oleh: Yuniandono Achmad, pengamat bulutangkis, tinggal di Depok
Rexy Mainaky, yang sekarang menjabat wakil pelatih BAM (Badminton Association of Malaysia), atau lembaga semacam PBSInya Malaysia- mengeluarkan pernyataan kontroversial. Pernyataannya menyulut komentar ribuan netizen. Katanya Malaysia akan bisa menjadi juara Thomas tahun depan.
Rexy menambahkan dengan catatan, asalkan suatu negara memiliki 5 (lima) pemain tunggal kuat, dan 4 (empat) ganda yang kuat, maka ia bisa jadi juara piala Thomas. Kata-kata Rexy di laman the New Strait Times persisnya seperti ini, “To win the Thomas Cup, you need at least five good singles players and four pairs. If we can work on this, I dare say Malaysia have what it takes to reach the Thomas Cup final next year. We can even win it.”
Terjemahannya kurang lebih: Untuk memenangkan Thomas Cup, Anda membutuhkan setidaknya lima pemain tunggal yang bagus dan empat pasang ganda. Jika kami bisa mengerjakan ini, saya berani mengatakan Malaysia memiliki apa yang diperlukan untuk mencapai final Thomas tahun depan. Kami bahkan bisa memenangkannya.
Rexy memang punya prestasi cemerlang sebagai pelatih. Pernah membawa tim Thailand ke final Uber Cup pada tahun 2018 -saat itu Bangkok sebagai tuan rumah. Sebelumnya, coach Rexy pernah membawa Inggris merasakan perak olimpiade 2004 sektor ganda campuran melalui Nathan Robertson/ Gail Emms. Kemudian Tan Boon Heong/ Koo Kian Keat membawa emas bagi kontingen Malaysia di ajang ganda putra Asian Games 2006. Kemudian saat melatih Pelatnas PBSI, Rexy mengantar Indonesia meraih emas olimpiade 2016 -melalui ganda campuran Tantowi/ Lilyana- setelah kita zonk medali di olimpiade 2012.
Kembali ke pernyataan Rexy itu, mungkinkah terjadi Malaysia menjadi juara Thomas tahun depan? Bisakah membentuk 5 tunggal dan 4 ganda dalam setahun?
Kalau disimak dengan seksama, ada beberapa diksi yang berlawanan dalam pernyataan Rexy tersebut.
Pertama, rasanya tidak mungkin dalam setahun ini negara bisa membuat 5 (lima) tunggal dan 4 (empat) ganda untuk mencapai level dunia. Modal Malaysia saat ini adalah adanya 2 (dua) pasangan ganda putra yang layak, Aaron Chia/Soh Wooi Yik dan Goh Sze Fei/Nur Izzuddin Rumsani. Chia/ Soh tampil mengesankan di Olimpiade Tokyo 2020 kemarin, dengan mampu meraih medali perunggu –menyisihkan Hendra/ Ahsan. Malaysia juga memiliki 2 (dua) pemain tunggal papan atas Lee Zii Jia dan Ng Tze Yong. Namun untuk menambah tiga tunggal lagi dan dua ganda top lagi, apalagi dalam waktu setahun, sepertinya hil yang mustahal (meminjam istilah pelawak Asmuni almarhum).
Kedua, sepertinya berlebihan agar mendapat Thomas butuh lima tunggal dan empat ganda. Untuk mencapai juara dunia beregu, hanya cukup 3 (tiga) pemain tunggal yang handal. Karena dari sektor tunggal ini bisa menyumbang 3 (tiga) poin. Sementara ganda “hanya” 2 (dua) poinnya. Denmark menjuarai piala Thomas pada tahun 2016 karena tunggalnya selalu berjaya (Axelsen, Jorgensen, Vittingus). Seandainya tidak 3, ya 4 pemain (Denmark saat itu diperkuat Emil Holst di tunggal keempat).
Belajar dari keberhasilan Indonesia saat Piala Thomas kemarin, andalannya pada dua tunggal dan satu ganda. Ketika salah satu hilang, maka ganda kedua harus mendapat poin. Begitu gagal lagi, maka tunggal ketiga -yaitu Shesar Hiren Rustovito- harus menyumbang poin. Pemain ganda keempat dan tunggal keempat Indonesia adalah pemain yunior, yakni Chico Aura Dwi Wardoyo dan pasangan Daniel Marthin/ Leo Rolly Carnando.
Sehingga pemaknaan atas pernyataan Rexy Maynaky bisa beraneka ragam. Bisa sebagai psywar bagi lawan. Bisa juga untuk eksistensi diri seorang Rexy, karena sebagai new coach. Pernyataan atraktif akan menarik magnitude, siapa iklim bulutangkis negeri jiran bergairah kembali. Namun secara anekdotis bisa pula kita tanggapi, misal tahun depan Malaysia gagal juara Thomas, bisa jadi karena tidak bisa memasang “5 tunggal dan 4 ganda yang handal”. Karena adanya baru dua tunggal dan dua ganda yang tergolong ngetop.
Pemaknaan secara bahasa ekonomi -maka hal itu memang efektif, tapi tidak efisien. Tujuan tercapai -sebagai juara atau efektif. Tapi prosesnya terlalu boros, artinya tidak efisien. Karena hanya cukup 3 pemain tunggal handal dan dua pasang ganda yang kuat maka kemenangan Thomas akan teraih.
Terakhir terkait judul “joking ka” ini. Ada kisah antara dua wartawan senior (yang satu sudah almarhum) yaitu Sabam Siagian dan Fikri Jufri. Sabam dan Fikri mewakili dua media yang berbeda, namun meliput acara yang sama, yaitu pertemuan OPEC (organisasi pengekspor minyak dunia) mungkin tahun 1970an. Pimpinan OPEC banyak dari Timur Tengah, dan kalau tidak salah ada yang mempunyai kerabat dari Makasar.
Di tengah kerumunan wartawan, Fikri Jupri iseng bertanya kepada salahsatu pemimpin OPEC, “Apa kabar?”. Ternyata dijawab dengan pernyataan syukur semacam Alhamdulillah dan semacamnya. Wartawan Jepang lalu menanya ke Fikri Jupri apa maksud jawaban tadi. Lagi-lagi pak Fikri muncul keisengan untuk mau ngerjain wartawan Jepang tersebut, “He said 5 percent up”. Si Nippon itu lalu bergegas akan memberitahu wartawan Jepang lainnya, untung pak Sabam mencegah hal tersebut –kuatir pemberitaan akan mengguncang pasar. Sabam mengatakan, “No no no, he is making a joke”. Lalu si wartawan Jepang tersebut merespon dengan logat jepunnya, “Oooo joking ka”.
Kisah diatas diungkap Sabam Siagian sewaktu diwawancara Matra, beberapa hari sebelum berangkat ke Australia untuk menjalankan tugasnya menjadi duta besar di negeri kangguru -pada era Orde Baru. Mungkin kata yang sama bisa kita sampaikan ke Rexy, “Joking ka” (**)


