Sabtu, Maret 7, 2026
BerandaHeadlinePBSI Sukses Besar di Swiss

PBSI Sukses Besar di Swiss

Yuniandono Achmad, S.E., M.E. Foto ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto dari Kompas (Dok. Humas PP PBSI)

SWISS open tournament atau kejuaraan bulutangkis Swiss Terbuka di Bassel telah selesai digelar. Indonesia mendapatkan 2 (dua) gelar dari sektor tunggal putra dan ganda putra. India mendapatkan 1 (satu) dari tunggal putri, Pusarla V Shindu -pemain bulutangkis terkaya dewasa ini. Bulgaria juga mendapatkan 1 (satu) gelar ialah dari ganda putri. Kemudian tim Jerman mendapatkannya dari sektor ganda campuran. Saya tulis “sukses besar” karena tim PBSI yang diturunkan di Swiss Open kali ini termasuk efektif dan efisien.

Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia atau PBSI hanya mengirimkan 7 (tujuh) pemain pelatnas -terdiri dari dua tunggal putra, tiga ganda putra, dan dua ganda campuran- namun kita mendapatkan 2 (dua) kampiun, dan 3 (tiga) pemain lainnya masuk semifinal. Ketiganya adalah Antony Ginting, ganda Pramudya Kusuma W/ Yeremia EYY Rambitan, dan ganda campuran Rehan Naufal bin Trikus Harjanto/ Lisa Ayu Kusumawati.

Bandingkan dengan kontingen Denmark, dan Malaysia, yang mengirimkan 11 pemainnya namun tanpa gelar. India juga mengirim 11, namun hanya mendapat 1 (satu) gelar. Kita hanya mengirim tujuh. Artinya PBSI telah mencapai taraf efisien dan efektif. Memang ada beberapa pemain Indonesia lain yang mengikuti Swiss Open ini namun secara mandiri -seperti Hendra/ Ahsan- atau join lewat klub -yakni Praveen Jordan/ Melati.

Meski perlu ditulis pula bahwa kesuksesan ini terjadi diiringi dengan beberapa catatan. Pertama adalah absennya atau tanpa kehadiran Tiongkok dan Jepang. Padahal mereka merajai turnamen perseorang akhir-akhir ini. Kemudian kedua, beberapa pemain melakukan aksi walk out -kemungkinan besar karena kecapekan dari turnamen All England.  Selanjutnya ketiga, turnamen bulutangkis Swiss Open yang totalnya berhadiah senilai 180 dolar atau Rp2,5 miliar ini “hanya” masuk level Super 300.

Selama ini kita kenal turnamen “kasta” tertinggi adalah super series premier. Contohnya adalah All England, China Open, Denmark, dan Indonesia Terbuka. Kemudian ada level super series (tanpa embel-embel premier), seperti Malaysia Open, Singapore, juga Korea.

                        Anyway ini tetap kita anggap sebuah sukses besar. Tunggal putra kita Jonathan “jojo” Christie, sudah hampir 2,5 tahun puasa gelar. Ganda kita Fajar Alfian/ Rian Ardianto mungkin sudah 3 (tahunan) sejak menjuarai Malaysia Master tahun 2019, dan Korea Open pada tahun yang sama. Ketika mereka juara di Swiss Open kali ini diharapkan memompa lagi semangat kompetitif yang pernah mereka dapatkan ketika beranjak dari pemain yunior dulu.

Kesuksesan besar lainnya adalah mulai munculnya ganda putra muda kita di tingkat semifinal. Sesudah menjadi juara All England sepekan yang lalu, semangat Bagas/ Fikri tampaknya menular ke pasangan Leo Carnando/ Marthin dan Pramudya/ Rambitan. Ganda Leo/ Marthin mampu mengalahkan juara India Open 2022, Rankiressy/ Shetty yang sekaligus merupakan pasangan terwahid India.

Sedangkan Pramudya/ Yeremia tembus babak semifinal usai menyingkirkan unggulan kelima asal Denmark Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussend. Namun sayang Pram/ Yeremia Rambitan gagal melaju ke final karena kalah melawan duo Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin. Goh/Nur pada babak sebelumnya mampu menewaskan wakil Indonesia lainnya, Leo Rolly Carnando/ Daniel Marthin.

Selain itu kesuksesan besar lainnya adalah mulai bersinarnya pasangan ganda campuran muda kita yaitu Rehan Naufal Harjanto/ Lisa Ayu Kusumawati. Mereka mampu menjangkau babak semi final sebelum dikalahkan oleh sang juara dari Jerman, Mark Lamsfuss/ Isabel Lohau. Rehan Naufal, 22 tahun, merupakan putra dari Trikus Harjanto -peraih medali perak olimpiade Sidney 2000 dengan Minarti Timur.

Pada kejuaraan Thomas Cup tahun 2002, Trikus dipasangkan dengan Halim Haryanto. Pasangan dadakan ini mampu mengalahkan Lee Wan Wah/ Cho Tan Fook dari Malaysia pada partai final, sehingga kedudukan beregu 2-2. Saat itu Poul Erik Hoyer Larsen menjadi komentatornya dan menyebut Trikus sebagai “tricky” karena banyaknya bola tipuan yang dilakukan. Sepertinya sang putra -yakni Rehan Naufal- mengikuti langkah ayahanda. Banyak bola kedut, dan selalu ada upaya menipu lawan.

Kesuksesan Mentalitas

Bagi Jojo dan juga Fajar/ Rian, kemampuan mereka menjadi champion sekaligus sukses menaikkan mental juara yang selama ini -bisa dikatakan- hampir terkubur.

Si Jojo -panggilan untuk Jonatan Christie- memang ibarat mesin diesel yang selalu terlambat panas. Sewaktu sukses menyumbang poin di final dan semifinal piala Thomas, Jojo pernah kalah saat Sudirman Cup (turnamen sebelumnya) dan saat penyisihan grup Thomas. Untungnya di All England dia telah menuntaskan dendam kekalahan terhadap Kunlavud Vitidsarn yang dua kali mempencundanginya. Dua kali kekalahan terhadap pemain Thailand itu dialaminya pada waktu penyisihan Thomas Cup dan di Jerman Open. Akhirnya di turnamen All England bisa terbayar sudah.

Menyaksikan partai final Jojo versus Prannoy HS asal India, kita melihat Jojo sangat menikmati pertandingan. Ada momen ketika hakim garis dan wasit mengesahkan bahwa bola Prannoy dinyatakan keluar, namun Prannoy protes dengan mengatakan shuttlecock mengenai raket Jojo. Wasit bisa saja hanya mempercayai hakim garis. Tapi Jojo dengan gentleman mengatakan bahwa memang terkena raketnya. Jadi skor bagi Prannoy.

Apakah Jojo telah bertambah dewasa atau sedemikian dewasa saat ini? Kita harapkan demikian. Sebagai perbandingan, dulu Icuk Sugiarto selepas menjadi juara dunia 1983 (sampai dengan saat ini dapat disebut juara dunia termuda waktu Icuk berumur 20 tahun) mengalami penurunan prestasi. Beberapa pihak mengatakan Icuk terlalu muda untuk menjadi kampiun dunia, sehingga mental juaranya belum terasah benar.

Icuk bahkan seperti mengalami trauma Ketika melawan Yang Yang (Tiongkok) yang belum pernah dikalahkannya dalam beberapa belas pertemuan. Namun waktu pendewasaan datang pula. Salahsatunya ketika Icuk sudah mulai mampu mengalahkan Han Jian, sekitar tahun 1986. Bahkan saat itu Icuk mengeluarkan pukulan aneh-aneh yang tidak ada di kamus bulutangkis (seperti sambil rebahan, membalikan badan untuk meng-counter pukulan Han Jian).

Sampai akhirnya tahun 1987 Icuk mampu mengalahkan Yang Yang di Hongkong Open. Satu-satunya kemenangan yang Icuk mampu bukukan atas Yang Yang.

Analog dengan Jonatan Christie. Dia menyandang juara Asian Games (AG) pada usia 21 tahun kemudian hanya juara di Australia atau New Zealand. Banyak orang berasumsi bahwa Jojo memang cocoknya untuk kejuaraan multi event layaknya AG dan SG (karena sebelumnya pernah meraih emas Sea Games untuk individu). Kita harapkan dengan juara Swiss Open ini kedewasaan bermain Jojo makin muncul. Jojo sangat menikmati pertandingan ketika melawan Prannoy, dan kadang muncul juga pukulan mengecoh, mungkin bisa dikatakan level pukulan yang aneh-aneh. Mirip Icuk di umur menjelang 25 tahun mendapatkan kedewasaan bermain (dan berpikir tentu saja), kira-kira saat inilah Jojo mencapai usia dan -diharapkan- pendewasaan yang sama.

Kalau Icuk susah mengalahkan Yang Yang, maka Fajar Alfian/ Rian Ardianto belum pernah mengalahkan Aaron Chia/ Soh Wooi Yik dari Malaysia. Skornya 3-0 untuk keunggulan Chia/ Yik. Namun hal itu tertuntaskan di Swiss Open 2022 ini. Fajar/ Rian mampu menyingkirkan Chia/ Yik di semifinal dengan rubber set. Bahkan uniknya di set ketiga, kemenangan yang diraihnya mencapai skor telak 21-8 atas pasangan Malaysia itu.

Fajar/ Rian dengan demikian menaklukkan 3 (tiga) pasangan Malaysia sejak babak perempat final. Dari mulai Ong Yew Sin/ Teo Ee Yi kemudian Aaron Chia/ Yik dan Goh Sze Fei/Nur Izzuddin di final. Goh/ Nur ini merupakan juara Jerman Open tiga pekan yang lalu.

Selain dengan Aaron Chia/ Soh Wooi Yik, selama ini Fajar/ Rian sering mentok kalau bertemu dengan pasangan sendiri. Dari mulai menjadi runner-up di ajang Asian Games 2018, kalah melawan “the minnions” Marcus/ Kevin. Lalu tersisih dari road to Olympic di Rio de Janeiro karena peringkat kalah melawan the daddies, Moh Ahsan/ Hendra Setiawan.

Kemudian sesudha itu beberapa kali kalah di R-1 melawan pasangan Indonesia yang lebih muda. Tapi di partai final Swiss Open ini memang Fajar/ Rian tampil pada performa terbaik. Terutama Fajar mampu mencegat bola di depan net. Sepertinya lebih dari 5 (lima) kali pasangan kita ini mendapat  poin dari samberan di depan net. Momentum sambaran di depan net memerlukan kejelian mata dan tebakan yang tepat. Namun ketika memang pas waktunya, sang lawan tak bisa beringsut apa-apa.

Kalau di era-era dulu PBSI menemukan pemain spesialis runner up, so untuk menaikkan mentalnya maka pemain tersebut diturunkan levelnya di kejuaraan yang lebih rendah. Ini terjadi pada pemain old crack kita seperti Edi Kurniawan tahun 80-an, dan Joko Supriyanto era 90-an. Mungkin sedikit agak berbeda pada turnamen level 300 seperti di Swiss ini. Kali ini turnamen bisa dipandang sebagai effort untuk mengembalikan lagi mental juara yang pernah ada. Selamat buat PBSI menjadi juara umum di turnamen Swiss Open 2022.

Yuni Andono Achmad adalah pengamat bulutangkis yang tinggal di kabupaten Bogor. Sehari-hari menjadi dosen di Universitas Gunadarma, Jakarta.

 

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer