OLEH: Yuniandono Achmad. GAMBAR: Kim Ga Eun (Korea Selatan), tanpa diduga mengalahkan Chen Yu Fei (Tiongkok) di partai final piala Uber 2026. Picture from https://bwfthomasubercups.bwfbadminton.com.
SEPEKAN setelah paripurnanya kejuaraan Thomas-Uber Cup 2026. Wakil Ketua Umum PBSI (Pengurus Bulutangkis Seluruh Indonesia), Taufik Hidayat, mengadakan jumpa pers. Taufik memberi penjelasan mengenai kegagalan tim Thomas Uber di kota Horsens (Denmark) yang berlangsung awal Mei lalu. Namun ada beberapa hal yang terlewat dari keterangan wakil PBSI ini.
Taufik Hidayat banyak menyoroti kekalahan dua kali Alwi Farhan. Yang kemudian ditambah penjelasan Eng Hian selaku pelatih kepala bahwa Alwi memiliki detak jantung sangat kencang ketika melawan Alex Lanier, atlet muda Perancis. Alwi menanggung beban berat setelah di partai pertama, Jonatan takluk di tangan Popov.
Menurut saya sumber kekalahan awal kita sebenarnya saat bertanding melawan Thailand -sebelum melawan Perancis. Kita memang menang 3-2 tapi disitulah letak kelengahan kita. Karena, pertama, mestinya kita bisa menang 4-1. Kemudian yang kedua: Akibat “hanya” menang tipis 3-2 maka Thailand sudah pasti lolos. Hal itu dikarenakan pada partai sebelumnya negeri Gajah Putih menang 4-1 melawan Perancis. Yang ketiga barangkali menganggap enteng lawan -karena pada partai pertama Perancis takluk 1-4 di tangan Thailand.
Pada partai melawan Thailand, tunggal pertama mepertemukan Jonatan “Jojo” Christie versus Kunlavuth Vitidsarn. Saat melawan pemain nomor dua dunia itu, Jojo sudah mencapai match point di set ketiga. Jojo ambil angka 20 terlebih dahulu, akan tetapi bisa disamakan Kunlavuth Vitidsarn menjadi deuce 20-20. Akhirnya Jojo kalah 20-22.
Kekalahan Alwi atas tunggal kedua Thailand, Panitchapon Teeraratsakul menurut saya masih bisa ditolerir. Panitchapon Teeraratsakul mempersiapkan benar penampilan di ajang beregu ini. Setelah dirinya selalu gagal di final turnamen individu (dua diantaranya melawan Alwi dan Ubed). Namun di Denmark ini Teeraratsakul mampu 100 persen membukukan kemenangan. Yang dikalahkan pun tidak main-main: Lanier dari Perancis, Magnus Johansen (Tuan rumah Denmark) dan Alwi Farhan sendiri.
Menang tipis dari Thai, namun yang patut disayangkan adalah partai melawan Perancis. PBSI tidak belajar dari sejarah ketika tahun 2016 memakai dua pemain non pelatnas yaitu Tommy Sugiarto dan ganda Hendra/ Ahsan. Pemain non pelatnas, meski bagus, kita tidak bisa mengontrol perkembangan selama latihan. Sekarang ini kita memakai Jonathan Christie dan Sabar Karyaman Gutama/ Ifahani. Duaduanya mengalami kekalahan saat melawan Perancis.
Meski demikian Jojo juga tidak bisa disalahkan karena memiliki rekor yang kurang bagus melawan Christo Popov. Namun tetap dipaksakan sebagai tunggal pertama. Demikian pula Antony Sinisuka Ginting yang tetap kudu turun -padahal saat Olimpiade paris 2024 lalu, si Toma Junior Popov inilah yang menyingkirkan.
Sementara “arek medure” Zaki Ubaidilah yang bermain apik saat melawan Tailand -tidak diturunkan lawan Perancis. Alwi Farhan kalah melawan pemain seusia, Lanier dari Perancis. Namun yang tidak terekam barangkali selama ini di PBSI, Alwi memiliki rekor bagus tatkala melawan senior. Misalkan tahun lalu tanpa diduga mengalahkan Anders Antonsen di Sudirman Cup. Kemudian sebulan sebelum Thomas Uber digelar, mengalahkan Chou Tien Chen asal Taiwan. Sehingga komposisi yang cocok adalah Alwi, Ubed, baru Ginting. Mengingat Perancis menaruh pemain tunggalnya lebih dahulu, dengan alasan pemain rangkap ganda Popov/ Popov ganda rangking satu Perancis yang ditaruh partai kelima.
Kalau Taufik Hidayat mengatakan semua elemen di PBSI harus introspeksi menyusul kegagalan tim putra/i Indonesia di ajang Thomas Uber Cup. Saya kira instropeksi di kubu PBSI ialah ketidakberanian mengikuti biding tuan rumah beregu. Selain Thomas Uber juga Sudirman Cup (terakhir tuan rumah adalah tahun 1989).
Pernyataan bung Taufik tentang PBSI akan membuka kemungkinan untuk merombak tim kepelatihan di sektor putra. Menurut saya: Tidak perlu. Optimalkan saja pelatih saat ini mengingat mereka mampu mengangkat beberapa pemain muda seperti Alwi dan Ubaidilah ke 20 besar dunia.
Andaikan saja Ubed yang tampil (saat melawan Perancis) andai saja PBSI lebih mempercayai pemain muda. Sesudah semua selesai ini kita hanya bisa berandai-andai. Tim perancis saat kalah di final juga mungkin berandai-andai.
Juara memang disandang oleh tim Tiongkok. Namun “juara” (dalam tanda petik) karena efektif dan efisien adalah tim Thomas Perancis. The Les Blues telah melakukan segala daya upaya, yang di ilmu ekonomi disebut “optimalizing under constraint” mengingat pemain mereka terbatas namun hasilnya luar biasa. Benar-benar mengoptimalkan pemain yang ada. Meski akhirnya kepentok oleh “the great wall” Shi Yu Qi dan kawan-kawan dari Tiongkok.
Partai pembuka Christo melawan Shi adalah pertunjukan epik yang menyuguhkan kualitas bulu tangkis terbaik. Shi Yuqi, yang masih dalam masa pemulihan dari infeksi gastroenteritis yang dideritanya di awal turnamen, tampak sangat kelelahan di sela-sela poin, namun ia bertransformasi saat reli-reli panjang di set ketiga
Christo sempat memimpin 16-14 di gim ketiga, akan tetapi kemenangan tetap digayuh Shi Yuqi. Yuqi mampu menang setelah satu jam laga yang menguras fisik, ditambah dengan cadangan energi yang menipis akibat infeksi lambung (terkena infeksi gastroenteritis), membuatnya sebagai salah satu pemain hebat di era ini -karena 2 (dua) kali membawa Tiongkok meraih emas Thomas.
Skenario terbaik Prancis -memenangkan ketiga nomor tunggal- takluk di tembok besar China. Strategi yang meluluhlantakkan Indonesia, Jepang, dan India tidak berlaku bagi para men single dari Tiongkok. Sebenarnya Alex Lanier tampil gemilang dan menjaga harapan timnya tetap hidup melalui kemenangan telak 21-13 21-10 atas Li Shi Feng. Kemudian giliran Weng Hong Yang melawan Toma Junior Popov, sudah posisi 19-20 untuk keunggulan Weng HY namun servis di tangan Popov. Weng melakukan sebuah tipuan pengembalian bola yang demikian berkelas, membuat lawannya terpaku. Kemenangan kedua di sektor tunggal ini praktis mematahkan semangat juang ganda Prancis, Eloi Adam dan Leo Rossi. Mereka telah mengerahkan segalanya namun takluk di tangan He Ji Ting/ Ren Xiang Yu.
Keberhasilan Prancis mencapai final juga menjadi pelajaran penting tentang strategi beregu klasik: Andalkan sektor tunggal. Tim Prancis mampu menyingkirkan Jepang dan India berkat kekuatan sektor tunggal, terutama keluarga Popov dan Alex Lanier. Strategi mereka hampir berhasil pula di final melawan Tiongkok.
Kegagalan Indonesia bukan semata karena kualitas pemain, tetapi juga karena strategi beregu yang kurang tepat. Dalam turnamen beregu, susunan pemain dan momentum pertandingan jauh lebih penting dibanding ranking individu. Mestinya PBSI lebih berani memberi kepercayaan kepada pemain muda seperti Alwi dan Ubed serta Joaquin/ Indra di partai akhir grup.
Hasil dari Honsens mengingatkan Indonesia bahwa dominasinya di Thomas Cup (juara 14 kali) sangat amat terancam oleh Tiongkok. Jika Tiongkok melakukan hattrick (2024, 2026, dan 2028) maka hanya butuh sekali edisi untuk menyamai prestasi tim Thomas kita.
Tim perancis datang dengan keberanian, yaitu kembali ke strategi klasik beregu. Andaikan kemenangan Perancis melawan Indonesia adalah keberuntungan, maka apa yang pantas untuk kemenangan Perancis atas Jepang 3-0 dan atas India dengan 3-0 juga? Pepatah latin mengatakan “Fortes Fortuna Adiuvat“ artinya keberuntungan berpihak pada yang berani.
Perancis memberi kesempatan pemain muda, berani melakukan taktik pemain rangkap dengan risiko stamina pemain cepat merosot, dan berani mengambil strategi berbeda. Itu keberuntungan yang terencana. Mungkin tim Perancis mengandalkan kata kata ilmuwan asli Perancis bernama Louis Pasteur (1822- 1895) yang pernah mengatakan “Fortune favors the prepared mind”. Keberuntungan bukan murni kebetulan -tetapi hasil dari kesiapan menghadapi peluang.
ditulis oleh Yuni Andono Achmad SE ME pengamat olahraga dari Bogor. Gambar di bawah ini saat penulis mengikuti Reuni 30 tahun Kafegama tanggal 02 Mei 2026 di kampus FEB Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta 


