Senin, November 2, 2026
BerandaKepriTantangan Lembaga Pendidikan Islam dalam Menghadapi Perkembangan Teknologi dan AI

Tantangan Lembaga Pendidikan Islam dalam Menghadapi Perkembangan Teknologi dan AI

Oleh: Siti Aisyah

Pendidikan Islam di era digital menawarkan peluang yang tak terbatas dalam memperluas aksesibilitas, mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif, dan memperkuat pemahaman agama.

Penggunaan teknologi digital dapat menjadi alat yang kuat dalam menjembatani kesenjangan pendidikan dan memperkuat pemahaman agama dalam masyarakat yang semakin terhubung secara global.

Salah satu peluang besar dalam pendidikan Islam di era digital adalah aksesibilitas yang lebih luas dan global. Dengan adanya teknologi digital, individu dari berbagai belahan dunia dapat mengakses sumber daya pendidikan Islam yang berkualitas tinggi. Dalam beberapa klik, seseorang dapat mengakses teks-teks klasik, tafsir Al-Quran, hadis, dan literatur Islam lainnya yang memperkaya pemahaman tentang ajaran agama.

Hal ini juga memungkinkan penyebaran pengetahuan agama secara global, menciptakan kesadaran dan pemahaman yang lebih luas tentang Islam di tengah-tengah masyarakat yang semakin terhubung.(Indriani & Firdian, 2021) Teknologi digital juga membuka pintu bagi metode pembelajaran yang lebih interaktif, kreatif, dan menarik dalam pendidikan Islam.

Dengan adanya multimedia, seperti video, animasi, dan gambar, konsep-konsep agama dapat dipresentasikan dengan cara yang lebihvisual dan memikat. Platform online dan media sosial memungkinkan interaksi langsung antara siswa dan pendidik, memfasilitasi diskusi, pertukaran ide, dan kolaborasi antara sesama umat Muslim di seluruh dunia.

Ini menciptakan ruang untuk berbagi pengetahuan, memecahkan masalah bersama, dan memperkuat pemahaman tentang agama.(Susyanto, 2022)
Lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi sejumlah tantangan di era digital, di antaranya: Pembentukan Karakter Siswa di Tengah Arus Digitalisasi Pengaruh negatif dari media sosial, seperti pergaulan bebas, kekerasan, radikalisme, perundungan, dan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan, sangat memengaruhi perkembangan karakter generasi muda.

Selain itu, ketergantungan pada gawai dan media sosial membuat anak-anak cenderung mengabaikan interaksi sosial di dunia nyata. Menyikapi Perubahan Sosial dan Budaya
Globalisasi dan gaya hidup modern yang berbasis digital sering kali bertabrakan dengan ajaran Islam.

Lembaga pendidikan Islam dituntut untuk membimbing siswaagar mampu menyaring pengaruh budaya asing dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sosial mereka.

Penguatan Moral dan Etika dalam Dunia Digital Pemanfaatan teknologi yang tidak bertanggung jawab, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan konten pornografi, bisa merusak akhlak generasi muda. Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan untuk memberikan pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai moral dan etika dalam penggunaan teknologi.

Tantangan Mengatasi Radikalisme dan Ekstremisme Media sosial menjadi saluran utama penyebaran ideologi radikal, dan anak-anak muda yang belum memiliki pemahaman agama yang kuat cenderung lebih mudah terpengaruh oleh paham-paham ekstremis tersebut.(Khairunnisa et al., 2024) Rendahnya Literasi Digital di Kalangan Pendidik dan Siswa
Walaupun teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, masih banyak guru yang belum memiliki keterampilan digital yang memadai.

Kesulitan dalam menggunakan perangkat seperti komputer, tablet, atau aplikasi pembelajaran daring masih sering terjadi, terutama karena kurangnya pelatihan dari lembaga terkait.

Banyak guru pun masih lebih nyaman dengan metode konvensional dan enggan beralih ke sistem digital.(Ftik et al., 2024) Secara keseluruhan, dunia pendidikan Islam di era digital dihadapkan pada tantangan yang kompleks dan perlu ditangani secara bersama oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah, sekolah, guru, siswa, dan orang tua.

Masalah literasi digital yang rendah, pengaruh negatif media sosial, kurangnya konten yang mendidik, kesenjangan akses teknologi, hingga minimnya regulasi adalah faktor-faktor yang harus segera diatasi. Jika tidak, nilai-nilai Islam yang seharusnya ditanamkan melalui pendidikan agama berisiko tidak tersampaikan secara optimal kepada generasi penerus.(Prayetno, 2025)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer