Fenomena “Pelatnas” ala LKY: Best Practice (?)

Loh Kean Yew

oleh Yuni Andono Achmad, S.E., M.E., dosen dan pemerhati bulutangkis, tinggal di Bogor

Loh Kean Yeaw atau LKY, di usia 24 tahun, secara mengejutkan menjadi juara dunia bulutangkis seminggu yang lalu. LKY menjadi manusia Singapura pertama yang menjadi kampiun kejuaraan dunia badminton. Di final, LKY mengalahkan jagoan India, bernama Kidambi Srikanth, dua set langsung. Pada partai sebelumnya, LKY mengalahkan jagoan Denmark yang lebih diunggulkan -yakni Anders Antonsen. Bahkan sang olimpian, Victor Axelsen, digulung LKY dengan rubber game.

Lawan LKY di final bukan pemain sembarangan. Srikanth Kidambi beberapa tahun lalu memiliki prestasi ciamik, salahsatunya menjadi juara di ajang China Open tahun 2014. bahkan dengan mengalahkan “sang fenomenal” Lin Dan di partai final. Meski menjelang senja (usia 28 tahun) Kidambi masih bisa mengalahkan Jonathan Christie pada turnamen Indonesia Master sebulan yang lalu.

Kehadiran Srikant ini membuat memori warga India kembali ke masa lalu. Pada era Prakash Padukone (tahun 1980-an) atau Pulela Gopichand, sang juara All England di tahun 2001. Kembali ke Lin Dan di atas, LKY juga pernah mengalahkannya final Thailand Master tahun 2019. Namun di Sea Games, LKY hanya sempat mencicipi perak, kalah melawan Johnatan Christie tahun 2019.

Di usia 24 tahun LKY memiliki masa depan yang cukup panjang -bisa jadi masih enam tahun lagi. Atau bahkan lebih. Walaupun banyak model yang sebelumnya, sebagai contoh yang kurang baik. Singapura pernah mendapat emas olimpiade pada tahun 2016 melalui perenang Joseph Isaac Schooling di usia 21 tahun. Namun pada tahun 2021 ini yaitu pada Olimpiade Tokyo 2020, Schooling tersisih pada babak penyisihan. Schooling sebelumnya berlatih di Amerika Serikat, sehingga mendapat emas waktu olimpiade Rio (Brasil), namun ketika lama di Singapura (artinya tidak balik ke Amerika) prestasinya menurun.

Mirip Schooling, LKY juga mengambil latihan di luar negeri. Kalau Schooling ke United States, LKY ke Dubai, Uni Emirat Arab. Dia menjadi murid model “pelatnas” atau pemusatan latihan internasional di Dubai. Pelatnas ini diawali oleh pemain Denmark, Axelsen. LKY mengikuti jejak Victor Axelsen untuk berlatih di Dubai tersebut. Namun Victor Axelsen ini pernah dicemooh oleh media Denmark -terkait pilihannya. Axelsen ke Dubai gegara untuk menghindari pajak. Namun toh begitu, medali olimpiade tetap digayuh. Di sebuah media, LKY menyebut banyak keuntungan berlatih di Dubai, salahsatunya karena bisa berlatih bersama Axelsen.

Apa yang bisa dipelajari dari model LKY ini. Setidaknya ada 2 (dua) hal. Pertama kita bisa memfasilitasi pemain kita untuk berlatih ke Dubai. Kedua, kita bisa menjadi “Dubai” itu sendiri.

Untuk pilihan pertama, yaitu memfasilitasi pemain untuk ke Dubai, syaratnya adalah pemain yang non pelatnas. Atau mungkin pemain yang terdegradasi dari pelatnas. Keuntungan “model” Dubai ini ialah mereka tidak mengekang kewarganegaraan pemain yang bersangkutan. Seperti Axelsen dan LKY tetap memakai nama negara di punggung kaosnya.

Sampai sejauh ini, sistem Pelatnas ala PBSI masih dianggap sebagai yang terbaik. Ada mekanisme promosi dan degradasi. Pembinaan awal dari klub, kemudian PBSI mengadakan serangkaian turnamen nasional (di bawah satelit ala BWF/ Badminton World Federation). Dari kejuaraan itu akan dipilih pemain yang sekiranya cocok masuk pelatnas. Beberapa klub yang maju, bahkan berani untuk menyeponsori pemainnya agar bermain ke luar negeri.

Selain pemain, bisa juga pelatih yang kita kirim. Rexy Mainaky bisa jadi best practice untuk hal ini. Rexy pernah melatih Inggris, kemudian Malaysia, Filipina, dan ditarik Ketum PBSI Gita Wiryawan saat itu untuk menjadi pelatih utama. Prestasi Rexy adalah membawa Tantowi/ Lilyana meraih emas Olimpiade 2016 setelah kita “zonk” pada tahun 2012.

Kemudian kedua, kita bisa menjadi “Dubai” itu sendiri. Banyak yang tidak sadar bahwa barangkali suporter bulutangkis kita adalah nomer satu di dunia -mengalahkan Tiongkok. Hal tersebut yang harus kita optimalkan. Kita perlu menggelar kompetisi berbasis klub yang rutin, seperti atau meniru kompetisi di liga sepakbola Eropa. Kalau perlu sepekan sekali ada home and away klub untuk bermain full kompetisi. Pada tahap awal, kompetisi rutin ini bisa khusus diperuntukkan level pratama atau yunior. Misalnya di bawah 19 tahun.

Seandainya tidak sistem klub seperti di atas, bisa saja perseorangan (individu) dengan skala turnamen satelit. Kita memiliki 2 (dua) turnamen level series, yaitu Indonesia Master dan Indonesia Open -yang bahkan levelnya super series. Turnamen individu tersebut perlu dilengkapi dengan kejuaraan yang level di bawahnya namun rutin.

Maka banyak pembelajaran yang diambil dari keberhasilan LKY ini. Salahsatunya adalah keikutsertaan LKY di “pelatnas” sistem internasional, yakni di Dubai UEA. Bisa jadi akan menjadi model ke depan: pelatnas internasional. Ia akan mengalahkan eksistensi pelatnas yang dimiliki hampir semua negara bulutangkis dunia -terutama dari Asia Tenggara. Karena pelatnas internasional menjadi cara pemain untuk belajar sistem kepelatihan dunia. LKY menjadi contoh tauladan siswa didik pelatnas ala Dubai tersebut.(***)