Pelajar Indonesia di Universiti Sultan Zainal Abidin Terengganu Malaysia Taja Buka Bersama

Terengganu (Nadariau.com) – Pelajar Indonesia di Universiti Sultan Zainal Abidin Terengganu Malaysia adakan bukan puasa bersama Selasa (14/5/2019). Buka puasa bersama ini diadakan di Medan Selera UniSZA kampus Gong Badak Kuala Terengganu.

Acara ini dihadiri belasan pelajar dari tingkat Master dan Doktoral. Selain buka puasa acara ini gunakan untuk syukuran bagi pelajar yang sudah melakukan sidang Viva voice atau Sidang Kompre.

Pada saat ini ada tiga orang studen yang baru saja menyelesaikan sidangnya yakni Afriani Maifizar untuk tingkat Doktoral (PhD), Edyan Saputra untuk tingka Master keduanya dari Fakulty Sains Social, satu orang lagi,  tingkat master, Tengku Muhammad Nasir dari Fakulti Islamic Contemporary.

Doktor Rian begitu panggilan akrab dari Afriani mengungkapkan bahwa perjuangan untuk mengambil gelar doktor bukan hal yang mudah banyak aral yang melintang tetapi karena tetap fokusnya bisa meraih gelar tersebut.

“Saya akui bahwa meraih predikat doktor itu tidak mudah tapi dengan ketekunan dan fokus allhamdulilah akhirnya selesai juga,” ujar Rian, yang melakukan studi selama 4,5 tahun.

“Bukan masalah kapan kita memulai tapi kapan kita mengakhiri dengan indah,” kata Rian berfilosofis. Ia mengaku harus bisa berperan ganda sebagai   seorang ibu, seorang dosen, seorang istri dan juga seorang pelajar yang ingin meraih mimpi.

Pelajar yang juga dosen di Universiti Teuku Umar Meulaboh ini mengaku sangat senang tinggal di Terengganu, karena penuh dengan nilai keislaman yang sangat mirip dengan kondisi di Aceh.

Hal senada yang disampaikan oleh Tengku Nasir juga merasa sangat senang bisa tinggal di Terengganu. Menurutnya nilai keislaman di Negeri Terengganu sangat melekat di dalam jiwa masyarakat, ajaran Islam seperti sholat berjamaah dan puasa sunnah adalah amalan sehari.

“Saya merasa sangat bahagia bisa bersama hidup dengan rakyat Terengganu karena begitu islami, Islam bukan hanya dimulut tapi diamalkan,” ujar Tengku Nasir.

Menurutnya kebiasan puasa sunah senin kamis sudah merupakan hal umum sehingga kedai maupun cafe banyak menyediakan makanan gratis.

Bukan hanya itu Terengganu juga merupakan salah negeri yang menerapkan hukum islam untuk waktu libur tidak seperti umumnya Terengganu menerapkan hari libur Jumat dan Sabtu bukan Sabtu dan Minggu.

Ia menambahkan bahwa selama kuliah dia tidak hanya belajar di kelas atau melakukan riset tapi juga akhif dalam kehidupan sosial di Terengganu seperti menjadi Imam di Mesjid Kampung.

“Saya bekerja sambil kuliah lho sebagai pencuci piring di Kantin, Pekerjaan yang dipandang enteng tapi alhamdulilah bisa mengantar saya meraih gelar master,” ujar Tengku Nasir.

Salah satu mahasiswa Indonesia yang sudah menetap di Terengganu karena menikah dengan wanita tempatan, Deni, mengaku sangat senang dengan kegiatan ini karena dapat menyatukan para pelajar yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

“Tapi sayang semakin tahun jumlah mahasiswa Indonesia bukan semakin banyak tapi semakin berkurang, saat ini saja hanya dua mahasiswa yang mendaftar untuk program master, dia berharap di tahun mendatang mahasiswa Indonesia semakin ramai,” harapnya.

Ia juga berharap agar segera terbentuk Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) yang resmi. Karena dengan jalur resmi tersebut dapat diakui oleh negara. maka suara pelajar Indonesia lebih di dengan daripada hanya menggunakan jalur informal, selain itu organisasi resmi juga membuat kegiatan menyambut mahasiswa baru lebih terorganisir dan formal.

Universiti Sultan Zainal Abidin terletak di negara bagian Terengganu merupakan universitas yang dimiliki oleh kerajaan Malaysia. (dedi)