Kampar (Nadariau.com)- Kepala Dinas PUPR Kampar, Afdal, ST MT menyebutkan, untuk mengatasi banjir di Bangkinang Kota itu harus dengan pembangunan 5 titik shortcut untuk pengaliran air ke sungai Kampar.
Namun pembangunan tersebut tidak semudah yang dipikirkan, selain anggarannya besar ada berbagai macam persyaratan yang memerlukan izin pusat berupa rekomtek yang sebelumnya kita diminta untuk membuat Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL), sesuai dg hasil koordinasi bersama BWS (Badan Wilayah Sungai) 3.
Seperti dikatakan Afdal, banjir yang terjadi di Bangkinang Kota itu merupakan akumulasi permasalahan lama.
“Apalagi cuaca sekarang ekstrim, tentu curah hujan saat ini sangat tinggi. Sementara, kapasitas drainase itu fungsinya cuma mengalirkan, tidak bisa mengurangi jumlah air yang turun,” ujar Afdhal kepada Nadariau.com, Sabtu 27 Maret 2021.
Afdal menuturkan, pembangunan drainase di Bangkinang Kota tersebut dulunya tidak memperhitungkan kondisi yang sekarang. Sebab rumah warga dulu masih sedikit dan sumber resapan air masih banyak.
“Seperti di Jalan Kartini dan Jalan Cik Ditiro, dan Candika itukan permukiman rumah warga itu masih sedikit, tentunya buangan air dari sisi hulunya tidak seperti sekarang ini, lalu di hilir pun airnya tidak ada hambatan, makanya air yang ada tersebut ngalirnya plong, sifat pasti mencari dataran rendah,” jelasnya.
Upaya yang dilakukan sekarang tidak bisa lagi memperbaiki (memperlebar) seluruh drainase, sebab buangan ke sungai tidak ada.
“Kalau kita perbesar drainase yang ada di kota itu sama saja kita memindahkan banjir dari tempat satu ke tempat yang lain, sebab shortcut tidak ada, mau dibuang kemana airnya,” ucap Afdal.
Kini, pihaknya kini tengah mengajukan pembangunan shortcut, karena banyak prosedur perizinan pusat dan ketetapan anggaran dari pusat.
“Sebenarnya sejak tahun 2019 sudah kita anggarkan, hanya saja setelah koordinasi BWS 3 ternyata perlu izin pusat yang didahului dengan Rekomtek tadi, makanya kita batalkan. Ditambah lagi kemarin anggaran banyak terpotong, hitung-hitungan konsultan sebenarnya 5 titik, tapi terpenuhi saja 3 titik kita anggarkan di tahun 2022, minimal bisa mengurangi beban air di saat kita menghadapi cuaca ekstrim,” sambungnya.
3 titik yang dimaksud Afdal terletak di depan Dinas Kesehatan Kampar, Puskesmas Bangkinang Kota dan di samping Polres Kampar.
“Solusi utama yang bisa kita lakukan saat ini yakni membersihkan sampah-sampah yang ada di sepanjang selokan air, khususnya drainase dekat PMI menjadi sorotan kita, setiap banjir staf PUPR selalu memantau titik dimana air tdk bisa lancar, dan pantauan kita selain ada Bottle Neck juga di sana banyak sampah,” tutupnya.
Kalaksa BPBD Kampar, Afrudin Amga, ketika ditanya mengenai solusi menghadapi banjir pihaknya menjawab biasanya kalau di BPBD itu sendiri ada dana namanya rehabilitasi.
“Sebaliknya harus melihat kondisi anggaran juga, kalau saya rasa kalau perbaikan memakai dana kita itu tidak cukup, tapi semua terpulang kepada tim teknis,” tutup Amga. (Dika/DW)


