Kampar (Nadariau.com)- Meski belum ada kejelasan, namun Persatuan Koto Aman Menggugat (Pekam) tetap ngotot agar permasalahan lahan mereka yang diduga dirampas oleh PT. Sekar Bumi Alam Lestari (SBAL) segera diselesaikan.
Seperti dijelaskan Koordinator Aksi, Afrianto, hari ini Jum’at (5/4/2019) merupakan hari ke lima mereka melakukan aksi terkait 2000 Ha yang digarap oleh PT. SBAL itu.
Sebelumnya pria yang kerap disapa Anton ini mengungkapkan, mereka sempat melakukan aksi di Pekanbaru. “Kita sudah melakukan aksi sejak tanggal 4 hingga 20 Maret bulan lalu. Namun kami pulang tidak membawa hasil,” kata dia, Jum’at (5/4/2019) kepada Nadariau.com, via Whatsapp.
Dirinya dan kawan-kawan merasa mendapat kejutan di hari ke lima ini. Mereka tercengang saat melihat pihak perusahaan mengeluarkan hasil panen sawit berupa Tandan Buah Segar (TBS)
“Kendaraan pengakut milik perusahaan kata Anton, tertahan tidak bisa keluar hingga koorporasi perkebunan sawit itu mendatangkan beberapa orang yang berpakaian bebas/preman dan Satpam PT. SBAL untuk membubarkan dan membuka blokade yang dilakukan oleh masyarakat.
Aksi ini sudah berlangsung semenjak 2017 lalu, ada dugaan pembiaran intervensi preman kepada masyarakat oleh pihak keamanan di dikarenakan tidak ada pengamanan dari pihak berwajib, tambah Anton.
Sebelumnya masyarakat ini sempat melakukan aksi hingga lebih dari 14 hari di Kota Pekanbaru, ketika itu mereka berharap agar tuntutan mereka didengar oleh Presiden Jokowi.
Namun entah kenapa waktu itu, mereka memulangkan diri ke desa mereka setelah sebelumnya sempat melakukan pertemuan dengan Wakil Gubernur Riau Edy Natar.
Menurut Anton, pada pertemuan tersebut pihak perusahaan menanyakan soal alas hak masyarakat atas lahan yang disengketakan, dan atas dasar tersebut menurut Wagub masyarakat tidak punya hak hingga harus pulang dari aksi menginap di kolong jembatan layang di Sudirman Pekanbaru ketika itu.
Namun seakan tidak mau menyerah begitu saja, masyarakat kembali melakukan aksi unjuk rasa dan memprotes pihak perusahaan. Bahkan mereka kembali menduduki kawasan yang berkonflik.


