Legacy dari Seorang Verawaty

Verawaty Fajrin sang legenda (Istimewa)

 

olehYuniandono Achmad, pemerhati bulutangkis, tinggal di Bogor

SUDAH satu pekan berselang dari meninggalnya legenda bulutangkis wanita Indonesia, Verawaty Fajrin binti Wiharjo. Almarhumah dipanggil ke haribaan-Nya pada hari Minggu tanggal 21 November 2021, bertepatan dengan Ahad Legi, 16 Rabiul Akhir 1443 Hijriyyah.

Beliau merupakan putri pertama Indonesia yang menjadi juara dunia bulutangkis, tepatnya di tahun 1980. Prestasi yang baru bisa disamai Susy “Super” Susanti pada tahun 1993. Sesudah itu, entah sampai kapan lagi tunggal putri kita bisa menjadi juara dunia lagi.

Ada satu prestasi yang belum bisa disamai oleh tim bulutangkis Indonesia sampai saat ini -dan Hj Verawaty menjadi bagian sentral di dalamnya- yaitu merebut Piala Sudirman. Kejuaraan beregu campuran dunia tersebut diraih Indonesia pada tahun 1989, dan Verawaty menjadi salah satu pemain yang diandalkan PBSI saat itu. Verawaty terjun di dua nomor, yaitu ganda putri (bersama Yanti Kusmiati) dan ganda campuran -bersama Edy Hartono.

Menyebut nama Verawaty tentunya mengingatkan pada duo “Maksi Mini”, sang bintang pada perebutan Uber 1986 di Jakarta. Mereka adalah Verawaty dan Yanti Kusmiati. Verawaty Fajrin bertinggi badan 178 senti disebut si “maksi”. Sementara Yantie Kusmiatie yang tingginya -orang bilang: Semampai atau seratus enampuluh tak sampai- disebut Si Mini.

Meski Indonesia hanya juara dua (runner up) pada saat ajang Uber 1986, namun pasangan Maksi Mini ini menarik perhatian tersendiri. Pada kejuaraan Sudirman tahun 1989, mereka diturunkan lagi. Verawati main merangkap. Vera/ Yanti Kusmiatie diturunkan sebagai pemain kedua di ajang Sudirman Cup, namun kalah. Akan tetapi pada partai terakhir ketika kedudukan 2-2, Verawaty bermain ganda campuran bersama Edy Hartono. Mereka menang straight set sehingga untuk pertama kali (dan satu satunya sampai sekarang) Indonesia mendapat Sudirman Cup.

Di berbagai media massa telah banyak mantan pemain -dan mantan anak asuh saat Verawaty menjadi pelatih Pelatnas (mundur tahun 2012)- mengenang kepribadian dan metode latih bu Verawaty. Diantaranya disiplin, cenderung galak, namun bisa bercanda kalau di luar lapangan. Kemudian kira kira apa lagi warisan ilmu dari almarhumah Verawaty Fajrin?

Warisan (legacy) dari Verawaty adalah kemampuan pemain untuk merangkap. Beliau selain pemain tunggal, juga main di ganda putri -dan campuran. Padahal saat tahun 1989 itu usia almarhumah udah mencapai 32 tahun, setara dengan Greysia Polii waktu mendapat emas olimpiade 2021 ini -yang berpasangan dengan Apriyani Rahayu. Artinya dalam usia yang tergolong “sepuh” untuk pemain bulutangkis, bu Vera masih bisa main rangkap.

Kemampuan merangkap ini di kejuaraan beregu terakhir kali dipraktikan saat kepala pelatih PBSI dijabat Rexy Mainaky yang menurunkan Lilyana Natsir untuk turun di sektor ganda campuran dan ganda putri. Saat itu perempat final Sudirman Cup 2013, Indonesia melawan Tiongkok. Meski kalah 2-3, tapi poin tersebut merupakan angka tertinggi yang bisa diraih lawan Tiongkok -yang akhirnya menjadi juara.

Persoalan merangkap tidak hanya merupakan problematikan sederhana. Tapi ada satu debirokratisasi yang harus dijalankan. Selama ini semacam ada segmentasi pelatih di Pelatnas. Misalnya coach Herry IP hanya mengurusi ganda putra, Hendry saputra hanya tunggal putra, Eng Hian untuk ganda putri, kemudian Nova Widianto hanya ganda campuran.

Struktur birokratis semacam itu sangat susah memunculkan  pemain merangkap. Memang pelatih kepala sangat berperan untuk memiliki final decision -namun situasinya di PBSI, pelatih per sektor adalah orang lama yang telah bertahun tahun melatih di pelatnas. Pelatih kepala berganti ganti. Birokratis yang sangat rigid demikian susah menghasilkan “permainan lintas sektor” alias pemain rangkap. Belajar dari Sudirman Cup 1989, dengan pemain rangkap maka susunan pemain bisa sedikit diacak. Keistimewaan atau previelege bisa diberikan kepada pemain yang merangkap -dia bisa main di partai pertama dan partai terakhir.

Belajar dari kasus Tantowi Ahmad, saat pasangannnya -Lilyana Natsir- mengundurkan diri dari bulutangkis (tahun 2019). Hasilnya tragis bagi Tantowi alias Owi. Si Owi tidak mendapat pasangan baru. Padahal sebenarnya bisa dipasangkan dengan pemain ganda putri (sebelumnya pernah dicoba dengan Apriyani Rahayu), namun sepertinya ego sentris pelatih antar sektor menghalangi.

Pelatih kepala PBSI saat itu juga tidak mengambil langkah solutif untuk mengatasi kebekuan tersebut. Tantowi Ahmad tidak main di even internasional sampai saat ini. Atau kalau sebenarnya mau out of the box, Tantowi bisa juga dipasangkan dengan pemain ganda campuran untuk bermain ganda putra -misal Praveen Jordan. Nova Widianto -sang maestro campuran- pernah diturunkan sebagai pemain ganda putra saat perebutan Thomas 2012, dengan Alvent Yulianto. Atau malah Tri Kusharjanto (peraih perak ganda campuran Olimpiade Sidney 2000) pernah dipasangkan dengan Halim Haryanto bermain di ganda putra pada Thomas tahun 2002.

Pemain rangkap ini telah lama secara intensif dipraktikan oleh Jepang dan Tiongkok. Sewaktu Korea mendapat Piala Sudirman tahun 2017 juga karena adanya pemain rangkap di timnya. Syarat internal adalah kondisi fisik pemain yang harus prima. Sedangkan aspek eksternalnya adalah cairnya struktur birokrasi kepelatihan di pelatnas.

Bisa jadi tugas selanjutnya adalah bagi 2 (dua) pihak. Bagi PBSI, harus merombak birokrasi kepelatihan agar lebih cair. Kemudian kedua, bagi pelatih kepala PBSI (saat ini dipegang Rionny Mainaky) harus mampu tegas untuk menekan pelatih per sektor agar mengikhlaskan pemainnya main rangkap. Tidak ada salahnya mencoba, terutama apabila PBSI mau merebut Sudirman Cup tahun 2023. Masih ada waktu.

Ada legacy berikutnya dari seorang Verawaty. Yaitu: Atlet itu layaknya tentara, siap diturunkan di sektor mana saja.