Dayun Kampung Wisata Berkonsep Kawasan Hijau dan Tempat Olahraga

Siak (Nadariau.com) – Berdasarkan data Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), sebanyak 70.000 desa di seluruh Indonesia pada tahun 2022, telah terjaring sebanyak 3.419 peserta desa desa wisata dari 34 provinsi di Indonesia.

Dari 3.419 peserta desa itu, Kampung Dayun mampu lolos 50 besar. Pencapaian ini tentunya bisa sebagai motivasi untuk terus tetap mengembangkan desa wisata yang berkualitas dan berkelanjutan untuk Indonesia bangkit.

Perjuangan membangun Desa Wisata Kampung Dayun, Kabupaten Siak, Riau berangsur-angsur membuah hasil. Kini desa wisata itu tampil di tingkat nasional, masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.

Sebelumnya, Kampung Dayun merupakan desa tertinggal. Namun, sejak Kepala Desa (Kades) atau Penghulu Kampung Dayun, Nasya Nugrik menjabat, kategori desa itu, naik menjadi desa berkembang, desa maju, dan saat ini telah menjadi desa mandiri.

Awalnya Nasya Nugrik tidak memiliki konsep serius untuk membangun desa wisata. Tapi ia hanya berniat iseng-iseng membangun lokasi untuk mengusir rasa jenuh, bagi warga Kampung Dayun.

“Awalnya kami hanya membuat taman berkonsep kawasan hijau dan tempat olahraga. Pembangunannya berkolaborasi dengan sejumlah perusahaan. Taman ini tujuannya sebagai tempat singgah dan parkir untuk wisatawan masuk ke Taman Nasional Zamrud dan inilah yang menjadi dasar awal,” ujar Nasya, Selasa (31/5/2022).

Di sekitar kawasan taman itu, Nasya bersama Kelompok Sadar Lingkungan (Pokdarling) Kampung Dayun, memanfaatkan embung atau kolam yang awalnya hanya difungsikan untuk pencegahan kebakaran lahan manjadi kawasan wisata.

“Dulu ada pembiayaannya menggunakan anggaran dana desa, melalui program pencegahan kebakaran untuk membuat embung. Fungsinya untuk memadamkan api apabila terjadi kebakaran. Tapi lama kelamaan kebakaran sudah tidak ada. Embung ini akhirnya ditumbuhi semak belukar,” kata Nasya.

“Akhirnya terpikir oleh kami untuk membuat kawasan wisata embung terpadu. Jadi embung ini bisa untuk pencegahan kebakaran, peternakan ikan, dan bisa juga untuk tempat wisata warga sekitar, Nasya menjelaskan.

Nasya membeberkan, keyakinan atau dasar percaya dirinya untuk membuat kawasan wisata ini, adalah dari data jumlah penduduk. Ia menjelaskan, jumlah penduduk Kampung Dayun tercatat sebanyak 12.000 jiwa.

“Jika dalam satu bulan ada satu persen warga yang merasa jenuh dan butuh rekreasi, artinya sedikitnya ada 120 orang yang akan berkunjung ke objek wisata kawasan embung terpadu. Jumlah ini baru untuk satu desa, belum lagi penduduk desa lainnya yang ingin datang berwisata,” beber Nasya.

“Akhirnya kita bangunlah kawasan ini dengan menggunakan dana desa. Kami juga telah membuat Peraturan Desa (PerDes) tentang Pendapatan Asli Desa (PAD) dan Aset Desa. Nilai investasi di kawasan wisata ini sudah mencapai 2 miliar rupiah,” ungkapnya.

Kini objek wisata kawasan embung terpadu Kampung Dayun telah memiliki sejumlah wahana, yakni flyingfox, shaking bridge, monkey bridge, mini outbond sepeda air, kereta putar, mobil remote dan permainan tradisional setempat.

Bahkan sejak dibuka bulan Juni 2021 lalu, jumlah kunjungan wisatawan lokal yang datang bisa mencapai ribuan orang per bulannya. Setiap hari libur wisatawan datang silih berganti dari pagi hingga sore, dengan pengawasan dan imbauan harus mematuhi protokol COVID-19.

“Kami mulai bangkit sejak tahun 2021. Sebelumnya pada tahun 2020 kami tak ada aktifitas sama sekali. Tutup lantaran kasus pandemi COVID-19 sangat tinggi. Pusing kepala kami, karena telah dibangun, namun perawatan harus tetap jalan. Setelah level PPKM turun beberapa bulan ini, akhirnya kami membuka kembali aktivitas wisata ini,” ujarnya.

Upaya membangun Kampung Dayung tidak semudah seperti membalikan telapak tangan. Namun, telah melalui perjuangan keras. Mulai dari sengketa pemanfaatan lahan, meyakinkan pemerintah daerah untuk mendukung pengembangan kawasan wisata dan menggerakan masyarakat sadar wisata.

“Pertama yang dilakukan mengamankan aset. Dulu tanah di sini lama terlantar. Lalu, kami minta ke Pemerintah Kabupaten Siak untuk dihibahkan ke desa. Setelah dihibah ke desa banyak warga yang keras mengakui tanah ini,” ujarnya.

Kemudian, Nasya berusaha meyakinkan perangkat BPBD untuk menjadikan kawasan embung ini untuk jadi objek wisata. Selanjutnya, berusaha mengajak masyarakat sadar wisata.

“Alhamdulillah saat ini bisa berjalan lancar dan bisa mendapatkan pendapatan warga dan PAD,” jelasnya.

Dijelaskan dia, pengerjaan pembangunan aksesibilitas dan amenitas objek wisata embung terpadu Kampung Dayun melibatkan warga desa setempat. Menggunakan dana padat karya tunai desa yang dianggarkan dari pemerintah pusat.

“Kalau melibatkan warga setempat pasti pengerjaannya akan lebih baik. Karena warga itu sendiri yang akan memanfaatkan hasil pembangunan itu. Tapi kalau kita tenderkan ke pihak lain, takutnya kualitas hasil pengerjaannya kurang bagus,” ucap Nasya.

“Harapan kami kepada pemerintah adalah dukungan untuk peningkatan sumberdaya manusia bagi pengelola objek wisata, dukungan pemasaran pariwisata,” tandasnya. (bud)