Rabu, Februari 25, 2026
BerandaIndeksMalay Open: Yang Muda yang Berkarya

Malay Open: Yang Muda yang Berkarya

KEMARIN tanggal 14/01/24 pertandingan final Malaysia Open -sebagai pembuka turnamen bulutangkis tahun shio Naga ini- telah paripurna. Hampir semua pemenang adalah usia muda. Mengingatkan pada judul film “Yang Muda, Yang Bercinta” garapan sutradara Sjuman Djaya di tahun 1977. Untuk era sekarang, mungkin yang lebih cocok adalah: yang muda yang berkarya.

Relevan dengan hasil turnamen Malaysia Open 2024 ini. Yang muda yang berkarya, artinya yang muda mengalahkan generasi tua. Generasi penerus mengalahkan generasi yang “terus menerus”. Walau memang hanya satu yang tidak. Yakni di sektor ganda campuran, pasangan Jepang -yang lebih tua- yaitu Yuka Watanabe/ Arisha Higasino mengalahkan yunior asal Korea Selatan -Kim Won Ho/ Jeong Na Eun.

Bahkan di ganda putri, sesama pemudi Tiongkok bertarung dalam all Chinese final yang dimenangkan Liu Shengshu/Tan Ning (CHN) mengalahkan kompatriotnya Zhang Shuxian/Zheng Yu (CHN). Kemudian tunggal putri An Se-young usia 21 tahun asal Korea mengalahkan peraih perak olimpiade Tokyo 2020 asal Taiwan, Tai Tzu Ying. Sedang tunggal putra belia Denmark bernama Anders Antonsen mengalahkan Shi Yuqi dengan straight set. Terakhir pasangan belia Tiongkok, Liang Wei Keng/ Wang Chang menumbangkan pasangan gaek India, Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty dalam pertarungan sengit rubber 9-21, 21-18, 21-17.

Beberapa rekor tercipta dalam pertandingan di Axiata Arena, Kuala Lumpur ini. Untuk pertama kalinya pasangan ganda campuran Jepang menjadi juara, juga tunggal putri Korea di turnamen Malaysia Open sejak terselenggara di tahun 1937 dengan nama Malaya Badminton Championship.

Bagi pasangan ganda putra India, Satwiksairaj/ Shetty, ini juga pertama kalinya gugur di babak final. Selama ini duo India selalu mengalahkan lawan-lawannya di final, namun tidak kali ini di tangan Liang/ Wang asal Tiongkok.

Memang unik pasangan India ini. Meski tidak pernah menjadi runner up, namun kalau pas kalah maka kekalahan yang dialami adalah di babak awal. Tahun kemarin menjadi penurunan performa Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty, karena sering kepentok di babak 32 dan 16 besar. Bahkan dua kali kalah dengan pasangan kita, Bagas Maulana/ Muhammad Shohibul Fikri. Kedua kekalahan atas pemain kita terjadi di Thailand Terbuka bulan Juni dan China Terbuka di bulan September 2023.

Sebulan berikutnya duo Cireng (demikian netizen tanah air menjulukinya) gugur di babak pertama atas “the daddies” (Hendra/ Ahsan) di Perancis Terbuka. Meski tahun lalu pasangan India ini menjadi kampiun di Indonesia Open, Denmark dan Swiss Open namun poin yang didapat tidak mampu mengantarkan mereka ke putaran akhir di bulan Desember: World Tour Final sebagai turnamen pamungkas tahun 2023.

Kembali ke judul, “yang muda yang berkarya” bukankah menjadi refleksi kita juga atas ambruknya prestasi PBSI di setengah tahun terakhir ini. Para pemain muda kita belum siap benar menerima tampuk tongkat estafet dari seniornya. Yang dimaksud muda di sini adalah misalnya Putri Kusuma Wardani, Chico Aura Dwi, Leo Rolly Carnando/ Daniel, Bagas/ Fikri, dan Rehan Naufal/ Lisa Kusumawati. Padahal yang juara di Malaysia Open adalah pemain yang seusia mereka-mereka ini.

Tahun lalu, tepatnya awal tahun, kita masih bisa mendapat beberapa gelar juara. Terutama di ganda putra melalui Fajar Alfian/ Rian Ardianto di turnamen ini juga, di Malaysia Open 2023. Dan selang dua bulan kemudian, Fajri -panggilan double kita ini- menjuarai All England. Namun kemudian prestasinya surut seiring berjalannya waktu, sampai terpuruk akhir tahun.

Tahun 2023 lalu, Fajri dua kali kalah melawan pasangan yang sama yaitu dari India (Satwikaraj/ Chirag) dan dari Korea (Seo Seung Jae/ Kang Min Hyuk). Kemudian kekalahan di Kuala Lumpur ini menambah daftar tumbang dari pasangan Tiongkok: Liang Wei Keng/ Wang Chang -pada semifinal WTF bulan desember lalu. Kita hanya bisa berharap pekan depan di India Open, duet Fajri menemukan kinerja puncak (peak performance-nya lagi).

Hasil di Malaysia Open -dan bulan sebelumnya di WTF memberi angin pesimis pada tim kita untuk menatap Olimpiade Paris di akhir Juli dan awal Agustus 2024 nanti. Cukup berhati-hati kalau ditulis bahwa kita jangan berharap emas. Bahkan masuk semifinalpun bisa jadi proyek yang ambisius. Karena bulan Juli sudah mendekat. Saran saya, sebaiknya PBSI fokus ke pemain yang akan lolos olimpiade. Sudah harus konsentrasi dari sekarang.

Di tunggal putra ada Antony Ginting dan Jonathan “Jojo”. Tunggal putri, ada Gregoria Mariska Tunjung, kemudian duo Fajri dan duo Bakri di MD. Lalu pasangan yang masih berkutat cedera -sehingga tidak turun di Malaysia Open- yakni Apriyani Rahayu/ Siti Fadia Silva Ramadhanti.

Sedang untuk ganda campuran, bisa lolos ke olimpiade saja sudah bersyukur. Sektor XD mengandalkan pasangan luar pelatnas yaitu Dejan/ Gloria, kemudian pemain pelatnas Rehan Kusharjanto/ Lisa dan Rinov Rivaldi/ Pitha. Untuk pasangan Rehan/Lisa mungkin diarahkan ke Olimpiade 2028, karena masih sangat muda.

Pada pekan awal tahun ini, PBSI telah membentuk Tim AdHoc PBSI menuju Olimpiade Paris 2024. Sayangnya, kalau dilihat dari struktur tampak terlalu banyak anggota. Dari nama-nama yang masuk menjadi anggota -banyak mantan atlet yang direkrut. Seperti Ricky Subagja (sebagai wakil manager tim), kemudian Rudi Hartono (dewan penasehat), Christian Hadinata (Direktur Tehnik), Taufik Hidayat (mentor tunggal putra), Susi Susanti (mentor tunggal putri), Candra Wijaya (mentor ganda putra), Greysia Polii (mentor ganda putri), Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad (mentor ganda campuran). Ketua timnya dirangkap oleh Sekjen PBSI, Komjen Fadil Imran.

Belajar dari sejarah, sebenarnya cukup satu orang seperti tahun 1992 ketika Rudy Hartono menggenjot fisik dan mental dari Alan Budi Kusuma, sehingga Alan mampu meraih emas Olimpiade Barcelona. Risiko banyak orang seperti ini adalah tumpang tindih, overlap dan bisa jadi malah ada free rider. Kemudian sudah ada tim pelatih dan asisten yang mendampingi pemain maka kemungkinan muncul “silo mentality” akan mencuat di tengah gerudukan orang anggota/ pengurus ini.

Bahkan dari pernyataan koh Chris ke wartawan, beliau mengatakan bahwa target untuk memasukkan banyak pemain di list pemain yang lolos Olympic karena perhitungan poin masih sampai bulan April 2024. Menurut hemat kami sebenarnya tidak perlu perihal itu. Jangan berpikir memasukkan banyak pemain, tetapi cukup kita fokus ke pemain yang sekiranya dianggap layak saja untuk meraih medali.

Satu saja misalnya sektor tunggal dan ganda putra. Percayakan kepada Rudy Hartono untuk mengulang kejadian tahun 1992 yang membuat “from zero to be hero” yaitu Alan BK meraih emas. Waktu itu Alan terpuruk setelah kalah di beregu dengan pemain Malaysia (sehingga total kita kalah 1-3), namun hanya hitungan bulan sang maestro “rajawali dengan jurus padi” Rudy Hartono membuatnya menjadi peraih emas tunggal putra.

Kita hanya bisa berharap, organisasi semacam “paguyuban” atau tim adhoc bisa bekerja optimal. Namun sekali lagi melihat hasil dua bulan ini, rasanya kok “hil yang mustahal” mendapat emas olimpiade. Namun, ini hanya sebagai penghibur.

Seandainyapun gagal di Olimpiade, PBSI bisa mentarget capaian lain, yaitu putaran final piala Thomas/ Uber 2024. Tim Thomas kita berjaya di tahun 2021, kemudian runner up tahun 2022 -kalah dari India. Semoga bisa lebih siap untuk meraih gelar ke-15 tahun ini, demi kelanggengan rekor tim Thomas Indonesia.

Ditulis oleh Yuniandono Achmad, staf pengajar di sebuah PTS di Depok dan di Jakarta. Tinggal di kec Bojonggede, kabupaten Bogor

 

Keterangan foto judul: Pemain Tiongkok Liang Wei Kang/ Wang Chang, dari bwffansite[dot]com

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer