GAMBAR: Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana raih runner up di Denmark Open (Dok. PP PBSI, dari kompas(dot)com). Artikel di bawah ini ditulis oleh: Yuniandono Achmad
LAGI-lagi hasil kurang menggembirakan didapat PBSI. Setelah zonk tanpa medali satu pun di ajang Asian Games awal Oktober ini, kemudian seminggu sesudahnya juga tanpa gelar di Arctic Open di kota Vantaa, Finlandia. Nah baru sehari kemarin, PBSI juga lagi-lagi tanpa gelar di turnamen Denmark Open yang berakhir Ahad Legi kemarin, 22 Oktober (bertepatan tanggal 07 Rabil Akhir 1445 H).
Meski ada sedikit perbaikan -atau perkembangan positif- yang perlu dicatat. Saat di Arctic Open, tim NKRI hanya menyertakan 1 (satu) pasang pemain di semifinal, yaitu “the daddies” Hendra/ Ahsan. Di Denmark Open cukup lumayan ada 2 (dua) ganda kita, yang bentrok di semifinal, dan meloloskan Bagas/ Fikri menjadi finalis.
Sayangnya Bagas/ Fikri seperti masih ada mental block saat bertemu pasangan negeri jiran, Aaron Chia/ Soh Woi Yik sehingga sampai saat ini sudah 4 (empat) kali bertemu dan belum pernah menang. Skor 4-0 bagi pasangan Malaysia peraih perunggu Olimpiade Tokyo 2021 tersebut. Aaron Chia/ Soh memang menjadi momok tersendiri bagi pemain kita. Pada babak R16, Hendra/ Ahsan juga disingkirkan oleh pemain Malay tersebut.
Kembali ke kegagalan beruntun PBSI, sebenarnya ada 1 (satu) the best defence yang bisa dikemukakan. Yakni adalah, pasca gilang gemilang di Hong Kong Terbuka pertengahan September lalu, kita baru diterpa rentetan kegagalan ini. Saat itu tim Indonesia mendapat 2 (dua) juara melalui sektor tunggal putra dan ganda putri. Serta 1 (satu) runner up melalui ganda putra.
Meski kalah di ganda putra pas final HK Open, Leo Carnando/ Daniel Martin yang masih belia, terpaut 10 tahunan dengan sang lawan di final “pasangan gaek” Kim Astrup/ Rasmussen asal Denmark. Masa depan masih demikian panjang bagi the babbies ini.
Kegagalan paling menohok tentunya di Asian Games Hangzhou itu. Datang dengan predikat unggulan pertama untuk beregu putra, tunggal putra (atas nama Antony Ginting), dan ganda putra Fajar/ Alfian, namun semua tersisih sebelum semifinal. Nasib naas ini mirip saat Asian Games 1986 di Seoul, Korea Selatan, dan AG 1990 di Beijing, Tiongkok. Bedanya saat 86 dan 90 itu PBSI masih bisa mendapat perunggu. Sekarang: zonk.
Catatan kelam tersebut menandai untuk pertama kalinya -semenjak tradisi medali selalu diraih PBSI mulai AG 1962 di Jakarta- tim bulu tangkis Indonesia gagal mendapat medali apapun. Tak hanya nir emas, bahkan perak dan perunggu pun lepas.
Mengapa kita bisa gagal total, terutama di AG 2023? Kabid Binpres PBSI Reonny Mainaky menyampaikan ada beberapa poin terkait faktor kegagalan yaitu,
- Tidak semata karena faktor fisik. Namun tekanan mental, yaitu harus juara, tidak boleh kalah. Dampaknya jadi ragu-ragu, kurang yakin.
- Untuk ganda putra Fajar/Rian, kekalahan di speed and power.
- Pelatih akan lebih banyak bicara dari hati ke hati dengan pemain. Agar semangat pemain untuk tidak mau kalah harus terus berkobar.
- Pelatih fisik akan menata ulang tingkat kebugaran fisik pemain. Semua akan digenjot dan ditingkatkan kebugaran fisik pemain lebih prima.
- Pemain yang memiliki massa lemak tubuh di atas rata-rata atau tampak kegendutan, akan mendapat perhatian dari dokter gizi.
Dan masih ada beberapa argumen penyebab kegagalan yang diungkap Reony Mainaky ke media massa di tanggal 11 Oktober lalu.
Benarkah “bukan fisik” yang menjadi alasan utama, seperti yang dinyatakan oleh Reonny Mainaky tersebut? Kita bisa lihat dari trend pemain. Sebelum terjun ke AG, para pemain utama Indonesia mengikuti turnamen Hong Kong Open. Hasilnya -seperti ditulis di alinea atas tadi- kita mendapat 2 (dua) gelar juara dan 1 (satu) runner up. Namun ketika turun di AG yang hanya selang sepekan, pemain kita turun performanya, baik di beregu maupun di perorangan. Sepertinya butuh recovery yang lebih lama. Seminggu -atau tepatnya 11 hari minus perjalanan- rasanya masih kurang.
Hal ini juga terjadi pada pemain luar negeri. Akane Yamaguci (Jepang) yang menjadi juara di Hong Kong, malah cedera sebelum AG, sehingga urung tampil. Kemudian tunggal putra Jepang Kenta Nishimoto, tunggal Malaysia: Ng Tze Yong, dan ganda putrinya: Pearly Tan/ Tinaah Muralitharan. Semua finalis/ semifinalis di Hong Kong Terbuka tidak meraih medali sama sekali di ajang Asian Games.
Berbeda dengan AG 2014, 2018 dan Asian Games sebelum-sebelumnya, AG tahun ini hanya setahun selisihnya dengan olimpiade. Sementara AG sebelumnya yang disebut tadi, punya selang 2 (dua) tahun -karena berlangsung di tahun genap. Namun AG kali ini di tahun ganjil, dan tidak menyumbang poin untuk olimpiade.
PBSI sepertinya tidak melihat pola tersebut. Pemain tetap dipaksa untuk turun di HK Open, lalu hanya rehat sepekan untuk turun di AG Hangzhou. Bahkan turun sebanyak 2 (dua) kali, yaitu di beregu dan perorangan. Memang bisa dipahami risiko yang disandang PBSI. Melepas HK Open maka tidak mendapat poin berharga untuk ke Paris 2024. Sementara mau fokus ke AG, tapi tidak menyumbang poin untuk road to Paris 2024.
Padahal PBSI membawa 20 pemain, sayangnya belum dioptimalkan semua. Semestinya kalau Jojo sudah “habis” di HK Open, maka berilah kesempatan kepada Chico Aura atau ke Shesar Hiren Rhustavito untuk ikut bermain, minimal di beregu. Namun ya bagaimana lagi, nasi telah menjadi bubur.
Kondisi turnamen olahraga multi event seperti AG -juga Olimpiade dan Sea Games- pasca pandemi Covid19 memang ada anomali. Semestinya berjalan di tahun genap, berubah menjadi tahun ganjil. Kecuali Sea Games yang biasa tahun ganjil, menjadi tahun genap. PBSI kurang antisipatif terhadap perubahan tersebut.
Salahseorang legenda bulutangkis kita, Hariyanto Arbi, menilai kegagalan di Asian Games kemarin merupakan imbas dari persiapan yang tidak maksimal. Seminggu sebelum keberangkatan ke Hangzhou, pemain kita juga bertanding pada Hong Kong Open 2023.
Artinya sisi perencanaan atau planning tidak berjalan dengan mulus. Tidak memasukkan variabel perubahan (pasca pandemi) sebagai faktor penentu.
Kita hanya bisa berharap, bahwa evaluasi yang tepat akan menghindarkan tim kita dari malapetaka “tanpa medali” yang bisa-bisa melebihi AG 2023 ini. Tahun 1986 dan 1990 Indonesia tanpa emas bulutangkis, namun 1994 di Hiroshima kita mendapat 3 (tiga) emas. Tahun 1992 di Olimpiade Barcelona kita mendapat 2 (dua) emas bulutangkis -prestasi yang belum bisa disamai sampai dengan sekarang.
Tentunya ada blessing in disguise. Di balik kegagalan yang total (paripurna?) PBSI, secara tim atau agregat prestasi Indonesia di AG 2023 ini, KONI boleh berbesar hati. Raihan sebanyak 7 (emas) merupakan capaian emas terbanyak Indonesia dapatkan di AG -saat bukan sebagai tuan rumah. Cabang olahraga yang diluar perhitungan, ternyata mendapat emas yang bahkan lebih dari 1 (satu) pinggat. Terimakasih kepada para atlet di cabang: wushu, angkat besi (sampai rekor dunia), sepeda BMX, dayung perahu naga, menembak dan panjat dinding. Terima kasih juga kepada para pengurusnya. Tinggal menunggu cabor Atletik (yang sempat mendapat emas lompat jauh tahun 2014 lalu) dan cabor Renang yang masih belum ada perkembangan sampai saat ini. Sampai jumpa di AG 2026 di Nagoya Jepang!
Yuni Andono Achmad, S.E, M.E., adalah pengamat bulutangkis yang tinggal di Bogor. Sehari-hari mengajar di sebuah PTS di kota Depok dan di Jakarta Pusat.


