Selasa, Maret 10, 2026
BerandaHeadlineDaun-daun Berguguran di Birmingham #PBSI

Daun-daun Berguguran di Birmingham #PBSI

Oleh: YUNIANDONO ACHMAD. Gambar: Aaron TaiĀ andĀ Kang Khai Xing, pasangan Malaysia yang menyingkirkan unggulan dari India, Satwiksairaj Rankireddy/ Chirag Shetty. Dari bwfworldtour(dot)bwfbadminton.com/news-single/2026/03/04

Perhelatan All England 2026 berlangsung di kota Birmingham, tepatnya di stadium Utilita Arena, Inggris. Saat tulisan ini disusun, sudah mendekati partai final. Awalnya tim Indonesia dipuji media massa baik dalam maupun luar negeri karena penampilan para debutan. Pada perempat final, bendera merah putih bertebaran di depan/ belakang nama pemain dalam bracket turnamen.

Terlihat di susunan jadwal laga atlet PBSI tampak merata di 5 (lima) nomor. Tunggal Putri Kusuma Wardani, tunggal putra Alwi Farhan, ganda putri Febriana Kusuma/ Melisa Trias, ganda campuran Amri Syahnawi/ Nita Marwah, kemudian 2 (dua) pasang ganda putra Rian Ardianto/ Rahmat Hidayat beserta Raymond Indra/ Nikolaus Joaquin.

Harapan tentunya sangat tinggi. Bayangkan dari 8 (delapan) debutan sedunia yang tampil di All England kali ini, 7 (tujuh) dari Indonesia. Hanya ada satu yang non Indonesia yaitu Victor Lai dari Kanada.

Ketujuh debutan Indonesia di perempat final All England 2026 tersebar di 4 (empat) nomor berbeda. Tunggal putra diwakili Alwi Farhan, lalu ganda campuran ada Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah.Ā  Pasangan MD usia 20 tahun Raymond Indra/Nikolaus Joaquin dan peganda Rahmat Hidayat. Meilysa Trias Puspitasari belum lama mengarungi agenda BWF World Tour bersama seniornya, Febriana Dwipuji Kusuma. Sedangkan Rahmat Hidayat belum ada setahun menjadi tandem pemain senior kita, Rian Ardianto.

Berguguran di Perempat Final

Namun memang, sayangnya, di perempat final itulah pemain debutan berguguran. Hanya tinggal menyisakan Raymond Indra/ Nikolaus Joaquin yang secara gemilang menumbangkan unggulan 3/4 dari negeri Tiongkok, Liang Weikeng/ Wang Chan. Alwi Farhan kalah dari Kunlavuth Vitidsarn. Putri KW lagi-lagi dipencundangi pemain nomor 1 (satu) asal Korea, An Seo Young. Ganda putri Febriana/ Meilysa Trias kalah dari pemain negeri jiran, Pearly Tan/ Thinaah. Sedangkan Rahmat Hidayat/ Rian Ardianto takluk dari pemain Tiongkok, Chen Bo Yang/ Liu Yi.

Sembari agak-agak melankolis muncul senandung lagu lama dari Sandro Tobing, ā€œDaun-daun berguguran. Namun cinta kita, tetap kan bersatu. Dalam suka dan duka …. Bersama.ā€ Bagi pemerhati olahraga, mungkin terasa agak miris. Tahun lalu kita masih menyisakan 1 (satu) partai di final yakni Leo Rolly/ Bagas Maulana yang menantang Seo Seung Jae/ Kim Won Ho di ganda putra. Tahun ini zonk di partai final -setelah Seo/Kim mengalahkan yunior kita, Raymond/ Nikolaus,

Lagi-lagi tanpa gelar di All England. Miris, tapi tetap ada secercah positif perkembangan pemain kita. Alwi Farhan mampu mengalahkan pemain berpengalaman asal Taipei, Chou Tien Chen. Rahmat/ Rian menyingkirkan unggulan dari Malaysia. Nur Izzudin/ Goh. Kemudian Febriana/ Trias bisa menyingkirkan pasangan Jepang, Iwanaga/ Nakanishi. Pasangan Amri/ Nita babak sebelumnya mengalahkan sekondannya, Jafar Hidayatullah/ Felisha. Sementara Jafar/ Felisha pada babak sebelumnya mampu dengan gemilang menyingkirkan pasangan Tiongkok, Gao Fangjie/ M Wu.

All England 2026 awalnya tampak bersahabat untuk debutan asal Indonesia. Namun begitu perempat final, ia begitu kejam sehingga pemain pelatnas Cipayung berguguran. Ketika mencapai semifinal, habislah pemain kita.

Secara umum, mendekati final di hari Minggu, beberapa negara membukukan kesuksesan. Salahsatunya China Taipei, yang mampu meloloskan 2 (dua) finalis di tunggal putra dan ganda campuran. Pemain MS Taiwan ini yang merupakan nomor dua di negaranya, Lin Chun Yi, berhasil mengalahkan Jonatan Christie di babak 16 besar, dan unggulan kedua asal Thailand -Kunlavuth Vitidsarn- di babak semifinal.

Korea Selatan menjadi negara terbanyak yang meloloskan pemain ke final, yaitu di sektor ganda putra/ putri dan tunggal putri. Tiongkok meski masih mewakilkan dua pemain, tapi terlihat ada penurunan dibanding turnamen sebelumnya dan juga apabila dibandingkan AE tahun-tahun sebelumnya. India mengejutkan karena pemain tunggal pria yang diperkirakan prestasinya makin menurun -yakni Lakshya Sen.

All England merupakan turnamen BWF World Tour Super 1000 kedua pada tahun ini setelah Malaysia Terbuka pada Januari lalu. Keduanya berlevel sama, seperti juga Indonesia Terbuka yang akan berlangsung pada 2-7 Juni dan China Terbuka pada 21-26 Juli. Namun, All England selalu punya makna spesial bagi atlet bulu tangkis. All England setara Wimbledon, salah satu dari empat Grand Slam di arena tenis profesional. Sebagai kejuaraan tertua di cabang masing-masing, All England (digelar sejak 1899) dan Wimbledon (1877) menjadi kejuaraan paling presitisius dengan atmosfer ā€magisā€. Rasanya, tak ada atlet yang tak punya keinginan menjadi juara All England.

Indonesia punya catatan cukup baik di All England dengan total 52 gelar juara. Dari lima nomor, ganda putra menjadi yang tersukses dengan 24 gelar, diikuti tunggal putra yang mengumpulkan 16 gelar. Namun kali ini, daun daun berguguran lebih cepat di perempat final, di kota Birmingham. Sayang memang, namun para debutan memperlihatkan secercah harapan.

Kolom/ opini olahraga ini ditulis olehĀ YUNI ANDONO ACHMAD, S.E., M.E., pemerhati bulutangkis dari Bogor.

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer