Circle of Islamic Studies Soroti Krisis Dunia Politik dan Tawarkan Paradigma Politik Profetik

Forum diskusi Circle of Islamic Studies.

[divide]

Pekanbaru (Nadariau.com) – Menyikapi dinamika politik akhir-akhir ini, sebuah forum diskusi yang menamakan diri Circle of Islamic Studies (CIS) melihat kecenderungan perilaku elit politik tidak pada konsep idealnya.

Hal ini melahirkan anti pati masyarakat luas yang berimbas kepada partisipasi yang minim untuk menggunakan hak pilih dalam Pemilu atau disebut Golongan Putih. Diskusi tersebut diselenggarakan di Kantor Al-Azhar Islamic Tour Jalan Arifin Ahmad Pekanbaru, Jum’at (16/02/2017).

 

Baca juga :  Apa Intensifikasi Fungsi Media Mengawal Pilkada Serentak 2018 ?

 

Sebagai pemateri diskusi itu Andi Saputra SUd MAg yang merupakan alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan dihadiri beberapa akademisi antara lain Dr Alimuddin Hasan Palawa dari UIN Suska Riau, Jayus Ssos MIKom akademisi Universitas Muhammadiyah Riau dan beberapa akademisi perguruan tinggi lainya.

Dalam pemaparan diskusi itu Andi Saputra menyebut bahwa seluruh aspek kehidupan terkait persoalan politik. Ia mengatakan menurut Plato, politik adalah jalan mewujudkan kebahagiaan.

“Pada sisi lain, manusia sebagaimana diungkapkan Aristoteles adalah mahluk politik (homo politicus). Karenanya eksistensi manusia di dunia berkait berkelindan dengan aspek politik.” ujarnya.

Adapun paradigma profetik yang berisi humanisasi (Amar ma’ruf), liberasi (Nahi munkar)  dan transendensi (Ketuhanan) sebagaimana diusung Kuntowijoyo, bahwa Islam menjunjung tinggi usaha-usaha untuk memanusiakan manusia dan melakukan pembebasan manusia dari keterbelakangan, kebodohan dan segala bentuk penindasan.