gambar dari BWF dan https://id.victorsport.com
Penulis: Yuniandono Ahmad
ADA 2 (dua) laga yang terjadi berbarengan di bulan Mei 2023 ini nanti. Yaitu pesta olahraga Asia Tenggara -atau South East Asia/ Sea Games (SG)- di negeri Kamboja, dan Piala Sudirman di kota Suzhou, Tiongkok. PBSI mau tidak mau harus menurunkan 2 (dua) tim yang berbeda, karena pertandingan berlangsung di pekan yang sama. Sea Games menyita waktu lebih lama disebabkan pertandingan melibatkan partai beregu dan perseorangan.
Tahun 2022 lalu kita juga mengalami hal yang sama, berbarengan antara Thomas/ Uber Cup dengan Sea Games Vietnam. Hasilnya: tim Thomas 2022 menjadi runner up, yang berarti gagal mempertahankan predikat juara tahun 2021. Lalu di ajang SG tim putra mendapat 1 (satu) medali emas melalui all Indonesian final. Sedangkan sektor putri, kita mendapat 1 (satu) emas di ganda putri, dan hanya perempat final untuk Uber Cup.
Tahun lalu, untuk tim putra kekuatan diarahkan ke Thomas Cup, sedangkan tim putri diarahkan ke Sea Games. Keduanya tidak memenuhi harapan. Tim thomas gagal di final, beregu putra SG kehilangan emas, juga tunggal putra tidak meraih medali -perunggu sekalipun.
Hanya tim Uber (yang sepenuhnya pemain Yunior) bisa dikategorikan berhasil karena melaju ke babak perempat final -dengan predikat runner up grup di bawah Jepang. Salahsatu yang fenomenal ketika pemain unyu-unyu kita mampu mengandaskan kekuatan bintang bulutangkis nomor satu dunia, Akane Yamaguci (Jepan). Dia adalah Bilqis Prasysta, putri dari pasangan Joko Suprianto dan Zelin Resiana.
Sedang di SG Vietnam tahun lalu, tim beregu putri (memasang Gregoria M Tunjung dan Putri Kusuma W) gagal total karena hanya merebut perunggu, demikian pula tunggal putrinya. Untung masih ada pasangan baru saat itu -Apriyani Rahayu dan Siti Fadia- yang meraih emas ganda putri.
Tim untuk kedua ajang atau laga di bulan Mein 2023 ini telah ditetapkan. Beberapa pemain yang masih turun di level SG tahun ini (seperti SG tahun lalu) adalah Chico Aura Dwi Wardoyo di tunggal putra, Pramudya Kusuma Wadana/ Yeremia Rambitan di ganda putra, dan Febriana D Kusuma/ Amalia Cahaya Pratiwi di ganda putri.
Sedangkan yang terjadi perubahan adalah pasangan ganda Bagas Maulana/ Muh Shobul Fikri yang dulunya menjadi tim inti untuk beregu Thomas Cup, sekarang turun menjadi andalan di SG. Ganda “the Babbies” Leo/ Daniel Marthin yang tahun lalu mendapat emas SG, sekarang menjadi tim inti untuk beregu.
Ganda the Daddies telah tersingkir -tidak dipakai di SG maupun di level beregu. Tidak apa apa, itu tandanya proses regenerasi telah berjalan.
Hasil selama tur Eropa mengindikasikan banyak hal: ganda Bagas/ Fikri masih belum menjadi juara lagi semenjak kampiun di All England tahun 2022. Kemudian Gregoria Mariska telah mencapai puncak kematangan dengan menjadi juara di Spanyol Master. Pasangan Leo Carnando/ Daniel Martin meski belum juara di Eropa, tetapi permainan dapat dikatakan stabil. Bahkan mampu mengalahkan ganda nomor satu Malaysia, Aaron Chia/ Soh Yik.
Memang ada yang patut dipertanyakan, mengapa the minnions masih diikutsertakan dalam tim Sudirman kita. Apakah nama besarnya masih membuat musuh bergetar? Wallahu alam. Karena tahun ini mereka, salahsatu di antaranya, bahkan bergantian, masih bergulat dengan cedera.
Pemain lainnya yang menggembirakan prestasinya di tuur di benua Eropa ini adalah Christian Adinata, 22 tahun. Pemain asal Pati ini mampu menggulingkan pemain unggulan tuan rumah Perancis, bernama Popov, di turnamen Orleans Master. Dari turnamen yang diikuti, bahkan dengan berkutat dulu di babak kualifikasi, Adinata selalu lolos 32 besar. Semoga prestasinya meningkat dan mampu mengejar pemain seusia dari Malaysia, Ng Tze Yong. Tze Yong bisa mengandaskan monster di dunia tunggal putra, Victor Axelsen di turnamen All England yang baru lalu.
Harapan kita adalah PBSI mampu meraih asa tertinggi di 2 (dua) laga yang bersamaan ini. Juara di Sudirman Cup, lalu meraih setidaknya 4 (empat) emas di ajang bulutangkis Sea Games. Namun bagi pemerhati bulutangkis, menjadi juara Sudirman Cup sudah sangat cukup … untuk melegakan kerongkongan setelah kering prestasi di beregu campuran semenjak tahun 1989 alias 34 tahun yang lalu!

Artikel ini ditulis oleh Yuni Andono Achmad, S.E., M.E., staf pengajar di sebuah PTS di Jakarta.


