Puisi ini adalah sajak kerinduan sepasang kekasih yang terpisah jarak dan waktu, Indonesia dan Canada. Kedua sejoli sudah menetapkan hati untuk bersama dalam ikatan keabadian cinta yang sesungguhnya, perjalanan cinta yang sudah dilalui lebih 1 tahun dalam ikrar bersamanya di atas bukit pada suatu senja, harus terpisah.
Sesaat sebelum perpisahan tersebut, Sang Gadis menyelipkan sebuah buku yang berisi kutipan-kutipan cinta, psikologi dan filsafat dalam balutan romantis. Di lembar pertama, dituliskan “Aku merindu, kekasihku” dan tergambar tanda cinta disebelah tandatangannya. Buku inilah yang menjadi penawar rindu kekasihnya di negara lain, lembar demi lembar terlumat dalam pikirannya yang tercincang rindu.
Kerinduannya tidak membeku meskipun berada di negara bersuhu beku seperti Canada, sampai pada sebuah waktu dituliskanya sajak rindu itu saat termenung di taman-taman downtown dan di tepian Rideau Canal yang belum lama beku.
Kurapal Namamu ditepian Rideau Canal
Menyusuri kota dengan keterasingan
Kupandang semua mirip padang kapas, memutih tebal
Bersalju.
Menghitam kontras, patung Elizabet II berkuda
Diatas batu kotak besar, memutih tebal
Bersalju.
Dikelilingi pepohonan berdahan dan berdaun awan, memutih tebal
Bersalju.
Dingin menusuk mematikan,
Tak seperti hanya dua musim yang kurasakan.
Semua tubuhku terbalut mantel tebal,
Kusisakan dua mata tanpa balutan
Untuk mengisahkan padamu,
Sebuah rindu.
Kurapal namamu, ditepian Rideau Canal yang membeku
Dan kutulis diatas salju,
“Only for you, sweethearts” – Untuk Kekasih Tercinta Atas Segenap Kehangatan,
Kebersamaan, dan Mimpi Indah.
Persis seperti judul buku, yang kauselipkan di koperku.
Serta kureka sebuah simbol cinta dengan penanda
Ottawa, November 2004.
Februari 2022
Cintaku Tak Sebatas Vaksin
AKU adalah derita, KAU adalah vaksin
AKU adalah nadi, KAU adalah serum
Aku adalah sakit, KAU adalah imun
Bukanlah cinta, jika AKU hanya menderita tanpa vaksin kasihmu
Bukanlah cinta, jika AKU terpaku pada nadi cemburu tanpa serum setiamu
Bukanlah cinta, jika AKU sakit tanpa kau disampingku sebagai imun
Pujangga Sepi
20 Juli 2021
Pujangga Sepi, penulis buku puisi Bait-bait Pujangga Sepi “Kukatupkan Kedua Bibir Ini Sudah” yang terbit akhir tahun 2021.
Tuhan menitipkan cinta untuk memberi makna. Dan Tuhan menitipkan kita sebagai bagian dari cinta itu. Ketika memasuki relung cinta, mata akan memandang hati dengan seksama dan memanjakan pemandangan cinta yang sesungguhnya, menarasikan dan menterjemahkan seperti apa dahsyatnya cinta tesebut. Bersemayamlah dalam cinta dan selamat memasuki ruang-ruang kerinduan yang tak tergantikan.

CHRIS TRIWASENO, pria yang akrab dipanggil Chris. Lahir di Karanganyar, 14 Februari 1981, alumni Teknik Geodesi UGM Yogyakarta. Dalam perjalanan hidupnya sudah akrab dengan nilai-nilai budaya adiluhung Budaya Jawa, melalui epos wayang Mahabarata, literasi sastra pujanga-pujangga klasik Jawa, puisi-puisi sastrawan Indonesia, mutiara hikmah dalam literasi Islam dan pengalaman batin.
Menulis, khususnya menulis puisi, adalah salah satu hoby diantara hoby lainnya seperti : membaca tentang organisasi, leadership & managerial, mendesain & membuat suatu konsep yang mempunyai nilai seni, membuat konsep pengembangan, membawakan presentasi dan sebagai trainer. Bermula dari keisengan menulis puisi saat di bangku Sekolah Dasar, berlanjut dalam setiap kesempatan sampai sekarang. Pujangga Sepi adalah nama pena penulis, merepresentasikan keheningan sebagai media penyelaras pikir, rasa dan tindakan.


