Rabu, April 29, 2026
BerandaIndeksGoodbye Thomas Cup...

Goodbye Thomas Cup…

oleh: YUNIANDONO ACHMAD. Gambar: Antony Sinisuka Ginting sempat jatuh terduduk kala melawan Toma Popov dar Perancis. Gambar dari https://bwfthomasubercups.bwfbadminton.com/news-single/2026/04

TIM Thomas dan tim Uber kita mengalami nasib yang jauh berbeda. Pemain putra mengawali pertandingan pertama dengan sempurna namun akhir yang tragis. Sementara pemain putri awalnya agak terseok, namun penampilan terakhir di grup sungguh luar biasa.

Tim Uber pada hari pertama hanya menang tipis 3-2 atas tim Kanada. Tim Thomas hari pertama menang telak 5-0 atas Algeria. Di hari kedua tim Uber gentian menang telak 5-0 atas Australia. Sementara tim Thomas sempat ketinggalan 1-2 atas Thailand, sebelum menang 3-2 melalui penampilan gemilang Zaki Ubaidilah yang masih berusia 18 tahun.

Pada hari terakhir, tim Uber menjungkalkan unggulan 3 / 4 yaitu negeri Taiwan dengan 3-2 setelah ketinggalan 1-2 terlebih dahulu. Sementara kontingen putra di luar dugaan, kalah menyesakkan 1-4 melawan juara Eropa, Perancis. Maka pulanglah sang runner up berturutturut selama 2 (dua) kali ini -yaitu 2022 dan 2024. Bahkan sempat meraih gelar ke-14 pada tahun 2020 -yang diadakan tahun 2021 bertepatan pandemi.

Sejarah kurang apik tercipta. Bergabung sebagai peserta kejuaraan Thomas sejak tahun 1958, inilah kali pertama Indonesia untuk tim putra pulang kendang tercepat. Padahal tahun ini PBSI diunggulkan di tempat kedua -di bawah juara bertahan Tiongkok

Apa pasal kekalahan tim Thomas kita ini?

Setidaknya kita bisa menyoroti 3 (tiga) hal. Pertama adalah belum percayanya PBSI ke para punggawa muda. Yaitu kepada para pemain usia 20an tahun. Yang kedua ketidaktenangan di masa poin-poin kritis. Lalu ketiga adalah ketidaksiapan melawan komposisi yang berbeda, atau susunan pemain yang out of the box -seperti saat melawan Perancis.

Gelagat ketidakpercayaan sudah terlihat saat babak sebelumnya -ketika melawan Tailan. Meski menang 3-2 namun PBSI memasang pasangan dadakan Fajar Alfian/ Nicolaus Joaxuin. Menangnya pun beruntung di set terakhir 24-22. Seandainya memang percaya 100 persen, maka pasangan Raymond Indra/ Nicolaus yang musti tampil secara penuh.

Kemudian di partai selanjutnya saat melawan Perancis, PBSI lebih mempercayai Sabar Karyaman/ Reza Isfahani. Kemudian di tunggal, partai ketiga dipercayakan kepada Antony Ginting yang saat ini usia mendekati 30 tahun. Bukannya ke Zaki Ubaidillah yang masih 18 tahun.

Partai ketiga saat melawan Toma Popov, penyakit pemain tua kambuh. Di set ketiga saat unggul 13-11, Ginting kurang seimbang kakikakinya dan terpeleset. Memang hal tersebut bisa juga terjadi pada pemain muda, tetapi yang membedakan adalah proses recoveri pemain muda biasanya lebih cepat.

Terlepas dari semangat Ginting yang memang luar biasa (tampak beberapa kali menahan sakit) untuk bisa unggul 20-19. Namun pelatih Popov sepertinya tahu, dengan memerintahkan pemainnya untuk mengarahkan bola ke sana kemari, agar Ginting berlari mengcover lapangan. Saat deuce 20-20 kemenangan bagi Popov sudah di depan mata. Akhirnya 20-22 untuk kemenangan Perancis sehingga skor tim menjadi bulat sang juara Eropa ini unggul 3-0. Artinya ketiga tunggal putra kita -Jojo, Alwi, dan Ginting- gugur secara masal.

Partai keempat sebenarnya Sabar K Gutama/ Reza Isfahani sempat unggul dan nyaris mendapat set pertama, namun kalah 19-21. Di set kedua bisa mendekat 18-18 (dari tertinggal 11-16) namun ketenangan saat detik terakhir yang menentukan. Lagi lagi kalah. Penonton yang mengikuti kiprah Sabar/ Reza semenjak dahulu sudah tahu, bahwa Reza memang gampang grogi di akhir set.

Ini pertandingan beregu, Bung. Ada varian ketegangan bentuk lain. Mungkin demikian pula yang dirasakan Jonatan Christie saat unggul 20-17 di set ketiga melawan Kunlavuth, malah kalah 20-22. Pun dengan Ginting yang sempat mencapai match point 20-19 melawan Toma Junior Popov.

Di tengah keterpurukan ini memang kita sebagai penonton hanya bisa berkata “Seandainya”. Ya andaikan yang diturunkan adalah pemain yang lebih muda, yaitu Zaki Ubaidilah dan pasangan Raymond/ Indra. Seandainya saja.

Selama ini tim kita hanya berhadapan dengan lawan main yang “normal”, yaitu selang seling antara pertandingan tunggal ganda, lalu tunggal ganda, dan terakhir tunggal. Selama ini sang lawan adalah orang-orang yang spesialis. Single ya single, pemain double ya main ganda saja. Sementara saat ini lawan yang dihadapi adalah tim Perancis yang pemain terbatas. Ada dua pemain rangkap dan -satu lagi si lawan- dalam kondisi tertekan. Perancis harus menang 4-1 (atau bahkan 5-0) untuk bisa lolos ke babak berikutnya.

Bisa jadi kalah juga misalnya memainkan para pemain muda (Zaki Ubaidilah dan Raymond/ Nicolaus) namun akan menjadi pelajaran untuk Thomas 2028 kelak. Atau mungkin 2027 nanti, saat piala Sudirman. Piala yang sudah 37 tahun lamanya bersemayam di negara lain.

Kembali ke paragraf awal. Ungkapan latin menyebut Finis coronat opusyang berarti: Akhirlah yang menyempurnakan pekerjaan. Perbedaan nasib tim Thomas sama tim Uber ini membuktikan ungkapan lainnya: It is not how to start, but how you finish.

ditulis oleh Yuni Andono Achmad SE ME, pemerhati bulutangkis dari Bogor, Jawa Barat

aan-291225-4105e2d9-00dd-496c-baf6-d84f90dbcd0cW

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer