Gagal di Negeri Sendiri, What’s Next?

Yuni Andono Achmad, S.E., M.E., (penulis). Picture was taken from BWF https://bwfworldtour.bwfbadminton.com

MENGECEWAKAN melihat hasil wakil Wakil Merah Putih di ajang turnamen termahal di dunia. Pada perempat Final Indonesia Open 2022, hari Jumat Wage (17 Dzulqoidah 1443 Hijriyah bertepatan tanggal 17/6/2022) para pemain kita bertumbangan. Tentunya hasil yang memang menyedihkan bagi atmosfer publik bulutangkis tanah air. Walaupun tidak hanya kali ini Indonesia bernasib apes -tanpa satupun juara sebagai tuan rumah. Namun menjadi catatan tersendiri bahwa mungkin pertama kalinya bahkan -tidak ada wakil sama sekali di partai semifinal.

Dari mulai pasangan harapan baru kita di sektor ganda putri Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Mereka kalah melawan Lee So Hee/Shin Seung Chan -yang merupakan unggulan 2 (dua) asal Korea Selatan- dengan 14-21 19-21. Artinya Lee/ Shin berhasil melakukan revans atas kekalahannya sepekan yang lalu. Lalu pasangan muda Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan kalah dari Aaron Chia/Soh Wooi Yik (unggulan 5 asal Malaysia) dengan 21-14 12-21 20-22. Padahal pasangan kita sudah match point 20-18, namun cedera lutut menerpa Yeremia di set ketiga.

Kemudian pria asli Batak yang lama menjadi barudak Bandung -yaitu Anthony Sinisuka Ginting. Ginting lagi-lagi kalah melawan Viktor Axelsen sebanyak 2 (dua) kali berturut-turut dalam waktu seminggu ini. Lumayan kekalahan kemarin dilalui rubber set, tidak seperti di Indonesia Master yang kalahnya Ginting 2 (dua) set langsung. Then terakhir juara Indonesia Master seminggu lalu, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dihabisi “pasangan baru stok lama” dari Tiongkok, Liu Yu Chen/Ou Xuan Yi dengan 18-21, 18-21.

Asumsi saya -ini mutlak terkait stamina. Bermain selama kurang lebih 2 (dua) pekan memang melelahkan secara fisik. Belum ditambah mental karena publik istora (Istana Olahraga di Senayan) yang selalu mengharapkan kemenangan. Teriakan historis penonton bisa jadi pedang bermata dua. Menjadi dukungan atau malah beban mental tersendiri bagi para pemain agar selelu tampil sempurna.

Seandainya betul memang stamina, maka kita perlu belajar dari langkah PSSI di Sea Games tahun 1991.

Sebelum tahun 1985, sewaktu PSSI dipimpin Kardono, Indonesia belum pernah menjuarai Sea Games cabang olahraga (cabor) sepakbola. Lalu Indonesia menjadi tuan rumah Sea Games tahun 1987. Itulah emas pertama yang didapat sejak keikutsertaan Indonesia di ajang Sea Games mulai tahun 1967.

Tahun 1991, pak Kardono ingin mendapat emas lagi. Uniknya yang dia pilih jadi manajer adalah seorang militer (walau pak Kardono juga marsekal Angkatan Laut) dan memiliki rentang prestasi yang agak aneh untuk manajer sepakbola nasional. Si manajer itu berpengalaman dan berhasil menggiring gajah di Lampung ke rimbanya kembali. Dia adalah I Gusti Kompyang Manila. Lucunya tuan rumah Sea Games tahun 1991 adalah Filipina -di kota Manila. Jadi Manila membawa pasukan ke kota Manila.

Hal itu berbeda dengan Soeweno sebagai “chef de mission” pas olimpiade tahun 1996. Namun tetap gagal maning. Komentar pedas zaman dulu terhadap Soeweno adalah, mungkin Soeweno salah kirim pemain bukannya ke Korea tapi malah ke Kroya (sehingga tim kita hanya mendapat 1 (satu) emas di perhelatan Asian Games Seoul Korea tahun 1986). Jadi kejulidan dan kenyinyiran netizen (dalam tanda petik karena dulu belum ada medsos) memang sudah lama di Republik ini.

IGK Manila berdiskusi dengan pelatih saat itu, Anatoly Polosin dan Vladimir Urin. Hasil diskusi adalah perlu pembenahan fisik. Tim PSSI ketika bermain hanya kuat di babak pertama. Kemudian setelah satu turnamen, selang beberapa minggu turun lagi di turnamen lain -sudah kepayahan lagi. Maka stamina kuncinya. Untuk itu Polosin dan Urin fokus terlebih dahulu di stamina. Pemain digeber dengan latihan fisik yang berat. Banyak pemain yang mundur. Namun yang tetap kuat bertahan, merekalah sang penyumbang emas SG tahun 1991.

Ketika melihat pemain kita gagal total di Indonesia Open kali ini, rasanya kok rindu akan pemikiran IGK Manila dan rindu terhadap pola latihan ala-ala Eropa timur yang menekankan fisik, seperti yang ditanamkan sang coach Polosin Urin di tahun 1991 itu.

Pemain kita sepertinya sudah terkuras di Indonesia Master sepekan sebelumnya. Jadi sekarang menjadi payah. Bahkan ada yang mundur -seperti Praveen/ Melati Daeva.

Sebenarnya China atau RRT (Republik Rakyat Tiongkok) sang raksasa badminton dunia juga sering bernasib kurang baik di turnamen dalam negerinya. Namun minimal ada pemain mereka yang masuk final. Atau mungkin satu partai juara. Sedangkan kita? Tidak ada yang masuk semifinal kali ini.

Untuk itu yang penting adalah proses recovery-nya. Tim bulutangkis Tiongkok pernah gagal di Olimpiade Barcelona 1992 dan Asian Games Hiroshima tahun 1994. Mereka pulang tanpa membawa medali emas. Namun evaluasi segera dilakukan. Hasilnya Olimpiade 1996 sudah mendapat 1 (satu) emas dan kemudian meraih total seluruh emas tahun 2012.

Kemudian China Open 2016, tim Tiongkok juga tidak mendapat gelar juara. Waktu itu pemenangnya adalah Jan O Jorgensen, Pusarla V Shindu, Marcus/ Kevin, Chan Yee Na/ Lee So He dan Tontowi Ahmad/ Lilyana Natsir. Seperti lagu “Gugur Bunga” barangkali fenomena ini positive thinking kita musti jalankan. Kita lihat sebagai: Gugur satu tumbuh seribu. Kita harap meski ada satu yang gugur maka beribu pemain akan muncul kembali.

Meskipun prestasi di Indonesia Open ini cenderung gelap, atau tidak bercahaya. Namun ibarat lorong yang legam, kita harus percaya ada setitik cahaya yang mendorong kita untuk segera keluar dari loronng tersebut. Cahaya apa itu. Siapakah itu? Para pemain ganda kita. Terutama yang muda. Paramudya/ Yeremia mampu mengalahkan pemegang emas olimpiade Tokyo 2020, yaitu Wang Chi Lin/ Yang dari Taiwan. Bahkan nyaris mengalahkan pemegang perunggu olimpiade, Aaron Chia/ Soh Woi Yik dari Malaysia. Demikian pula dengan Leo Rolly Carnando/ Daniel Marthin, dan Apriyani/ Siti Fadila. Kita harapkan tahun depan -atau malah akhir tahun ini- mereka sudah mulai menemukan bentuk permainan dan semakin padu dalam mengarungi top papan atas dunia bulutangkis.

Masih banyak turnamen menjelang. Kuncinya benahi stamina pemain. Agar mampu untuk bertarung dalam satu turnamen ke turnamen lainnya meski selang waktunya dekat. Upayakan recovery secara cepat. Evaluasi pemain yang menthok prestasi dalam dua turnamen ini. Seperti misalnya Bagas/ Fikri, yang setelah menjadi juara All England malah melempem. Kemudian Jonathan Christie yang kalah melawan pemain Tiongkok yang sama berturut-turut, Zhao Junpeng. Juga kepada Shesar Hiren Rustavito, dan pasangan gaek Hendra/ Ahsan.

Artikel opini ini ditulis oleh Yuniandono Ahmad, pengamat olahraga tinggal di Bogor. Sehari-hari mengajar di Universitas Gunadarma di kota Depok. Selain itu menjadi konsultan di beberapa Kementerian/Lembaga di Jakarta.