Pekanbaru (Nadariau.com) – Festival Terus Bergerak (FTB) 2020 yang ditaja Gerakan Turun Tangan di tengah pendemi Covid-19 tetap berlangsung. Asosiasi Seniman Riau (Aseri) diwakili Sekretaris Umum, Aristofani Fahmi memaparkan kondisi seniman di Riau saat pendemi. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring (online) berbentuk webinar (seminar daring), menggunakan platform StreamYard dan disiarkan langsung pada akun Youtube resmi Turun Tangan, Sabtu 3 Oktober 2020.
Webinar ini diselenggarakan dalam 3 sesi dengan topik yang berbeda. Sesi I bertema “Menjaga Kesehatan Masyarakat (Fisik dan Mental)”. Topik ini menghadirkan pembicara Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK Unand), Dr. dr. Andani Eka Putra, M.S; Co-Founder Ubah Stigma, Emily Jasmin BA; dan dimoderatori Ilham dari relawan Turun Tangan Medan.
Asosiasi Seniman Riau (Aseri) diwakili Sekretaris Umum, Aristofani Fahmi yang berbicara pada Sesi II bertopik “Siasat Seniman Saat Pandemi”. Selain Aristofani, pembicara pada sesi ini adalah Mariscka Febriyani, Founder Yayasan Bina Ballet Indonesia; Kemala Astika, Pegiat Film dan Penggagas Festival Film Bahari; serta Bunga Manggiasih, Manajer Komunikasi Koalisi Seni. Sesi ini dipandu Heru dari Relawan Turun Tangan Lhokseumawe.
Sesi III bertopik “Terus Bergerak untuk Kemajuan Pendidikan”. Pembicara sesi ini, yaitu Fauzan Alrasyid, Senior Editor Russia Beyond yang juga Dosen Universitas Indonesia; Magenda Juang dari Campaign Manager Indonesia Mengajar; dengan moderator Syartika dari Relawan Turun Tangan Ambon.
Pada gilirannya, Aristofani Fahmi memaparkan secara singkat kondisi seniman di Riau saat pandemi yang terdampak parah. Pembatasan sosial, kata Aristofani, berdampak langsung terhadap pemasukan ekonomi seniman.
“Tidak ada jalan lain selain menjual apa yang dimiliki, termasuk alat musik,” ungkap Aristofani yang juga pemusik ini, mencontohkan.
Di sisi lain, seniman perupa Jon Kobet, bebernya, bahkan membuat pengumuman lelang karya lukis yang notabene bukan dalam rangka exhibition (pameran), melainkan sekadar untuk mencoba bertahan hidup. Berdasarkan kondisi tersebut, Aseri dibentuk dengan visi misi yang tidak tanggung-tanggung, yakni mengupayakan kesejahteraan seniman Riau.
Visi misi ini, lanjutnya, memang terkesan muluk. Namun, dalam usianya yang baru 2 bulanan, program yang disusun secara efektif mulai membuka jalan. Strategi Aseri adalah merumuskan permasalahan, merumuskan program, dan mengajak stakeholder (pemangku kepentingan) di Riau untuk turut berpartisipasi mewujudkan ekosistem seni yang sehat di Riau, sebagaimana visi Aseri.
“Aseri mengajak seluruh stakeholder di Riau untuk setuju bahwa kesenian dan seniman adalah unsur penting dalam pembangunan,” terang Aristofani dalam pemaparannya.
Pada sesi diskusi, para pembicara mendapat pertanyaan yang sama megenai bagaimana pemantauan terhadap kebijakan pemerintah daerah terhadap seniman. Pertanyaan yang disampaikan oleh Caecilia Mediana dari Harian Kompas ini ditanggapi masing-masing pembicara.
Berdasarkan aktivitas di Aseri, Aristofani menyimpulkan bahwa Pemerintah Riau sangat lamban merespons kondisi seniman Riau. Aristofani menerangkan, memang pada awal pandemi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui perantara Dewan Kesenian Riau menyalurkan beberapa paket sembilan bahan pokok (sembako). Namun, Aseri menilai sembako bukan menjadi solusi efektif sebab sifatnya sementara saja.
“Yang dibutuhkan adalah kebijakan berkesinambungan dengan membuat para seniman tetap berkarya di masa pendemi ini,” lanjut Aristofani.
Kebijakan seperti ini, kata dia lagi, seharusnya sudah terjadi sejak awal karena Riau memiliki dana Bantuan Tak Terduga dengan jumlah yang cukup besar. Hal ini terungkap pada salah satu diskusi Aseri dalam program rutin Riau Artist Club (RAC) bekerja sama dengan Ceria TV.
Selain itu, dalam rilis Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Provinsi Riau, disebutkan bahwa Pemprov Riau menyiapkan anggaran sekitar Rp473 miliar untuk penanganan Covid-19. Menurut FITRA, anggaran ini baru terserap sekitar 40%, dengan fokus pada pemulihan kesehatan dan ekonomi kerakyatan.
“Syahrial Abdi sebagai Sekretaris Satgas (Satuan Tugas) Covid-19 Riau mengatakan, anggaran tersebut juga dapat diperuntukkan bagi aktivitas kesenian terdampak Covid. Hanya saja, pengusulannya melalui OPD (Organisasi Perangkat Daerah) atau dinas terkait,” tutur Aristofani mengutip pernyataan Syarial Abdi dalam program RAC.
Akan tetapi, sampai hari ini, setelah 5 bulanan pandemi melanda, sebutnya, belum tampak OPD bersungguh-sungguh mengakses dana tersebut untuk kepentingan seniman dan kegiatan kesenian.
Adapun Aseri sejak awal berdiri telah mendatangi dua OPD terkait, Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata, untuk meminta penjelasan terkait hal itu. Namun, setakat ini belum menemukan titik terang. (win)


