IR, anggota Polda Riau yang bertugas di BNNP serta Ibunya berinisial YU, terhadap seorang wanita bernama Riri Aprilia Kartin (27).
Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Sunarto, saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, kelima anggota BNNP tersebut diperiksa sebagai saksi terkait kasus penganiayaan yang diduga dilakukan oleh oknum polwan berinisial Brigadir IR serta Ibunya berinisial YU.
“Mereka dimintai keterangan, hanya sebagai saksi,” kata Sunarto, saat dikonfirmasi wartawan melalui telepon selulernya, Rabu (28/09/2022).
Sunarto menambahkan, pemeriksaan tersebut dilakukan lantaran sebelumnya korban mengaku sempat dibawa oleh Brigadir IR ke Kantor BNNP Riau bersama empat orang rekannya.
“Kelima anggota BNNP Riau yang diperiksa tersebut merupakan personel Polda Riau yang diperbantukan di BNNP. Mereka semua diperiksa di Propam Polda Riau,” kata Sunarto.
Berita sebelumnya, Seorang perempuan di Pekanbaru, Riau, bernama Riri Aprilia Kartin (27) mengaku disekap dan dianiaya oleh seorang polwan berinisial Brigadir IR, anggota Polda Riau yang bertugas di BNNP. Korban yang semula dianiaya di kontrakannya, sempat dibawa oleh pelaku dan rekannya ke BBN Provinsi Riau.
Kepada wartawan, Riri awalnya mengaku dipukuli dan disekap saat berada di kontrakannya di daerah Sukajadi, Pekanbaru. Tak sampai disitu, Brigadir IR bahkan minta bentuan ke rekan kerjanya di BNNP Riau.
“Karena tidak puas kakaknya ini, dia mulai menghubungi tim kerja dia di BNNP. Orang BNNP itu datang karena IR bilang dikeroyok oleh preman,” kata Riri, Sabtu (24/09/2022).
Saat itu, Riri sedang bersama Brigadir RZ adik Brigadir IR. RZ sendiri merupakan kekasih Riri yang tidak direstui oleh keluarga polisi tersebut.
Setiba di kontrakan korban, kelima rekan kerja Brigadir IR dari BNNP langsung memborgol Brigadir RZ. Bahkan RZ dipukul karena dia dikira preman yang dimaksud IR.
Setelah situasi tenang, Riri pun dibawa ke kantor BNN Riau di Jalan Pepaya. Namun Riri mengaku tak tahu apa tujuan Brigadir IR membawanya ke kantor tersebut.
“Saya dibawa sama kawan-kawannya ke BNN (kantor BNN Provinsi Riau). Alasan saya diamankan, tapi di mobil malah saya dipukul lagi sama polwan ini. Teman dia yang bawa itu ada lima orang, orang BNN itu,” katanya.
Setelah 30 menit di BNNP Riau, Riri akhirnya diperbolehkan pulang. Ia yang mengalami luka akibat dicakar, dijambak dan memar di tangan kiri akhirnya melapor ke Polda Riau.
“Setelah sekitar 30 menit saya di BNNP Riau baru dilepaskan. Dari situlah saya langsung ke SPKT Polda Riau untuk buat laporan. Lalu untuk si pacar saya pulang dibawa sama ibunya,” katanya.
Riri mengakui bahwa motif dia disekap dan dipukuli dipicu cinta tak direstui. Keluarga sang pacar tidak merestui hubungan yang sudah berjalan 3 tahun.
“Status kami sama-sama lajang. Salahnya di mana, saya salah karena sebelumnya 3 bulan lost contac karena saya diminta dia buat surat pernyataan untuk tidak pacaran sama adiknya.Setelah 3 bulan lost contac itu saya jumpa lagi. Jumpa itu juga sama-sama mau, tidak ada paksaan dan memang sudah dewasa,” katanya.
Riri juga mengaku punya salah. Namun ia kecewa karena sampai diperlakukan tidak manusiawi seperti ini.
Kabid Propam Polda Riau Kombes Johanes Setiawan membenarkan insiden tersebut. Bahkan terduga pelaku sudah diperiksa.
“Ya, sedang ditangani. Laporan ditangani sama Ditreskrimum dan saat ini saya perintahkan diperiksa juga untuk yang Polwan,” katanya kemarin.
Setiawan memastikan pemeriksaan akan dilakukan bersama laporan penganiayaan. Saat ini Bintara Polwan tersebut sedang diperiksa.(sony)


