Sabtu, Maret 7, 2026
BerandaHeadlineWelcome Bintang & Pahlawan Bulutangkis

Welcome Bintang & Pahlawan Bulutangkis

oleh: Yuniandono Ahmad S.E., M.E. Gambar Syabda Perkasa Belawa dari https://sport.tempo.co/read/1591333/thomas-cup-2022-syabda-perkasa-belawa-cucu-mbah-lurah-sepuh-sumberejo-sragen

KEHIDUPAN ini memang seringkali berisi hal-hal yang dramatis. Apalagi kehidupan yang sengaja “dibuat-buat” (sekali lagi dalam tanda petik). Misalnya olahraga. Dalam hal ini olahraga kita masukkan ke katagori fragmen kehidupan yang dibuat-buat.

Seingat saya seniman/ budayawan Jaya Suprana waktu diwawancara majalah HumOr -majalah yang sudah almarhum- beliau mempertanyakan fungsionalisasi olahraga. Katanya kurang lebih di tahun 1990-an itu, buat apa orang lari kencang kencang misalnya 100 meter, padahal -imbuhnya- tidak ada yang mengejar. Buat apa ada bola 1 (satu) buah tapi yang memperebutkan 22 orang. Buat apa orang lompat tinggi-tinggi toh sudah ada tangga dan sebagainya.

Ketika sang wartawan mendebat bahwa olahraga itu untuk jaga kebugaran, Jaya Suprana mencontohkan dirinya. Dia olahraga jalan kaki ke ruangan kantornya (di perusahaan Jamu Jago) yang berada di lantai dua, karena memang tidak ada lift. Mungkin kemasan jokes yang hendak dinyatakan Jaya Suprana soal olahraga tersebut. Sah-sah saja bagi kelirumolog untuk berpandangan apapun, yang intinya beliau berefleksi untuk mengembalikan perihal “olah” dan “raga” adalah menggerakn badan, namun ada tujuannya.

Namun bagi para penikmat -atau penonton- dalam olahraga ada semacam kenikmatan sendiri. Semacam candu yang sering ditemui -biasanya berperihal romantika, drama, dan kesedihan serta gembira. Semuanya beraduk bercampur menjadi satu.

Kadang muncul sang pahlawan, yang artinya sisi lain ada sang pecundang. Namun tanpa niat untuk mencemooh atlet, karena mereka telah berjuang sekuat tenaga, sebaiknya kita berbicara dalam aras kepahlawanan saja. Kemudian agar lebih netral mungkin kita pakai istilah “bintang” sebagai pengganti pahlawan.

Dan itu terjadi di putaran Thomas-Uber Cup 2022 ini. Sebagai penikmat bulutangkis semua sudah pasti paham bahwa turnamen beregu dalam banyak hal lebih sering mendatangkan drama ketimbang turnamen perseorangan. Nama-nama bintang terbaru ini akan kami bahas di bagian belakang tulisan ini.

Para Bintang Zaman Old

Apabila kita tarik jauh ke beberapa puluh tahun lampau, sejak lama drama berupa tragedi -pun komedi, atau malah keduanya secara bersamaan sering terjadi di ajang beregu.

Tahun 1984 saat final Thomas Cup di Kuala Lumpur, Indonesia melawan Tiongkok. Tunggal pertama kita, peletak dasar smes/ smash modern (katakanlah begitu) yakni Liem Swie King, tidak dinyana kalah melawan Luan Jin. Padahal tunggal kedua mereka, yaitu Han Jian, lebih muda dan lebih jago -yang disebut “master of defence”. Sementara kita hanya punya spesialis runner up, bernama Hastomo Arbi. Tapi kok ya, Hastomo yang menang. Konon Han Jian mengalami cedera saat itu.

Hastomo menang, rasa optimis kita untuk juara lebih kuat. Karena tunggal ketiga kita adalah juara dunia 1983, yakni Icuk Sugiarto. Sayang, Icuk kalah straight set melawan Yang yang. Kedudukan 1-2 untuk Tiongkok. Partai berikutnya, Christian Hadinata/ Hadibowo menang, kedudukan 2-2. Terakhir pasangan dadakan LS King/ Kartono juga menang, sehingga piala Thomas Kembali ke ibu pertiwi setelah lepas tahun 1982 ke China. Di partai final ini, predikat pahlawan disematkan ke Hastomo Arbi. Benar-benar from zero to be hero. Pemain spesialis runner up dan dianggap hanya menyukai bermain dengan mengulur waktu, mampu mengalahkan Han Jian.

Tahun 1986, Jakarta menjadi tuan rumah. Optimis kita semakin kuat karena Icuk Sugiarto semakin matang sebagai tunggal utama. Sementara Tiongkok masih mengandalkan Han Jian yang telah dimakan usia. Namun manajer tim China -seingat saya bernama Hou Jiachang- membuat langkah gemilang. Han Jian diistirahatkan, Yang Yang sebagai tunggal kedua naik menjadi tunggal pertama. Yang Yang saat itu selalu menang melawan Icuk. Risiko menaikkan Yang Yang tentunya besar, karena tunggal pelapis Yang Yang adalah pemain-pemain muda yang belum berpengalaman.

Yang Yang menang, skor 0-1 bagi China. Tapi berikutnya, Ding Qiqing kalah melawan “si bola karet” Lius Pongoh, skor menjadi 1-1. Partai berikutnya adalah Liem Swie King -yang usianya mendekati 30 tahun- melawan anak kemarin sore bernama Xiong Guobao. Apesnya, King kalah. Namun partai berikutnya, ganda gaek Christian Hadinata/ Hadibowo masih menang. Skor 2-2. Pada partai terakhir, King turun (lagi) dipasangkan Bobby Ertanto. Barangkali King sudah lelah. King/ Bobby kalah melawan Li Yong Bo/ Tian Bingyi. Terbanglah Thomas ke negeri Tiongkok -bersanding dengan piala Uber waktu itu.

Liem Swie King di tahun 1984 termasuk pahlawan karena bermain sebagai tunggal dan ganda sama baiknya. Namun hanya berselang dua tahun, kekalahan King di tunggal dan ganda membuatnya pelan pelan turun pamor sebagai tunggal, dan kemudian menekuni ganda -dengan pasangan Edy Hartono.

Selanjutnya ajang turnamen Piala Sudirman tahun 1989. Lokasi di Senayan, Jakarta, final mempertemukan Indonesia dengan Korea. Partai pertama, ganda putra kita kalah. Partai kedua, ganda putri kalah juga. Skor 0-2 untuk Korea. Partai ketiga remaja berusia 18 tahun -bernama Susy Susanti- melawan pemain senior Korea, Lee Young Suk. Set pertama milik tunggal putri Korea, set ketiga match point untuk Korea, sekaligus championship point. Namun Susy layaknya pemain balet berlari dengan indah kesana kemarin mengejar bola. Terjadi setting, yaitu deuce, dan Susi menang 12-10 (tahun itu skor masih mempergunakan 11 angka, dan mengenal service over). Set ketiga menjadi milik Susy, atau “Super Susy” predikat dari tabloid olahraga “Bola” ke Susy Susanti. Kedudukan menjadi 2-1, dan kemudian 2-2 karena tunggal Edy Kurniawan menang. Partai terakhir ganda campuran Edy Hartono/ Verawaty (almarhum) melawan legenda Korea Park Joo Bong dengan pasangannya. Kita menang 3-2.

Pada Uber Cup tahun 1994 dan 1996, Susy masih menjadi tunggal pertama. Namun pahlawan saat perebutan piala Uber tahun 1994 adalah anak kecil berusia 15 tahun, yaitu Mia Audina, yang mengalahkan Zhang Ning (Tiongkok) pada partai terakhir.

Sewaktu perebutan piala Thomas tahun 2002, kita bertemu Malaysia di final. Tunggal pertama (Marleve Mainaky) kalah. Ganda pertama (Sigit/ Chandra) menang. Berikutnya tanpa diduga, Taufik Hidayat yang sangat diunggulkan, kalah melawan Lee Tsuen Tsang. Maka datanglah partai keempat, ganda putra. Pasangan dadakan kita Trikus/ Halim seperti berjibaku melawan Lee Wan Wah/ Chong Tan Fok. Komentator BWF saat itu adalah Poul Erik Hoyer Larsen, menyebut Trikus sebagai mr. Tricky yang banyak akalnya. Trikus/ Halim menang, dan disongsong oleh kemenangan Hendrawan pada partai terakhir.

Masih banyak contoh pahlawan beregu yang bisa kita sebut. Semisal saat Sea Games 2015, di partai semifinal Indonesia melawan Malaysia. Kedudukan 2-2 partai terakhir adalah Ihsan Maulana Mustofa. Ihsan sudah tertinggal 14-20. Namun entah mendapat semangat kesetanan dari mana, pelan-pelan dia kejar ketertinggalan melawan tunggal Malaysia itu, malah jadi menang 22-20. Pelatih utama Malaysia -saat itu Morten Frost Hansen- juga terheran heran dengan drama yang terjadi. Kemenangan yang sudah di depan mata menjadi raib.

Lebih banyak contoh yang bisa kita tampilkan. Misalnya aksi fenomenal Firman Abdul Kholik saat semifinal beregu Badminton Asia Team Cup tahun 2018. Tertinggal jauh dari lawan -yaitu dari Korea Selatan- sudah match point, namun bisa dikejar dan menang 22-20.

Thomas-Uber Cup (TUC) tahun 2022

Bagaimana Thomas-Uber Cup (TUC) tahun 2022 bagi tim kita? Pahlawannya adalah para anak muda. Blessing in disguise perhelatan TUC berbarengan dengan Sea Games, sehingga PBSI perlu menurunkan 2 (dua) buah tim. Untuk putra, tim utama diturunkan di TUC, terutama dalam upaya mempertahankan piala Thomas. Untuk putri, tim utama diturunkan di Sea Games, dalam rangka merebut emas beregu dan perseorangan.

Hla kok ndilalah, tim yunior Uber ini bermain dengan sangat apik. Mereka mengalahkan pemain dunia yang peringkatnya lebih atas. Partai pertama mengalahkan Perancis 5-0, berikutnya mengalahkan Jerman 5-0. Pertandingan ketiga melawan unggulan kedua yaitu Jepang. Pahlawan muncul bernama Bilqis Pratista. Bilqis adalah tunggal ketiga yang dinaikkan menjadi tunggal pertama -dengan alasan tunggal pertama dan kedua agar istirahat untuk partai perempat final.

Bilqis menjawab kepercayaan itu dengan lebih. Peringkat 333 dunia -usia masih 18 tahun-  mengalahkan peringkat pertama dunia, Akane Yamaguchi (Jepang) dengan straight set 21-19 21-19. Next pada partai perempat final, Bilqis dipasang sebagai tunggal kedua menantang He Bingjao. Meski kalah tapi Bilqis mampu bermain rubber -alias kalah tipis- versus He Bingjao.

Kekuatan Bilqis salahsatunya di bola dropshot -yang jatuh di depan net lawan. Mungkin perlu dibuktikan dengan teori keturunan ala Mendel, namun rasa-rasanya kepiawaian melakukan drop shot itu turun dari ayahnya -sang juara dunia 1993- Joko Suprianto. Lalu langkahnya yang gontai dalam mengelilingi lapangan, dan bermuka ekspresi yang kadang lucu, jelas menurun dari ibunya -anggota tim juara Uber 1994 dan 1996- yaitu Zelin Resiana.

Sebenarnya tidak hanya Bilqis, semua pemain Uber 2022 ini adalah pahlawan, karena mampu menyingkirkan Perancis dan Jerman. Mereka adalah bintang secara tim. Tunggal pertama Komang Ayu Cahya Dewi dan tunggal kedua Aisyah Sativa Fatetani tentunya pantas diacungi jempol -demikian pula pemain ganda putri kita. Ini merupakan modal berharga untuk Uber dua tahun lagi, bahkan sampai 2026 mengingat usia mereka belum genap 21 tahun.

Treatment untuk mempertahankan sustainability ini jelas berbeda dengan upaya memunculkan bintang -seperti yang dua pekan lalu dihawatirkan Susy Susanti. Ibaratnya, sekarang banyak bintang bertebaran, perlu upaya khusus agar bintang-bintang tersebut semakin bersinar, bahkan tambah terang. Iklim kompetisi harus terus dibina, terutama dalam negeri. Sesudah itu, kirim mereka ke luar negeri. Mekanisme promosi degradasi harus transparan dan seimbang dengan kuantitas yang ada.

Itu di sektor putri, lalu bagaimana pahlawan atau bintang di tunggal putra dalam TUC ini? Dialah Syabda Perkasa Belawa. Syabda Perkasa tampil perkasa saat laga pemungkas Grup A melawan wakil Korea Selatan di Impact Arena, Bangkok Thailand di hari Rabu 11 Mei.

Memikul beban berat di pundaknya, pebulu tangkis berusia 20 tahun tersebut berhasil menjadi aktor penentu kemenangan 3-2 tim beregu putra Merah Putih atas tim dari Negeri K-pop. Pada partai terakhir, Syabda sukses mengalahkan Yun Gyu Lee melalui pertarungan sengit rubber game 21-14, 11-21, 21-16 dalam waktu 1 jam 8 menit.

Sebelumnya Indonesia tertinggal 0-2 akibat kekalahan Antony Sinisuka Ginting dan pasangan Ahsan/ Kevin. Kemudian disamakan melalui Sheshar Hiren Rhustavito dan pasangan Fajar/ Rian. Berikutnya Syabda P Belawa yang tertinggal di set ketiga -terutama saat interval, yang sampai tertinggal 5 (lima) angka- bisa mendapat point berturut turut sehingga menang. Syabda adalah pebulu tangkis asal Sragen, Jawa Tengah, yang menempati peringkat 636 dunia.

Masih ada final lusa yang mempertemukan Indonesia melawan India. Kita tentu berharap gelar ke-15 menjadi milik ibu pertiwi. Namun sampai sejauh ini perjuangan atlet bulutangkis kita sudah selayaknya mendapat acungan jempol. Bagi saya pribadi sudah puas rasanya melihat kiprah Bilqis, Syabda Belawa, juga Komang Ayu Cahya Dewi dan Siti Sativa Fatetani. Itu saja. Walau hati kecil ini masih berharap, agar gelar juara terengkuh kembali. Semoga kesuksesan mereka -dan kita- berlanjut sampai ke final, juara, dan turnamen lainnya. Tahniah!

Yuni Andono Achmad, merupakan dosen di Universitas Gunadarma, Depok. Tinggal di Bojonggede, kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tulisan pertama mengenai bulutangkis yang keluar di media adalah pada tahun 1996 di tabloid Bola. Tepatnya pada rubrik “Surat Pembaca” yang kemudian dipilih redaksi menjadi headline (tulisan terbaik) saat itu. Penulis adalah alumni FEB Universitas Gadjah Mada program S1, sedangkan S2 dari Magister Perencanaan Kebijakan Publik (MPKP) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta. Selain menjadi akademisi juga sebagai konsultan di sebuah kementerian/ lembaga di Jakarta. Memiliki akun instagram di andonoachmad, dan facebook di Yuniandono Ahmad.

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer