Sabtu, Maret 7, 2026
BerandaHeadlineMenunggu "Godot" di Tunggal Putri

Menunggu “Godot” di Tunggal Putri

oleh: Yuniandono Achmad SE ME. Gambar di atas dari https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20210721175711-170-670514/kisah-alan-dan-susy-pengantin-emas-olimpiade-yang-abadi

 

SETELAH sektor tunggal putra dikritisi oleh para legend yaitu Taufik Hidayat, Liem Swie King, dan Alan Budi Kusuma, sekarang gantian sektor tunggal putri. Legenda tunggal putri nomer wahid Indonesia, peraih medali emas pertama Olimpiade, cik Susy Susanty mengomentari lemahnya bagian women single ini.

Super Susy -demikian julukannya saat meraih poin di final Sudirman Cup 1989- menyatakan bahwa sektor tunggal putri Indonesia akan sangat sulit bersaing di level dunia. Lambatnya regenerasi membuat Indonesia kian tertinggal dari sejumlah negara Asia. Anggota tim sukses beregu piala Uber 1994 dan 1996 ini mengatakan bahwa kualitas tunggal putri Indonesia semakin jauh tertinggal.  Sekarang tidak hanya Tiongkok dan Korea yang menjadi lawan kita. Namun tambah Jepang, Taiwan, India, dan Singapura, yang menjadi bantu sandungan.

Susy menambahkan bahwa Indonesia harus bekerja ekstra keras untuk mendapat medali. Menurutnya selama ini, Indonesia hanya bertumpu kepada Gregoria Mariska Tunjung dalam kejuaraan besar. Padahal, prestasi “Jorji” -panggilan akrab Gregoria- sangat tidak stabil. Hal itu lantaran sering tersingkir pada babak-babak awal. Lagi-lagi menurut Susy, ada beberapa faktor yang membuat sektor tunggal putri belum bisa bersaing di level dunia. Regenerasi menjadi salah satu kendali, sehingga sektor ini belum sebaik tunggal dan ganda putra. Indonesia harus bekerja keras untuk menelurkan atlet generasi mendatang dan mencatatkan prestasi -ujarnya.

Memunculkan Susy-Susy Baru

Menguatnya tunggal putri Asia ini pada sisi lain melemahkan tunggal putri Eropa. Dulu di olimpiade Rio 2016, juara tunggal berasal dari Spanyol -Carolina Marin. Atau olimpiade Sidney 2000 yang memunculkan finalis Camilla Martin dari Denmark. Namun selain momen-momen itu, Eropa belum memunculkan jawara tunggal putri.

Kemunculan para legenda olahraga (tidak hanya bulutangkis) memang terkadang seperti romantika. Ia tidak bakal terulang. Di tenis sektor tunggal putri dulu Jerman Barat melahirkan Steffi Graf, yang belum terulang di khazanah tenis Jerman sekarang. Demikian pula petenis Martina Navratilova dari Cekolowaskia. Di Indonesia, legend untuk petenis putri adalah Yayuk Basuki yang pernah meraih emas di Asian Games 1986, 1990, dan 1994. Namun memang legenda itu tidak abadi. Meski ada beberapa negara yang menghasilkan lumbung petenis yang selalu sustain. Semisal negara Amerika Serikat.

Kalau di bulutangkis, pasti kita akan menyebut Tiongkok. Itupun pernah mengalami masa surut. Misalnya saat Tiongkok gagal di Uber Cup 1994-1996, kemudian tahun 2010, dan malah gagal ke final saat Uber 2018.

Tunggal putri Jepang yang bisa dikatakan mengalami masa jaya lima tahun belakangan ini, pernah mengalami zonk prestasi sampai puluhan tahun, terutama di era 1980-2000.

Gambar Alan Budi Kusuma+ Susi Susanti di bawah ini dari https://www.kompas.com/badminton/read/2022/04/25/04000078/susy-susanti-sorot-regenerasi-tunggal-putri-sehingga-indonesia-sulit)

Born to be the Winner, or?

Sering menjadi pertanyaan, apakah seorang juara itu sengaja dilahirkan (dibentuk) atau lahir dengan sendirinya (born or to be born). Kebanyakan orang akan bilang dilahirkan. Menyangkut lingkungan dan segi kompetisi. Bakat akan menjadi sia sia bila tidak dipupuk dengan berlatih.

Dibalik kesuksesan Jepang ada nama Park Joo Bong yang mampu membangkitkan era emas bulutangkis Jepang. Di tangan pelatih Joo Bong lah, Jepang meraih Thomas tahun 2014 dan Uber tahun 2018

Untuk sektor tunggal putri Jepang dilatih oleh Rionny Mainaky saat itu, yang memunculkan duo WS digdaya Jepang, Nozomi Okuhara dan Akane Yamaguchi. Rionny sejak 2018 menangani tunggal putri Indonesia.

Apakah model pembinaan tunggal putri ala Jepang bisa ditiru? Jepang memakai kombinasi klub dan pemusatan nasional secara intensif. Park Joo Bong sebagai pelatih kepala (nasional) memberikan target kepada pemain di klub. Berbeda dengan Indonesia, Jepang bisa dikatakan tidak mengenal pelatnas bulutangkis.

Ada plus minusnya latihan ala Jepang ini. Negatifnya adalah apabila target dari pelatih kepala di Pusat tidak dipenuhi oleh klub (atau: daerah). Positifnya adalah pemain mendapatkan pengawasan dari klub dan dari pelatih kepala/ nasional. Sistem desentralisasi barangkali akan lebih mendekatkan pemain dengan daerah asal.

Bagaimana dengan Tiongkok? Polanya hampir mirip dengan Indonesia dan Malaysia. Ada pelatnas dan ada klub. Namun Tiongkok alias China mengenal juga pembinaan di provinsi, yang mirip dengan di Malaysia.

Menciptakan Lingkungan Kompetitif

Kalau mengutip analogi ekonomi industri ala Sthepen Martin, yang sangat terkenal itu, bahwasanya structure conduct performance. Struktur pasar ekonomi (misalnya apakah monopoli, oligopoly ataukah persaingan bebas) akan menentukan perilaku atau conduct dari anggota pasar tersebut. Perihal perilaku ini pada hasil akhirnya akan menghasilkan kinerja -atau performance- dari individu dan kelompok bahkan keseluruhan.

Apabila diterapkan di industri bulutangkis, misalnya dalam rangka menghasilkan pemain tunggal putri berkinerja baik, maka link atau panah dibalik menjadi performance -conduct -structure.

Menghasilkan pemain berkinerja baik, didapat dari perilaku kompetitif yang baik. Dari mana dihasilkan sistem kompetitif? Salahsatu jawabnya adalah dari struktur pasar yang memang benar-benar terbuka akan bibit-bibit bulutangkis muda.

Namun memang, untuk kategori atlet Yunior, bisa jadi semua berawal dari atletik. Kalau mengutip bukunya David Epstein para atlet yang menunda spesialisasi seringkali lebih baik daripada rekan-rekan mereka yang berspesialisasi, yang mencapai level yang lebih rendah. Ini berbeda dengan pandangan atau pemikiran Malcolm Gladwell tentang “10.000 hours rule”, yang intinya adalah spesialis banget -atau dimulai dari awal. Maksudnya berkutat di bidang yang sama sepuluh jam sehari selama 10 tahun akan mendatangkan spesialis sejati.

Kembali ke pemikiran David Epstein, ia mengedepankan late specialization -dikatakannya bahwa melakukan spesialisasi di akhir atau di ujung itu justru lebih bagus. Selama si calon spesialis tersebut sudah berkecimpung dengan pekerjaan atau sudah terekspos dengan lebih banyak dimensi.

Penutup

Selain beberapa Langkah di atas, upaya revolusioner barangkali perlu ditempuh. PBSI perlu bekerjasama dengan induk organisasi lain (terutama atletik) untuk menghasilkan olahragawan terbaik. Selain itu peran Kemenpora dengan Kemendikbud dalam rangka pemassalan (menjadikannya kegiatan massal) olahraga perlu dilakukan di tingkat sekolah dasar. Perlu adanya pemetaan minat bakat anak. Misalnya terkait motorik mereka, apakah lebih bakat ke akademis, ataukah olahraga, atau seni.

Namun bisa saja semua diharuskan menguasai satu cabang olahraga. Karena kedepannya anak akan diajari mencintai olahraga, yang akan bermanfaat untuk masa depan. Misalnya perlu dislogankan “satu anak dua cabang olahraga” yang mewajibkan anak untuk berlatih olahraga sebanyak 1 (satu) olahraga dasar -terkait lari, lompat, dan berenang- kemudian 1 (satu) olahraga game. Namun tentunya kewajiban ini memuat konsekuensi misalnya pemerintah harus menyediakan peralatan olahraga yang relevan. Paling murah tentunya atletik.

Memang sudah sekian lama kita menunggu Godot atau dewa (atau “dewi” tepatnya ditunggal putri). Entah sampai kapan. Kalau menurut saya, baiknya berusaha dulu. PBSI tidak bisa sendirian, demikian pula Kemenpora. Bulutangkis juga tidak bisa sendirian, setidaknya atletik perlu diajak Kerjasama.

 

Yuni Andono Achmad, pengamat bulutangkis tinggal di kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tulisan pertama mengenai bulutangkis yang keluar di media adalah pada tahun 1996 di tabloid Bola. Tepatnya pada rubrik “Surat Pembaca” yang kemudian dipilih redaksi menjadi headline (tulisan terbaik) saat itu. Alumni FEB Universitas Gadjah Mada program S1, sedangkan S2 dari Magister Perencanaan Kebijakan Publik (MPKP) Fakultas Ekonomi UI, Depok. Selain menjadi akademisi juga sebagai konsultan di sebuah kementerian/ lembaga di Jakarta -sampai akhir April 2022 ini. Memiliki akun instagram di andonoachmad, dan facebook di Yuniandono Ahmad.

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer