Tanpa Orang Tua, Hidup Bocah dan Keempat Adiknya Dicemaskan Lanjutkan Kemiskinan Keluarga

Keempat bocah malang ini baru ditinggal orang tuanya.

Pelalawan (Nadariau.com) – Bocah kecil yang masih duduk di bangku SMP, Nouval Abid Fahreza (13), sulung dari empat bersaudara yang harus ditinggal kedua orangtuanya.

Ayahnya yang bernama Tardi (36) sampai kini tak tahu dimana rimbanya, sosoknya bagai lenyap ditelan bumi.

Tak ada yang tahu, apakah laki-laki yang berasal dari Brebes, Jawa Tengah, itu masih hidup atau tidak.

Telpon selulernya sudah tak bisa dihubungi lagi, bahkan Tardi sampai kini tak tahu jika istri tercinta, Kunafa (42), sudah pergi menghadap pencipta-Nya, meninggalkan dirinya dan kelima anaknya yang kini terpencar dalam asuhan orang lain.

Sejak sang suami pergi, Praktis Kunafa (46) menjadi orang tua tunggal bagi kelima anaknya. Menggantungkan hidup pada sepenggal lahan sawit yang tak sampai setengah hektar disamping rumahnya membuat wanita tangguh ini kerepotan menafkahi anak anaknya.

Bukan jaminan masa depan yang di tinggalnya untuk Noufal dan keempat adiknya ketika ibunda meninggalkan mereka untuk selama lamanya, melainkan tanggungan utang sebesar Rp 18 juta, semasa sang ibunda hidup harus ditanggung Noufal sebagai ahli waris tertua sah Kunafa.

Toh utang itu dipakai untuk menutupi kehidupan sehari hari keluarga ini juga.

Keberanian Kunafa mengutang sampai Rp 18 juta itu tak lain karena adanya harapan, kepada sang suami akan menunaikan tanggung jawabnya.

Mengirimkan belanja untuk keluarga yang ditinggalkannya. Sayang, sampai nafas penghabisan Kunafa. Tardi tak menunjukkan tanggung jawabannya.

Taufiqin (34) adik kandung Kunafa munuturkan, tersebab ekonomi keluarga tak bergerak keluar dari garis merah kemiskinan, anak anak yang mulai tumbuh besar yang akan membutuhkan banyak biaya untuk sekokah mereka. Belum lagi kebutuhan dapur untuk seluruh anggota keluarga.

Latar belakang kemiskinan keluarga itulah, yang membuat Tardi memutuskan merantau ke Jakarta, ikut kapal nelayan berlayar mencari ikan di laut lepas.

“Namun beberapa bulan lalu, kontak kami dengan Tardi terputus. HP-nya sudah tak bisa dihubungi lagi. Tak ada yang tahu, Bang, keberadaannya. Kata kawan sekerjanya, kapalnya tak pernah bersandar lagi, jadi saya juga tak tahu harus mencari kemana lagi,” cerita Taufiqin.

Badai Tsunami yang menghantam perairan selat sunda yang baru-baru ini terjadi. Membuat keluarga Noufal berpikir bahwa ayahanda menjadi salah satu dari korban ombak besar di pesisir Banten dan Lampung itu, pikiran itu terbersit karena kapal yang menangguk ikan dimana Ayah Noufal itu bekerja, terakhir kali bersandar di Lampung.

“Setelah itu, kawan kerja Tardi tak tahu juga kapal itu bersandar dimana lagi, jadi penghubung utama soal keberadaan Tardi pun lenyap,” ujarnya.

Dilanjutkan Taufiqin, Selasa depan (22/01/2019) adalah tepat 40 hari mendiang Kunafa berpulang ke pangkuan Illahi.

Kelima anak buah dari pasangan Tardi dan Kunafa kini harus dihadapkan pada takdir yang harus dijalani, hidup sebatang kara tanpa kedua orangtua yang mengasuh dan membesarkan mereka.

“Sejak ibunya meninggal, Nouval dan ke empat adiknya diasuh oleh nenek mereka, Bang,” kata Taufiqin

Diakui Taufiqin, pasca Kunafa meninggal akibat batuk darah, mulailah kehidupan Noufal dan ke empat adiknya bertambah sulit. Perekonomian sulit terpaksa membuat Noufal dan ke empat adiknya harus hidup terpencar.

Nouval (13) dan adik nomor empat, Ragil (5) tinggal bersama neneknya di rumah mereka. Sedangkan si bungsu, Anisa Rahma (1) ikut bersama sang paman Taufiqin di Dusun Pakan Tua Desa Kuala Tolam Kecamatan Pelalawan Kabupaten Pelalawan Riau.

“Ibu saya, nenek mereka saat ini tidak bekerja, sebelum ibu mereka meninggal memang neneknya masih bisa membuat tempe dan menjualnya. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi, mereka bertiga menjadi tanggungan saya yang bekerja sebagai buruh tani serabutan.” ujarnya dengan suara lirih.

Diakuinya. Memang ada sepenggal lahan di rumah Noufal yang di tanami batang sawit, namun dari kebun itu tidak bisa menghidupi mereka satu minggu saja.

Sedangkan bantuan pemerintah daerah melalui Program Keluarga Harapan (PKH) yang bernilai Rp 1.800.000 setahun itu mana lah mungkin dapat menghidupi kebutuhan tiga otang dan biaya sekolah dua anak.

“Ada lahan di dekat rumah yang ditanami sawit. Lahannya tidak luas bang. Hasilnya tidak cukup untuk hidup satu minggu. Karena tidak cukup itulah, kakak saya punya banyak utang semasa hidup. Dari PKH memang ada. Ibu saya menerimanya. Abang tau berapa yang di terima keluarga PKH tiap tahunnya. Sejuta delapan ratus ribu rupiah untuk satu tahun. Tidak cukup bang,” jawabnya

Sedangkan dua saudara lainnya , Cahya Yunairoh (10) dan Zahra Ayu Fadilla (7) terpaksa harus berada jauh dari tiga saudara lainnya, keluarga istri Taufiqin di Labuhan Bilik membawa mereka untuk dirawat.

Secara ekonomi keluarga yang merawat Noufal bersaudara ini tidak lah tergolong sebagaj keluarga berkecukupan. Namun rasa kemanusiaanlah yang membuat mereka menyanggupi menghidupi anak anak malang ini.

“Ya gimana lagi, Bang, profesi saya sendiri cuma buruh tani. Saya punya anak dua, satu lagi masih dalam kandungan istri, neneknya juga membawa tiga orang anak ditambah lima dengan Noufal dan ke empat adiknya. Jadi ada sebelas orang anak yang harus saya hidupi, dengan profesi saya seperti ini, repot kali saya, begitu juga dengan neneknya,” ungkapnya.

Sebagai paman, Taufiqin mengaku sedih melihat ponakannya terpisah dari saudara saudaranya. Mereke telah terpisahkan dari orang tua mereka. Dan telah terpisahkan pula dari saudara mereka. Namun apa daya tak ada yang dapat dilakukannya.

“Itulah kondisinya. Saya selaku adik dari mendiang Kunafa bukannya tak ingin menyatukan Nouval dan ke empat adiknya untuk saya asuh semua, tapi kondisi ekonomi saya sendiri tak memungkinkan, terpaksa lah Nouval beserta adik-adiknya untuk sementara diasuh berpisah,” katanya.

Yang menjadi pikiran terberat Taufiqin adalah pendidikan keponakan keponakannya. Sekolah mereka menentukan masa depan mereka. Apakah nasib mereka berubah kelak. Atau melanjutkan kemiskinan orang tua mereka.

Untuk saat ini, sebatas sekolah SMP di kampung tentu masih bisa diusahakannya dengan segala cara. Namun di tingkat SMA nanti tidak terbayangkan bolehnya.

“Sekolah di kampung bisa lah. Tak ada yang perlu di bayar, tapi kalau sudah SMA nanti akan sangat berat. Saya sangat cemas, sekolah mereka akan putus nanti, yang terbayangkan mereka melanjutkan kemiskinan kami.” ungkap dengan anda sedih

Ditanya soal bantuan dari Pemerintah Desa (Pemdes) sendiri selaku perpanjangan tangan dari Pemkab Pelalawan, Taufiqin mengaku sejauh ini belum ada bantuan dari Pemdes namun dari Pemkab Pelalawan sendiri melalui Dinas Kesejahteraan Sosial sudah turun tangan memberikan bantuan berupa sembako dan keperluan lainnya.

Terpisah, Kadiskessos Pelalawan, Drs Mayhendri, Jum’at (18/1/2019), dikonfirmasi soal ini menjelaskan untuk kasus-kasus seperti Andini, Nouval atau yang lainnya sebenarnya adalah gawean lintas sektoral.

Artinya, bukan hanya Diskessos saja tapi juga ada Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan yang turut ambil bagian dalam mensukseskan program pusat seperti PKH, KIP dan KIS yang kemudian disinergikan dengan program Bupati Pelalawan yakni Pelalawan Sehat.

Namun diakuinya bahwa semestinya pihak Pemdes yang notabene merupakan perpanjangan tangan dari Pemkab Pelalawan harus mendata masyarakatnya yang memang benar-benar miskin atau mengalami kondisi seperti Andini dan Nouval.

Karena data ini nanti akan dilaporkan berjenjang yang membuat pihak Diskessos akan mampu memberikan bantuan yang maksimal.

“Harusnya Pemerintah Desa disana yang harus aktif, mendata warganya, data dari merekalah jadi rujukan Diskessos memberikan bantuan,” pungkasnya. (Apon)

 28 total views