Sabtu, Maret 7, 2026
BerandaHeadline "Berpacu dengan Waktu"

[kolom sastra] “Berpacu dengan Waktu”

Chris Triwarseno: Setiap waktu yang berlalu, adalah sepenggal perjalanan memori yang terekam, sebagian merupakan kenangan yang merekonstruksi sedih dan bahagia, momentum berpijak untuk masa depan. Melangkah adalah konsekuensi dinamis, seperti halnya pergerakan jarum jam, waktu-waktu itu bersama kita dan berputar seiring siklus hidup.

 

BERPACU DENGAN WAKTU 

Menit demi menit sudah kaureguk 

Dari hela nafas barusan

Belum sempat beranjak, tapi sudah kau mulai

Pergerakan kedua jarum itu

 

 

Baru saja hendak kureguk secangkir teh manisku,

Sudah kau putar otak ini untuk berpikir

 

 

Langkah baru saja sejengkal, tak ayal

Kau jegal lagi dengan pegalnya tubuh ini

Ngilu masih saja terasa, karena kau bungkam

Bicaraku dengan perseteruan waktu

 

 

Kancing bajuku masih terbuka, 

Sudah juga kau ajak aku berlarian

Mengejar pintu yang segera tertutup

 

 

Tali sepatu belum tersimpul, tetap saja kau

Tak sabar menarikku sambil lalu

Jarum itu terus saja melaju ke angka-angka berikutnya

Tak pernah mau tau

Aku hanya selalu  menjadi bayangan, 

Yang selalu tertinggal oleh tuannya

Atau jejak tapal kuda yang selalu

Ditinggalkan turangganya

(September 2008)

 

RAPUH

Tuhan hanya ini pintaku, jika aku rapuh

Semoga tidak mengeluh

Dan jika tangguh

Semoga tidak angkuh

Hanya peluh

Ini yang membuatku bersimpuh

(Juni 2017)

TOPENG KEHIDUPAN

Tak lagi ramai diperbincangakan

Lirik lagu buka dulu topengmu

Keaslian sudah ditopengkan

Demi kepentingan semu

 

 

Badut pun sudah tak lucu

Meskipun berada dibalik topeng

Pemangku kepentingan tak ragu

Meskipun berada dibalik bopeng

 

 

Lagu maupun sajak satir

Tidak lagi menjadikan mereka getir

Surat terbuka maupun angkat bicara

Tidak lagi menjadikan mereka jera

 

 

Melangkah jumawa diatas kepapaan

Menangis lah jelata terabaikan

Suara sumbang bungkam kegaduhan

Hanya ada kejujuran yang tergadaikan

 

 

Sebelum kepentingan menelikung

Aku, kamu, kita dan kami

Hanya obyek penderita buntung

Selebihnya ya hanya tunggu nanti

 

 

Tunggu saja Togog dan Mbilung

Jadi Ksatria palsu yang ulung

Pengekor setianya hanya bingung

Jadi pelakon topeng agung

(Maret 2017)

 

 

CHRIS TRIWARSENO, lahir di Karanganyar, 14 Februari 1981. Alumni Teknik Geodesi UGM, Yogyakarta. Seorang karyawan swasta yang tinggal di Ungaran, Semarang. Penulis buku puisi “Bait-bait Pujangga Sepi”, aktif di beberapa komunitas literasi. Beberapa karyanya yang lain diterbitkan di media seperti: Suara Merdeka, nadariau.com, negerikertas.com, Arahbatin.com lensalawu.com dan lain-lain.

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer