Pekanbaru (Nadariau.com) – Jarak ratusan kilometer bukan penghalang untuk
menautkan kembali tali silaturahmi. Rombongan Ikatan Keluarga Koto Panjang (IKKP)
Pekanbaru menggelar perjalanan silaturahmi penuh makna menuju Medan, Sumatera
Utara, Sabtu (12/9/2026).
Suasana terasa hangat, saat rombongan disambut di Medan dengan sajian hidangan
khas Nagari Koto Panjang, gulai jengkol berbumbu kulit kayu Tebing Batu yang
dimasak secara tradisional. Aromanya yang khas membangkitkan selera dan ingatan akan tanah kelahiran. Sehingga bagi siapa lambat tidak kebagian nasi yang berasnya juga asli
dikirim dari kampung halaman.

Bagi Yanti warga IKKP yang telah merantau sejak 1993 tersebut mengatakan, momen ini bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan bagi dirinya. Pasalnya, sudah puluhan tahun menanti, baru saat ini warga kampung berkesempatan berkunjung ke rumahnya. Maka pada pertemuan ini, menjadi momen emosional yang menyatukan tawa bahagia, kenangan masa lalu, hingga mengalir ke tangis haru yang menusuk kalbu.
“Pertemuan ini sangat menyenangkan hati saya. Karena sudah berpuluh tahun
merantau ke Medan, baru saat ini orang kampung bisa makan dengan hidangan
sederhana di rumah saya,” kata Yanti warga IKKP didampingi suaminya pengusaha
konveksi dan bordir di Kota Medan.


Namun, kisah paling menyentuh hati berlanjut saat rombongan menempuh rute
menantang sejauh 36 kilometer menuju Desa Peria-ria, Kecamatan Biru-Biru,
Kabupaten Deli Serdang. Melintasi jalanan terjal di lereng bukit yang mirip rute menuju
Sumpur Kudus, perjalanan berat itu terbayar tuntas saat bertemu dengan Upik.
Saat itu, airmata tak terbendung ketika Upik mengungkapkan betapa berartinya
kehadiran rombongan IKKP Pekanbaru. Selama puluhan tahun, obat rindunya pada
Nagari Koto Panjang hanyalah pulang kampung sekali setiap tiga tahun. Namun pada
pertemuan langka ini, menjadi pengobat rindu yang sangat mendalam bagi keluarganya.

Kemudian, rombongan disajikan dengan momen relaksasi di kawasan wisata pemandian air
panas belerang yang asri, tuk melepaskan seluruh lelah fisik usai menempuh rute ekstrem,
sekaligus mempererat persaudaraan yang tak lekang oleh waktu.
Meski disana mereka berada di daerah minoritas, namun tingkat kerukunan beragama
sangat tinggi. Untuk membangun masjid saja, seluruh warga yang ada sekitar 200
Kepala Keluarga, turut bergotongroyong ikut membangun sampai selesai. Sehingga
beliau bersama empat orang anaknya merasa aman dan nyaman disana, meski belum
sempat dikunjungi oleh sanak saudara dan keluarga besarnya kesana.
“Pertemuan ini sangat berarti bagi keluarga saya. Saya harap silaturahmi sesama IKKP
terus berlanjut sebagai pengobat rindu dunsanak dan sahabat Koto Panjang di
perantauan,” ucap Upik bersama suaminya Krisman Barus.


Penasehat IKKP Pekanbaru, Alwis, didampingi Marjulis dan pengurus lainnya
menyampaikan, bahwa silaturahmi ini adalah benteng utama menjaga keutuhan serta
ukhuwah masyarakat Koto Panjang.
Menurutnya, tanpa tatap muka langsung seperti ini, generasi muda perantauan
terancam kehilangan jejak sejarah, ikatan persaudaraan dunsanak kamanakan, serta
kecintaan pada tanah asal mereka.
“Maka kita selaku masyarakat Nagari Koto Panjang akan tetap menjaga ukhuwah masyarakat Koto Panjang di kampung maupun di perantauan. Supaya sejarah itu tidak hilang, tetapi terus mengalir sampai ke generasi berikutnya. Namun jika pertemuan
silaturahmi tersebut tidak dilaksanakan, maka anak – anak kita tidak akan mengerti arti
sebuah kampung asal dan arti pentingnya dunsanak kamanakan dalam sebuah
kehidupan,” kata Alwis dengan penuh semangat kecintaannya terhadap kedaerahan Nagari Koto Panjang. (alin)


