Profil Pelajar Indonesia di Universiti Sultan Zainal Abidin Malaysia, Dede Ansyari Guci

Dede Ansyari Guci Bersama penguji dan pembimbing Dr. Puspa Liza Ghazali sesaat setelah Ujian

Terengganu (Nadariau.com) – Melanjutkan pendidikan diluar negeri merupakan impian semua orang tetapi tidak banyak yang berhasil melaksanakan mimpi tersebut, berbagai halangan akan dihadapi.

Salah satu sebab kenapa banyak orang ingin sekolah di luar negeri adalah masalah kualitas dan wawasan akademik, lulusan luar negeri dipandang lebih mupuni daripada lulusan dalam negeri. Kali ini nadariau akan berbincang dengan salah seorang lulusan luar negeri tepatnya alumni dari perguruan tinggi tetangga malaysia, alumni Universiti Sultan Zainal Abidin Terengganu, dia adalah Dede Ansyari Guci.

Dede Ansyari Guci

Pria kelahiran Tebing Tinggi Sumatera Utara, yang akrab dipanggil Dede ini mengungkapkan bahwa keinginannya untuk mendapatkan pendidikan lebih baik adalah motivasi utama kenapa memilih kuliah di UniSZA. Menurut dia Malaysia mempunyai sistem pendidikan tinggi yang sangat baik dimana hampir semua perguruan tinggi mempunyai kualitas yang sama, walaupun memang banyak orang yang lebih suka kuliah di ibukota negara yakni Kuala Lumpur padahal perguruan tinggi diluar ibukota juga tidak kalah baik.

Menurutnya beda dengan Indonesia dimana seorang dosen menempati homebase hingga pensiun dan tidak pernah ke perguruan tinggi lain. Tetapi di Malaysia seorang dosen dapat saja berpindah dari satu perguruan tinggi favorite ke perguruan tinggi lain dengan tujuan membantu untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi tersebut sehingga memiliki kualitas yang sama.

Selain itu perguruan tinggi di luar negeri seperti Malaysia memiliki sistem pendidikan Full Riset untuk tingkat Master dan Doktoral tidak seperti Indonesia yang cenderung masih mengutamakan kuliah kelas atau mix, sebab itulah mutu penelitian perguruan tinggi di Malaysia menjadi sangat baik.

Pria yang mengambil Master di Fakultas Ekonomi dan Manajemen Unisza pada tahun 2015/2016 dapat menyelesaikan pendidikannya selama dua semester saja ditambah satu semester untuk mengurus kelulusan tanpa dikenakan biaya SPP.

Selama melakukan berkualiah di Unisza Dede dibimbing oleh Prof.Dr.Puspa Liza Ghazali, saat ini tidak kurang dari 6 jurnal internasional dimana 2 diantaranya adalah jurnal Internasional terindeks Scopus.

“Saya diajari pembimbing dari awal bagaimana caranya meneliti, bagaimana mencari literartur, membuat desain penelitian dan lain-lain,”ujar Dede.

Karya peneletian saya pertama berjudul  Analyse of Relationship Between Government Support, Experience, Attitude Towards Business and Women Entrepreneurs Performance of Micro Enterprises dan telah menjadi jurnal internasional  selain itu dari tesis tersebut dapat dipecah menjadi beberapa jurnal diantarannya adalah Determinants Factors of Performance of Women Entrepreneurs in Indonesia- A Study Based on Batam City, Strengthen And Weakness Of Modeling In Women Entrepreneurship Of Small And Medium Scale Enterprises.

Keahliah Dede dalam menulis jurnal Internasional tidak lepas dari tangan dingin sang Pembimbing Prof. Dr. Puspa Liza Ghazalit seorang dosen yang sudah malang melintang dalam dunia penelitian.

“Kemampuan seorang mahasiwa sangat tergantung dari kemampuan pembimbing, dan diakui bahwa para dosen di Universiti Zainal Abidin sangat luar biasa,”ungkap dede.

Tidak hanya karya dalam jurnal Internasional bereputasi yang dapat di deteksi melalui Scimarjr.com tetapi Dede juga telah menghasilkan dua tulisan yang dijurnal yang sangat Prestisius yakni yang terindeks Scopus, dimana jurnal ini menjadi lambang kemampuan menulis bagi dunia akademik.

“Saya tidak tahu kalo menulis di jurnal terindeks Scopus di Indonesia sangat dihargai karena di Kampus UniSZA banyak mahasiswa yang mampu menulis di Scopus, apalagi dosen sudah menjadi hal umum,”tutur Dede,

Adapun jurnal yang terindeks Scopus tersebut adalah MEDICAL INTEGRATION MODEL OF FAMILY TAKAFUL FOR BLUE COLLAR yang dimuat di Far East Journal of Mathematical Sciences (FJMS)

Selain dilatih untuk melakukan penelitian Dede juga dilatih untuk membuat buku, saat ini ia dalam pembuatan buku pertamanya bersama sang profesor. “Saya diajari bagaimana membuat buku ajar yang baik, buku penelitian dan buku-buku lain, untuk awal insha allah dalam waktu dekat akan hadir buku hasil penelitian saya,”Ungkap dede.

Selain menulis buku dede juga motivasi untuk menghadiri seminar atau konfrensi tingkat internasional terakhir ia menghadiri konfrensi di Hon Chin Min City di Vietnam tahun 2017 kemarin dengan Prosiding yang juga akan terindeks Scopus.

Pria yang pernah bekerja di Bank ini bertekat akan mengamalkan ilmu yang dia dapat kependidikan di Indonesia. “Saya ingin pendidikan di Indonesia dapat maju juga,”tutup Dede. (DI)

Universiti Sultan Zainal Abidin Terengganu Malaysia