Pekanbaru (Nadariau.com) – Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di tengah ancaman cuaca panas dan musim kemarau yang masih berlangsung.
Ajakan tersebut disampaikan Kapolda usai menggelar Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Provinsi Riau, Kamis (27/8/2026).
Rakor tersebut dihadiri Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo, Kajati Riau, Kepala BMKG, unsur Lanud, BPBD, jajaran TNI-Polri, pemerintah daerah serta pelaku usaha pemegang konsesi.
Kapolda Riau mengatakan, rakor ini menjadi momentum untuk menindaklanjuti arahan Presiden RI agar seluruh pihak bergerak secara kolaboratif dalam menghadapi ancaman karhutla di Provinsi Riau.
“Penanganan karhutla membutuhkan peran dan kolaborasi semua pihak. Bukan hanya TNI, Polri dan pemerintah daerah, tetapi juga pelaku usaha, akademisi, komunitas dan yang paling penting peran serta media,” kata Irjen Herry.
Menurutnya, upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari deteksi dini, langkah preventif, restoratif hingga penegakan hukum. Seluruh pihak, khususnya perusahaan pemegang konsesi, diminta menjalankan tanggung jawabnya dalam menjaga kawasan yang dipercayakan untuk dikelola.
Kapolda juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Ia meminta jajaran Polres, Kodim, pemerintah daerah hingga perangkat desa dan Bhabinkamtibmas bersama-sama memberikan edukasi serta melakukan pengawasan di tengah masyarakat.
“Kita jangan berpuas diri dulu. Masih ada September dan musim kemarau yang cukup panjang. Saya sudah perintahkan Bhabinkamtibmas untuk terus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan secara sembarangan,” kata Kapolda.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolda juga menyampaikan perkembangan terbaru penanganan karhutla di Riau. Berdasarkan pemantauan hingga Kamis pagi, kawasan Taman Nasional Tesso Nilo? No. Kawasan Kerumutan yang sebelumnya menjadi salah satu titik perhatian utama berhasil mencapai kondisi zero hotspot setelah operasi pemadaman dan penanganan dilakukan secara berkelanjutan.
“Kerumutan yang awalnya selama 27 hari, hari ini memasuki hari ke-28 dan sudah zero hotspot. Ini berkat peran pasukan udara dan seluruh unsur yang bekerja bersama,” kata Irjen Herry.
Ia menambahkan, berdasarkan pemantauan terakhir masih terdapat sejumlah hotspot di beberapa wilayah Riau, di antaranya Kabupaten Siak dan Indragiri Hilir. Penanganan dilakukan secara serentak oleh tim gabungan di lapangan.
Kapolda menegaskan, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya diukur dari kemampuan memadamkan api, tetapi juga dari keberhasilan mencegah kebakaran kembali terjadi.
“Kita harus terus memperkuat upaya pencegahan. Pertumbuhan ekonomi jangan sampai kita bayar dengan kerusakan lingkungan,” tegasnya.
Sementara itu, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bekerja bersama dalam penanganan karhutla.
Menurutnya, rakor tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden RI ke Riau pada 25 Agustus 2026. Presiden, kata SF Hariyanto, memberikan apresiasi terhadap kolaborasi pemerintah daerah, TNI, Polri, dunia usaha dan seluruh unsur terkait dalam menangani karhutla.
“Kata kuncinya adalah gotong royong. Inilah yang perlu kita pertahankan. Walaupun hotspot sudah turun sangat jauh, kita tetap harus waspada,” ujarnya.
SF Hariyanto menegaskan, pemerintah daerah bersama TNI-Polri dan seluruh pemangku kepentingan akan terus memperkuat langkah pencegahan agar persoalan karhutla tidak kembali meluas.
Sementara itu, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo mengatakan, seluruh pelaku usaha pemegang konsesi telah diberikan pemahaman mengenai pola penanganan karhutla secara terpadu.
Ia menekankan bahwa konsesi yang diberikan kepada perusahaan merupakan bentuk kepercayaan yang harus diimbangi dengan tanggung jawab menjaga lingkungan.
“Konsesi yang diberikan itu adalah sebuah kepercayaan, sebuah trust. Jadi bukan hanya profit oriented, tetapi harus ada mission oriented untuk sama-sama menjaga agar tidak terjadi kebakaran lahan dan hutan,” kata Agus.
Selain memperkuat pencegahan, Pangdam mengungkapkan pihaknya juga mempercepat pembangunan 500 sumur bor sebagai salah satu upaya mendukung ketersediaan sumber air di wilayah yang berpotensi terdampak karhutla.
Tim teknis akan melakukan pemetaan titik sumber air menggunakan metode geolistrik. Sumur bor tersebut nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat desa, termasuk untuk mendukung penanganan apabila terjadi kebakaran.
Pangdam juga menyebutkan telah mendatangkan sekitar 100 personel penyuluh dari pusat yang terdiri dari unsur perwira untuk membantu memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan karhutla.
Para penyuluh akan berkolaborasi dengan jajaran Kodim, Polres, Koramil, Polsek, Babinsa, Bhabinkamtibmas serta perangkat desa untuk bergerak secara masif memberikan pemahaman mengenai pencegahan, penanganan dan restorasi pascakebakaran.
Selain itu, TNI bersama Polri dan unsur terkait juga menyiapkan posko kesehatan di wilayah yang terdampak asap. Posko tersebut akan dilengkapi oksigen dan masker untuk membantu masyarakat maupun personel yang bertugas di lapangan.
“Posko juga akan disiapkan di tengah medan kerja kebakaran hutan dan lahan untuk dimanfaatkan tim yang melakukan penanganan, baik dari Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, TNI maupun Polri,” jelas Agus.
Dengan sinergi seluruh pihak tersebut, pemerintah bersama TNI-Polri berharap penanganan karhutla di Riau dapat terus ditekan, sekaligus memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.(sony)


