Ayo Lindungi Diri dan Keluarga dari Bahaya Covid 19!

Aceh (Nadariau.com) – Sejak Covid-19 pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020 dengan penemuan dua kasus, kini kasus Covid-19 kian meningkat. Penambahan jumlah kasus ini berlangsung cukup cepat dengan tingkat penyebaran dan tingkat kematian yang tinggi.

Dikutip dari laman covid19.go.id per 08 November 2020, terdapat 433.836 kasus terkonfirmasi positif di Indonesia dan 14.540 kasus kematian. Serta dari peta sebaran kasus per provinsi, Riau sendiri menduduki urutan ke 7 dari 34 provinsi dengan jumlah 15.586 kasus terkonfirmasi dan kematian mencapai 360 kasus.

Dalam kondisi saat ini, Covid-19 bukanlah suatu wabah yang bisa diabaikan. Karena bagi analisis kedokteran penyakit ini cukup berbahaya dan mematikan.

Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) adalah infeksi turunan coronavirus baru yang terkait dengan keluarga virus yang sama dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Badan Kesehatan Dunia (WHO) memberi nama virus baru tersebut dengan Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2).
Coronavirus ini merupakan virus RNA dengan ukuran partikel 120-160 nm dan termasuk dalam genus betacoronavirus. Virus ini bersifat sensitif terhadap panas dan secara efektif dapat diinaktifkan oleh disinfektan yang mengandung klorin, eter, alcohol, asam perioksiasetat, detergen-non ionik dan kloroform.

Inilah alasan mengapa desinfektan efektif untuk membersihkan permukaan benda seperti meja, kursi, lantai dan tembok dari paparan virus. Serta pentingnya mencuci tangan dengan sabun selama 30 detik untuk mematikan virus.

Berdasarkan data yang sudah ada, lansia dan orang dengan gangguan kesehatan kronis, seperti hipertensi dan diabetes melitus. Lalu jenis kelamin laki-laki dan perokok aktif merupakan faktor risiko dari infeksi virus ini. Serta beberapa faktor risiko lain yang ditetapkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat adalah kontak erat. Termasuk tinggal satu rumah dengan pasien COVID-19 dan riwayat perjalanan ke area terjangkit.

Untuk masa inkubasi atau waktu yang diperlukan sejak tertular/terinfeksi hingga muncul gejala Covid-19 diperkirakan antara 1-14 hari dengan rata-rata 5-6 hari. Dan perkiraan ini dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan kasus.

Saat ini, penyebaran corona virus dari manusia ke manusia menjadi sumber penularan utama sehingga penyebaran menjadi lebih agresif. Virus ini ditularkan melalui kontak langsung dengan percikan dari saluran pernapasan yang keluar saat batuk, bersin ataupun berbicara pada orang yang terinfeksi dengan covid 19 ini. Dalam medis penularan ini dikenal dengan istilah droplet.

Hal ini disampaikan pula oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan bahwa percikan pernapasan ketika seseorang batuk atau bersin masih cenderung menjadi cara penularan utama yang menyebabkan covid-19. Lalu, orang-orang juga dapat terinfeksi karena menyentuh permukaan yang terkontaminasi virus ini dan menyentuh wajahnya seperti mata, hidung dan mulut.

Infeksi Covid-19 dapat menimbulkan gejala ringan, bahkan tidak disertai demam. Namun ada pula yang merasakan gejala sedang sampai berat. Jadi tiap gejala penderita berbeda-beda tergantung usia, daya tahan tubuh, dan kondisi kesehatannya secara menyeluruh.

Gejala klinis utama yang muncul berupa demam, batuk dan kesulitan bernafas. Selain itu dapat disertai dengan sesak memberat. Kelemahan, nyeri otot dan diare. Pada kasus berat perburukan terjadi secara cepat dan progresif yang bisa berakhir pada kondisi kegawatdaruratan berupa Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Yaitu kondisi dengan gejala sesak napas berat dan sulit bernapas yang mengancam jiwa.

Lalu syok septik yang menyebabkan gangguan sirkulasi karena adanya peradangan pada seluruh tubuh. Serta perdarahan atau disfungsi sistem koagulasi yang bisa berlangsung dalam beberapa hari.

Penularan Covid-19 dapat dicegah dengan memutus rantai penularan dengan mematuhi protokol kesehatan. Hal ini ditegaskan pula oleh Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo yang mengatakan bahwa implementasi daripada perubahan perilaku untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 tersebut adalah melalui disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

Kekuatan masyarakat berupa perubahan perilaku dengan menerapkan protokol 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan) ini dapat menjadi ujung tombak dalam upaya memerangi penyebaran dan penularan Covid-19.

Nyatanya mengubah perilaku masyarakat ini merupakan tantangan terberat dalam menghadapi virus ini. Berbagai protokol kesehatan masih sering diabaikan oleh masyarakat sekitar. Hal ini diketahui dari pengamatan yang dilakukan dilingkungan masyarakat, yang mendapati masyarakat masih kurang peduli dengan pemberitahuan utuk jaga jarak dengan orang sekitar.

Biasanya titik keramaian tanpa memperhatikan physical distancing ini adalah pusat perbelanjaan seperti pasar dan minimarket serta tempat makan seperti cafe masih menjadi tempat untuk berkumpul. Sama halnya dengan menjaga jarak, pemakaian masker dan cuci tangan pun belum mayoritas orang yang menerapkan dalam kebiasaan barunya.

Sungguh suatu hal yang tak boleh dianggap remeh, terlebih dari peta sebaran kasus per provinsi, Riau sendiri menduduki urutan ke 7 wilayah yang berisiko besar untuk penularan. Oleh karena itu, penting sekali kesadaran untuk melakukan tindakan pencegahan bagi diri sendiri dan keluarga agar terhindar dari covid-19 ini.

Cara yang bisa dilakukan untuk mencegah tertularnya virus ini adalah dengan menjaga kesehatan dan kebugaran agar tubuh selalu fit seperti berolahraga lari dan bersepeda untuk membentuk sistem kekebalan tubuh yang baik, namun tetap menjaga jarak dan mengurangi kontak fisik dengan banyak orang.

Lalu juga perbanyak buah-buahan dan sayuran agar membuat tubuh semakin sehat. Hindari pemakaian alat makan bersama (seperti sendok, garpu dan gelas), Serta selalu mencuci tangan secara teratur menggunakan air dan sabun.

Manfaat mencuci tangan sampai bersih selain dapat membunuh virus yang mungkin ada di tangan, dapat pula menghentikan penyebaran penyakit yang bersumber dari tangan.

Menjaga jarak atau menghindari kontak dengan orang lain saat bepergian ke tempat umum juga dapat menjadi poin utama untuk memutus penularan, karena dengan physical distancing atau jaga jarak dapat menekan laju penularan angka infeksi virus corona.

Selanjutnya hal yang tidak boleh dilupakan adalah pemakaian masker. Masker yang digunakan dengan benar bisa membantu mencegah virus dan bakteri yang menyebar melalui percikan atau cairan yang keluar saat  bersin atau batuk dan selalu ingat ketika batuk dan bersin, tutup hidup dan mulut dengan tisu atau lengan atas bagian dalam (bukan dengan telapak tangan). Buang tisu dan masker yang digunakan ke tempat sampah dengan benar dan jangan lupa cuci tangan.

Hindari bepergian ke luar rumah saat merasa kurang sehat. Terutama jika merasa demam, batuk dan sulit bernapas. Istirahat yang cukup agar tubuh membaik. Tetapi jika keluhan berlanjut segera hubungi petugas kesehatan terdekat atau datang berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan dengan mematuhi protocol. Seperti memakai masker, mematuhi etika batuk dan bersin yang benar, serta jangan menggunakan transportasi masal.

Apabila merasa sehat namun ada riwayat perjalanan 14 hari yang lalu ke tempat dengan transmisi local covid-19. Maka lakukan monitoring secara mandiri atau lakukan isolasi mandiri. Dan jika merasa pernah kontak dengan kasus konfirmasi covid-19 segera lapor ke petugas kesehatan dan periksa ke fasilitas layanan kesehatan.

Penulis : Yolanda Restiani – Mahasiswi KKN PKP (KKN Angkatan ke -28) Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Dibawah bimbingan dr Rizka Sofia MKT

Referensi :

1. Data COVID-19 Indonesia [Internet]. Satuan Tugas Penanganan COVID-19. 2020. Available from: https://covid19.go.id/

2. Harahap DA Upaya Memutuskan Rantai Penularan Covid-19. 2020

3. UNICEF Pesan dan Kegiatan Utama Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 [Internet] 2020, Available from: https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/pesan-dan-kegiatan-utama-pencegahan-dan-pengendalian-covid-19-di-sekolah—indonesian–march-2020.pdf?sfvrsn=5cdfea17_2

4. Susilo A, Rumende CM, Pitoyo CW, Santoso WD, Yulianti M, Herikurniawan H, et al. Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur Terkini. J Penyakit Dalam Indonesia. 2020;7(1):45.

5. Apakah coronavirus bertahan lebih lama di udara daripada yang diperkirakan sebelumnya? [Internet]. covid-19 fact. Available from: https://www.covid-19facts.com/?p=84800&lang=id

6. Yuliana. Corona Virus Disease (Covid-19). Wellness Heal Mag. 2020;2(February):124–37.

7. COVID-19 TKPSTP. Doni Monardo: Perubahan Perilaku Adalah Cara Memutus Rantai Penularan COVID-19 [Internet]. Jakarta; 2020. Available from: https://covid19.go.id/p/berita/doni-monardo-perubahan-perilaku-adalah-cara-memutus-rantai-penularan-covid-19

8. Kementerian Kesehatan RI. Protokol Kesehatan Covid-19. stoppneumonia.id [Internet]. 2020; Available from: https://stoppneumonia.id/protokol-kesehatan-covid-19/