Pekanbaru (Nadariau.com) – Dengan gaya maconya, Mantan Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Prof Dr Ing Ir Rudi Rubiandini RS Dipl Ing, bersemangat memberikan materi terkait potensi besar Blok Rokan bagi pembangunan nasional, di Webinar Media Hulu Migas Update, di Hotel The Zuri Pekanbaru, Jumat (22/10/2021).
Peserta webinar ini adalah para wartawan yang tergabung kedalam Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Riau. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) diikuti oleh 50 orang wartawan.
Prof Rudi adalah Pria kelahiran 1962. Meski umur sudah tua, namun semangat untuk mendorong generasi muda supaya bisa bergerak mengelola Sumber Daya Alam (SDA) khususnya Minyak dan gas masih berapi-api.
Ia mencontohkan, data tahun 2018 Cadangan minyak dunia terbesar berdasarkan Crude Oil Reserves in Billion Barrels (Gbbl), yaitu Venezuela 300.9 Gbbl, Saudi Arabia 266.5 Gbbl, Canada 169.7 Gbbl, Iran 158.4 Gbbl, Iraq 142.5 Gbbl, Kuwait 101.5 Gbbl, Rusia 80 Gbbl. Sementara Malaysia yang dulunya kecil sekarang sudah memiliki cadangan 3.6 Gbbl, sedangkan Indonesia hanya 3.3 Gbbl.
“Jika bisa mengelonya, Provinsi Riau bisa kembali ke kejayaannya dulu. Riau memiliki cadangan minyak bumi dan gas terbesar di Indonesia. Sekarang, pengelolaan minyak dan gas baru dilapisan atas dan/atau masih dengan kedalam paling jauh sekitar 300 meter. Sementara di negara penghasil minyak tertinggi dunia sudah mencapai kedalaman ribuan meter,” kata Prof Rudi, dengan ciri khas senyum kecilnya.
Prof Rudi sudah malang melintang dalam dunia perminyakan. Pernah merasakan pahit manis demi berjuang meningkatkan eksplorasi minyak, untuk memenuhi kebutuhan minyak dan gas di Indonesia. Sehingga beliau sangat tahu daerah yang berpotensi dikembangkan atau tidak di masa depan.
Untuk itu, sang guru lulusan predikat Magna Cumlaude Technische Universität Clausthal Jerman tersebut sangat berharap, Blok Rokan bisa untuk mendukung program Pemerintah “1 Juta Barel Perhari Tahun 2030”.
Blok Rokan merupakan blok minyak terbesar di Indonesia, dengan luas 6.220 kilometer persegi yang terletak di lima kabupaten di Riau. Yaitu Bengkalis, Siak, Kampar, Rokan Hulu dan Rokan Hilir. Dulu, produksi Blok Rokan, sempat menembus 1 juta barel per hari (bph) pada masa puncak tepatnya pada 1973 silam.
Saat ini, Blok Rokan merupakan blok minyak dengan produksi terbesar kedua di Indonesia. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi mencatat, produksi terangkut (lifting) minyak Blok Rokan pada semester I 2021 ini rata-rata mencapai 160.646 barel per hari (bph) atau 97,4%. Sementara target didalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 yakni sebesar 165.000 bph dan/atau sekitar 24 persen dari produksi minyak nasional.
Sedangkan produksi terbesar pertama di Indonesia dihasilkan oleh Blok Cepu, yang berada di antara Kabupaten Blora provinsi Jawa Tengah dengan Bojonegoro Provinsi Jawa Timur. Produksinya mencapai 210 ribu barel per hari (mbopd) pada 2020 atau sekitar 30% produksi minyak nasional.
Jika dilihat kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri saat ini yaitu sebesar 1,4 juta barel per hari. Sedangkan produksi minyak nasional RI terus melandai sejak 1997 dan semakin anjlok di bawah 1 juta barel per hari (bph) sejak 2010 hingga kini. Bahkan, berdasarkan data Kementerian Keuangan, lifting minyak dalam satu dekade terakhir menunjukkan telah anjlok 25,8% menjadi 707 ribu barel per hari (bph) pada 2020 dari 954 ribu bph pada 2010.
Maka, untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, Pemerintah terpaksa melakukan impor dari beberapa negara. Seperti, 41% impor minyak mentah didatangkan dari Arab Saudi pada 2020. Posisi kedua ditempati Nigeria 29,4%, impor minyak mentah dari Australia dan Aljazair masing-masing sebesar 14,2% dan 5%. Selain itu, Indonesia memiliki alternatif pasokan minyak mentah dari Iran, merika, Rusia dan negara tetangga.
“Dulu, Blok Rokan produksi minyak terbesar di Indonesia. Tetapi sekarang dikalahkan oleh Blok Cepu, karena Blok Cepu sudah berani melakukan eksplorasi menggunakan teknologi maju. Namun, jika Pemerintah Riau mau meningkatkan eksplorasi, dengan melakukan pengeboran lebih dalam dengan teknologi, maka telaga minyak dalam bumi bisa didapatkan,” ujar Prof Rudi sembari memberi semangat wartawan untuk terus menulis informasi tentang perkembangan perminyakan dan gas.
Kepala SKK Migas Sumbagut Rikky Rahmat Firdaus yang hadir saat itu mengatakan, potensi pengelolaan sumber daya alam minyak dan gas, perlu dukungan daerah dalam perancangan operasi hulu migas menuju 1 juta barel perhari.
Pemerintah daerah diminta bisa memberikan kontribusi yang nyata dalam hal sinergi antara SKK Migas yang bertugas melaksanakan pengawasan pengendalian kegiatan hulu migas. SKK Migas sudah menugaskan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk melakukan pencarian dan berkonsentrasi dan fokus dalam upaya-upaya pencarian. Diharapkan KKKS ini fokus bekerja dan tidak terganggu oleh hal-hal yang menghambat kegiatan yang dimaksud selama bekerja.
“Artinya sinergi informasi maupun kontribusi Pemerintah dan seluruh stakeholder dalam mensukseskan target nasional ini sangat diperlukan. Sehingga kita bisa meningkatkan produksi minyak dan gas bumi kedepan,” kata Rikky.
Pemprov Riau Tak Berdaya
Meski punya wilayah, namun Pemerintah Provinsi Riau tak berdaya ikut serta terjun secara langsung untuk mengelola Blok Rokan. Sebab pengelolaan sudah dilakukan sepenuhnya oleh PT Pertamina Hulu Rokan. Sementara pelaksana dilapangan dilakukan oleh KKKS.
Peluang BUMD atau swasta pada Industri Hulu Migas hanya bisa bergerak di bidang industri jasa, industri material atau peralatan, industri jasa konstruksi dan non konstruksi.
Plt Dinas ESDM Provinsi Riau Ade Yuditira mengaku sifat pemerintah provinsi hanya sebagai koordinasi dan fasilitasi. Sementara pelaksana kegiatan sudah ditunjuk oleh SKK Migas.
“Kita cuma bisa berharap, agar PT Pertamina selaku pengelola Blok Rokan bisa menjaga kearifan lokal, memajukan daerah dan mensejahterakan rakyat Riau. Sementara kita tidak memiliki kewenangan untuk ikut campur dalam pengelolaan Blok Rokan,” kata Ade, yang tidak percaya diri dengan dinasnya, yang bisa mendongkrak pengelolaan Blok Rokan lebih berkembang kedepan.
Sementara, untuk penetapan Participating Interest (PI) 10 Persen, Pemprov Riau terpaksa meminta dukungan kepada SKK Migas. Permintaan dukungan itu sudah disampaikan Gubernur Riau, Syamsuar melalui Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setdaprov Riau, Jhon Armedi Pinem.
Namun persyaratan masih ada yang kurang. Dan kekurangan itu sudah dilengkapi berkas dokumennya oleh PT Riau Pertroleum selaku pengelola PI 10 Persen.
“Saat ini proses penetapan PI 10 Persen tinggal pengusulan dari SKK Migas ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Diharapkan PI 10 persen segera ditetapkan sehingga bisa menambah Pendapatan Asli Daerah untuk peningkatan pembangunan daerah,” kata Jhon.
Penulis : Alin Indra Jaya
Media : Nadariau.com


