Sabtu, Januari 24, 2026
BerandaIndeksOlahragaPBSI: 2026 Lebih Baik Dari 2025

PBSI: 2026 Lebih Baik Dari 2025

OLEH: Yuniandono Achmad. Gambar dari bolasport(dot)com/ganda-putri-indonesia-dirombak-lagi-2-pasangan-baru-disiapkan

MELIHAT tayangan reels dari PBSI yang muncul di laman FBnya -apabila diperhatikan lebih lanjut ada perihal unik. Video tersebut terkait harapan para pemain di tahun 2026 ini. Dari mulai yang pertama Putri Kusuma Wardani menyuarakan keinginannya di tahun baru, kemudian ganda Fajar/ Fikri, tunggal putra debutan Zaki Ubed, lalu ganda putri Siti Fadia Silva dengan Febriana Dwipuji, berikutnya pemain ganda campuran, terakhir para pelatih ganda putri dan tunggal putri. Yang menarik mereka semua mengatakan “Semoga di tahun 2026 PBSI semakin berjaya”. Kata-kata dan kalimat tersebut sepertinya semacam template yang teksnya tinggal dibaca oleh para pemain.

                   Ketika mengatakan “semakin berjaya” seketika timbul pertanyaan. Apakah memang selama 2025 kiprah pemain PBSI bisa dianggap jaya -sehingga tahun depannya menjadi semakin berjaya (?). Bisa jadi jauh panggang dari api. Selama 2025 hanya pasangan Fajar/ Fikri yang mampu juara super series. Lainnya memang mendapat juara -namun pada level di bawahnya.

                       Kembali ke video PBSI di atas. Hanya coach Nitya Krishinda Maheswari (peraih emas Asian Games 2014) yang barangkali pengucapannya betul. Ia mengatakan semoga PBSI prestasi makin meningkat. Artinya tahun ini memang ada prestasi, dan tahun depan diharap prestasi tambah naik. Mungkin lebih fair mengatakan demikian.

                      Pertanyaan selanjutnya, apakah prestasi PBSI tahun 2025? Selain kemunculan pasangan dadakan Fajar Alfian/ Muh Shohibul Fikri yang juara di China Open (Super 1000), kita cukup tertolong oleh prestasi pemain muda, atau sebut saja pemain debutan. Di Taipei Open (level super 300) sang kampiun adalah Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu. Kemudian tunggal putra Alwi Farhan menjadi juara di Macau Open (Super 300). Alwi juga mendapat emas di Sea Games baik perorangan maupun beregu. Alwi mengalahkan sekondannya, Zaki Ubaidilah di final, setelah Zaki dengan gilang gemilang menundukkan mantan juara dunia asal Singapura, Loh Kean Yew.

                                   Paling fenomenal prestasi selama 2025 adalah pasangan ganda putra Raymond Indra /Nikolaus Jaoquin. Dari awal Januari 2025 menduduki peringkat 302, menjadi peringkat 23 di akhir tahun. Kemenangan prestisius terjadi di bulan November, tatkala Raymond/ Jaoquin menjuarai Australian Open. Kemenangan yang monumental karena menyingkirkan 3(tiga) pasangan Malaysia sekaligus. Pertama pasangan Choong Hon Jian/Muhamad Haikal kemudian Man Wei Chong/Kai Wun Tee, dan di semifinal menghempaskan unggulan kedua Goh Sze Fei/Nur Izzuddin.

                                    Memang pantas disyukuri bahwa keadaan Januari 2026 ini lebih baik dibandingkan kondisi PBSI saat bulan Januari 2025. Kita berharap banyak pada the young guns agar semakin matang dan dewasa di tahun kuda api ini.

Bagaimana tahun 2026?

Di level beregu, tahun 2026 ada kejuaraan Thomas Cup dan Uber di kota Horsens Denmark, lalu Asian Games di Nagoya Jepang. Ketika tahun 2024, tim Thomas dan Uber kita dua-duanya berhasil melaju ke final, sayang hanya menjadi runner up. Menjadi perihal sulit untuk menyamai prestasi tersebut, bisa secara bersamasama melaju ke final. Meskipun itu bukanlah hil yang mustahal. Namun patut diperhitungkan bahwa sebelum perhelatan Thomas Uber ada kejuaraan Asia -yang pada tahun 2024 kita menjadi juaranya.

                    Hasil pertandingan pamungkas akhir tahun, yaitu BWF World Tour Final (WTF) menengarai beberapa hal. Yaitu digdanya pemain Korea di tengah persaingan melawan tuan rumah, Tiongkok. Pemain bayi ajaib Korea yaitu An Seo Young menjadi pemain tersukses, karena hampir merajai (atau “meratui”) semua kejuaraan yang diikuti selama 2025. Demikian pula pasangan ganda putra mereka, Seo Seung Jae/ Kim Won Ho. Di sektor ganda putri tanpa diduga Baek Ha Na/ Lee So-hee bisa menjura di tengah kerumunan pemain tuan rumah China dan bisa memukul ganda gaek Jepang (Fukuyama/ Matsumoto) di partai final.

                          Namun untuk beregu yang dibutuhkan adalah meratanya tim. Korea dapat dikatakan unggul untuk perorangan, akan tetapi di beregu mereka memiliki kesenjangan prestasi dengan pemain di bawahnya. Apalagi di sektor putra, Korea tidak mempunyai tunggal putra bahkan di 20 besar dunia. Tim Tiongkok tetap menjadi unggulan pertama. Meski kalah secara individu dengan Korea, namun pemain mereka merata. Kesempatan tim Thomas Indonesia untuk menyeruak, dengan persaingan ketat melawan tuan rumah Denmark dan kuda hitam Jepang. Untuk piala Uber sepertinya Korea menjadi lawan yang sepadan bagi juara bertahan Tiongkok.

                         Dalam penanggalan/ kalenderisasi ala chinesse tahun 2026 adalah tahun kuda api (Fire Horse). Dalam budaya Tiongkok, binatang kuda melambangkan kebebasan, semangat, kepemimpinan, dan ketekunan. Ketika dipadukan dengan elemen api, karakteristik ini menjadi semakin intens. Tahun ini bukan untuk mereka yang lamban atau ragu-ragu. Semoga para pemain kita demikian juga adanya. Meminjam istilah marsekal Kardono (mantan ketua Umum PSSI era Orde Baru) agar pemain harus memiliki sifat: Ngotot!

ditulis oleh YUNI ANDONO AHMAD, S.E., M.E., kolumnis olahraga di kota Bogor.

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer