oleh: Yuniandono Achmad, S.E., M.E., pemerhati olahraga tinggal di Bogor. GAMBAR Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan. (Foto: Humas PBSI dan okezone Sports)
Apes, lagi-lagi kita kalah gila lagi sama Thailand. Mungkin demikian gerutu para pemerhati -sekaligus pecinta dan penikmat- olahraga melihat realita di Sea Games (SG) ini. Termasuk saya.
Cabang olahraga (cabor) bulutangkis beregu putra, kita kalah di semifinal melawan Thailand 2-3. Beregu putri kalah di final lagi lagi melawan Thailand 0-3. Cabor tenis, di beregu putra juga demikian, kalah 1-2 di final lawan Thailand. Apabila dilanjut, cabor futsal hanya mampu menahan seri Thailand 1-1. Dengan menahan seri ini, tim futsal putra hanya mendapat perunggu. Pertandingan final futsal akan diperebutkan emasnya antara Thailand melawan Vietnam.
Berlanjut di cabor sepakbola, PSSI kalah 0-1 di semifinal lawan Thailand. Ditambah dengan insiden 4 (empat) kartu merah, yaitu 3 (tiga) buah buat Indonesia dan 1 (satu) untuk Thailand. Wah.
Kembali ke cabor bulutangkis, tadi siang pasangan ganda putri kita, Febby Valentina Dwijayanti Gani/ Ribka Sugiarto kalah dari unggulan kedua pasangan Thailand, Benyapa Aimsaard/ Nuntakarn Aimsaard. Masih untung pasangan ter-gres kita -yaitu Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti- cukup untuk menutup muka saat rasa malu dimana-mana kalah sama Thailand. Ganda putri Apri/ Siti Fadia berhasil menaklukkan unggulan pertama asal Muangthai, Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai.
Kekalahan di beregu putra Thomas mungkin memang bisa diterima. Kalau kata coach Herri IP, “Kita kurang hoki”. Walau mungkin ada sedikit pertanyaan yang masih menggelayut di benak pemerhati bulutangkis. misalnya, mengapa lebih mempercayai pasangan baru Ahsan/ Kevin -dibanding misalnya Bagas/ Fikri.
Sekarang ke bulutangkis Sea Games Hanoi 2021 (yang terselenggara di tahun 2022), apakah tim beregu kita -baik putra maupun putri- mengalami kesalahan taktik dan strategi?
Mari kita bahas satu persatu.
Tim bulutangkis SG ini merupakan kelanjutan dari kejuaraan Badminton Asia Team Championsip (BATC) di akhir Februari lalu. Semestinya demikian. Waktu itu kontingen putri meraih emas, namun sayangnya beregu putra hanya mendapat perak -kalah melawan tuan rumah Malaysia. Pertanyaannya, mengapa tidak dilanjutkan komposisi pemainnya. Terutama tim putra. Mengapa Ihsan Leonardo Rumbay tidak dibawa ke Hanoi ini, apakah karena dia bukan pemain pelatnas (?). Susunan ideal untuk tunggal putra adalah Chico Aura Dwi Wardoyo, lalu Ihsan Leonardus Imanuel Rumbay, Cristian Adinata dan Yonathan Ramlie. Pada Sea Games kali ini, Ihsan Rumbay tidak dibawa, namun ada Bobby Setiabudi.
Untuk ganda putra masih tetap, dan memang itu komposisi yunior terbaik. Pertama adalah Pramudya/ Yeremia, dan berikutnya Leo Rolly Carnando/ Daniel Marthin. Kita mendapatkan dua poin dari ganda ini sewaktu final melawan Thailand.
Kembali ke tunggal putra. Tim beregu menaikkan posisi Bobby Setiabudi sebagai tunggal ketiga, artinya Yonathan Ramlie -yang sempat turun sewaktu beregu Asia (BATC) lalu- tidak dipilih. Lalu dengan tidak dibawanya Ihsan Rumbay, maka posisi Cristian Adinata menjadi tunggal kedua.
Andaikan Ihsan Rumbay menjadi tunggal kedua (partai ketiga), dan seandainya kalah pun saat melawan Sitthikom dari Thailand, mungkin permainan Cristian Adinata lebih baik melawan tunggal ketiga Thailand.
Selanjutnya ke beregu putri. Mengapa Gregoria Mariska Tunjung tidak dipasang sebagai tunggal pertama. Apakah karena sehari sebelumnya kalah melawan tunggal pertama Vietnam? Bisa jadi. Namun misal Gregoria kalah pun -ketika menghadapi Pornpawee- barangkali Putri Kusuma Wardani bisa berbicara lebih banyak melawan tunggal putri kedua dari Thailand,
Lagi-lagi seandainya. Tunggal pertama adalah Gregoria Mariska Tunjung, pada partai ketiga (tunggal kedua) ditempati Putri Kusuma Wardhani. Putri KW akan bisa meladeni tunggal kedua Negeri Gajah Putih, Supanida Kathetong. Mungkin Putri KW akan bisa lebih berbuat banyak. Seperti kita tahu bahwa pada partai ketiga Stephanie Widjaja kalah telak dengan skor 14-21, 8-21.
Memang nasi telah menjadi bubur. Namun untuk berikutnya, sustainability atau keberlanjutan antar turnamen -terutama beregu- kudu lebih diperhatikan. Di perseorangan, Cristian Adinata kalah pada babak pertama melawan pemain veteran Vietnam yang berusia 39 tahun, Tien Minh Nguyen. Bahkan kalahnya straight set.
Sedangkan Chico Aura DW kalah di babak kedua melawan pemain Singapura, Jia Heng Jason Teh. Jia Heng ini sepekan sebelumnya tampil di beregu Thomas Cup, dan sempat kalah melawan Jonathan Christie. Chico terakhir sebelum sejak SG adalah bermain di kejuaraan Asia (Badminton Asian Championship/ BAC, sekitar 3 (tiga) minggu lalu). Sementara Cristian Adinata terakhir tampil di Orleans Master pada awal April 2022.
Kekalahan Chico dan Cristian bisa jadi karena waktu rehat yang lama. Sementara lawannya telah mempersiapkan diri sejak turnamen TUC sepekan sebelumnya (terutama lawan Chico). Demikian pula Bobby Setiabudi, lawannya asal Thailand -yang bernama Panitchaphon Teeraratsakul- telah mencicipi ajang TUC beberapa hari sebelumnya. Bahkan pemain Thailand berusia 17 tahun ini bermain gemilang sebagai tunggal ketiga (partai kelima) saat Thailand menundukkan Singapura 3-2 di penyisihan grup.
Memang menurunkan pemain muda di ajang SG Hanoi ini sudah tepat. Indonesia dan Malaysia sebenarnya sudah melalui track yang benar Ketika mengirim pemain yunior ke ajang Asia Tenggara ini. Biar yang senior konsentrasi ke level dunia (super series) dan/ atau Asian Games serta kejuaraan beregu dunia. Biar Thailand yang memilih jalannya sendiri dengan tetap mengirim pemain utama ke SG. Juga tim Vietnam yang mengirim pemain gaeknya -usia 39 tahun di tunggal putra. Memang tidak ada yang melarang, namun bagi variasi permainan dan regenerasi atlet, langkah Indonesia (dan Malaysia) perlu diteruskan.
Akan tetapi yang juga perlu diperhatikan ialah kesinambungan antar turnamen. Terutama antara turnamen beregu dengan perorangan, lalu kaderisasi pemain, dan percepatan masa rehat agar tidak terlampau lama -tampaknya menjadi perihal yang perlu diperhatikan tim kita. Ya keberlanjutan atau sustainability. Semoga menjadi pelajaran untuk ajang beregu berikutnya.
Yuni Andono Ahmad, akademisi di kota Depok yang tinggal di kabupaten Bogor. Lahir di Klaten, menempuh pendidikan dasar sampai menengah di kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Meraih gelar sarjana dari FEB Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sedangkan master dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Selain mengajar juga menjadi konsultan di Kementerian/ Lembaga di Jakarta.


