Pekanbaru (Nadariau.com) – Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dan berperan aktif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di tengah ancaman fenomena El Nino yang diprediksi memicu kemarau panjang pada tahun 2026.
Ajakan tersebut disampaikan Kapolda usai Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Karhutla 2026 yang digelar di Aula Tribrata, Mapolda Riau, Senin (27/04/2026).
Dalam keterangannya, Kapolda menegaskan bahwa rapat koordinasi tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam menghadapi potensi karhutla yang diperkirakan meningkat seiring kondisi cuaca ekstrem.
“Hari ini kita menguatkan komitmen bersama melalui rapat koordinasi lintas sektoral. Ini adalah bentuk kerja kolaboratif dalam menghadapi ancaman karhutla 2026 dan fenomena El Nino,” kata Irjen Hery.
Berdasarkan informasi dari BMKG, lanjut Kapolda, Provinsi Riau diprediksi akan mengalami musim kemarau panjang mulai Juni hingga sekitar enam bulan ke depan, dengan curah hujan yang rendah. Kondisi ini berpotensi besar memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Kapolda juga mengungkapkan bahwa berbagai pihak telah menyampaikan paparan dalam rapat tersebut, mulai dari unsur TNI, BMKG, pemerintah daerah, hingga pelaku usaha.
Semua pihak menyoroti potensi risiko jika karhutla tidak ditangani secara serius, serta langkah-langkah strategis yang harus dilakukan secara bersama.
Beberapa upaya yang menjadi fokus antara lain penyiapan embung air, penguatan sekat kanal, pembangunan menara pantau api, hingga peningkatan patroli di wilayah rawan.
Namun demikian, Kapolda menekankan bahwa langkah paling penting adalah pencegahan melalui edukasi dan perubahan pola pikir masyarakat.
“Kita harus memperkuat upaya pencegahan dengan memberikan edukasi, literasi, dan sosialisasi kepada masyarakat agar mindset berubah. Masyarakat harus ikut mengambil peran dalam mencegah karhutla,” tegasnya.
Ia juga menyoroti luasnya lahan gambut di Provinsi Riau yang mencapai sekitar 5,3 juta hektare, terbesar dibandingkan provinsi lain di Indonesia, sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan serius.
Selain itu, Kapolda mengungkapkan bahwa secara nasional telah tercatat sekitar 53.000 hektare lahan terbakar, dengan wilayah Kalimantan Barat dan Riau menjadi daerah dengan tingkat kerawanan tinggi.
Untuk itu, Kapolda menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk peran media dalam menyebarluaskan informasi dan edukasi kepada masyarakat terkait upaya pencegahan karhutla.
“Kami juga membutuhkan dukungan rekan-rekan media untuk terus menyampaikan kepada masyarakat langkah-langkah pencegahan yang telah dilakukan,” kata Irjen Hery.
Ke depan, penguatan sistem pengendalian karhutla juga akan dilakukan melalui optimalisasi posko, peningkatan koordinasi dengan BPBD, serta perencanaan yang matang melalui survei dan pemantauan berkelanjutan di lapangan.
Kapolda berharap, dengan sinergi dan kerja bersama seluruh pihak, potensi karhutla di Bumi Lancang Kuning dapat ditekan secara signifikan.
“Mari kita samakan visi dan frekuensi, bergerak serentak menjaga lingkungan. Jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita,” tutup Kapolda.(sony)


