Mewariskan “Tricky” ke Ganda Campuran

oleh: Yuni Andono Achmad, pengamat bulutangkis tinggal di Bogor. Foto Trikus/ Rehan dari https://www.bola.com/ragam/read/3059512

MEMBACA sebuah penelitian tentang hubungan antara gen dengan prestasi atlet “secara keturunan” dihasilkan beberapa kesimpulan menarik. Memang gen atau bakat itu ada sumbangannya terhadap kinerja seorang atlet, tapi tetap bentuk latihan yang cocok akan menstimulus seorang atlet akan melebihi prestasi pendahulunya.

Beberapa penelitian itu misalnya oleh Lisa M Guth dan Stephen M Roth dengan judul “Genetic Influence on Athletic Performance”. Kemudian David Verillas Delgado dan kawan-kawan yang menulis tentang ”Genetics and sports performance: the present and future in the identification of talent for sports based on DNA testing”. Kedua tulisan tersebut dimuat di https://www.ncbi.nlm.nih.gov.

Penelitian tersebut lebih condong ke olahragawan di cabang atletik. Memang ada semacam threatment khusus agar mitokondria (pembangkit tenaga sel) dari atlet berbakat ini muncul dengan optimal.

Secara empiris kita banyak melihat bahwa atlet yang pernah jaya di masanya, bahkan memperistri seorang atlet juga, ternyata putra/i -nya tidak secemerlang orang tuanya. Meski ada juga yang kebalikan, si anak melampaui prestasi ayah/ ibunya.

Kita dapat mengambil beberapa contoh. Pasangan Andre Agass dan Steffi Graf, keduanya peraih gelar Grand Slam di tenis, namun anaknya malah menekuni olahraga bisbol. Padahal Andre memiliki akademi tenis di tanah kelahirannya, Las Vegas. Sepertinya Agassi dan Graf memberi kebebasan kepada anaknya untuk memilih passion olahraganya masing-masing.

Berikutnya adalah Alan Budi Kusuma dan Susy Susanti. Beberapa bulan yang lalu di IGnya mereka mengupload kelulusan putranya dari sebuah kampus di Amerika Serikat. Artinya sang anak cenderung bukan sebagai atlet, namun lebih condong ke akademisi.

Contoh lain misalnya Tommy Sugiarto. Pernah menjadi nomor satu di Indonesia. Tetapi mentok di 10 besar ketika bermain di tingkat dunia. Tommy merupakan anak dari Icuk Sugiarto dan Nina Yaroh. Keduanya mantan atlet bulutangkis. Icuk bahkan menorehkan sejarah yang belum terpecahkan sampai saat ini. Menjadi juara dunia termuda di usia 21 tahun, pada tahun 1983. Icuk dan Nina Yaroh memiliki putri bernama Jauza Fadila Sugiarto, yang merupakan pemain ganda bulutangkis, sempat masuk pelatnas. Dibandingkan sang kakak (Tommy), si adik kurang bersinar prestasinya.

Marcus Fernaldi Gideon, pemain ganda nomor satu dunia dari tahun 2017 sampai pertengahan tahun ini merupakan putra dari Kurniahu, mantan pemain tunggal putra bulutangkis. Pada tahun 1981 Kurniahu menduduki peringkat 7 (tujuh) dunia single. Prestasi Marcus -dengan pasangannya Kevin Sanjaya- dengan demikian melampaui capaian ayahnya. Meski sektor bermainnya berbeda, Marcus atau si Sinyo di double, sedangkan Kurniahu di single.

Mantan juara dunia tahun 1993, Joko Suprianto, menikahi mantan ganda putri anggota Srikandi Indonesia yang meraih Uber tahun 1994-1996, yaitu Zelin Resiana. Keduanya memiliki pemain tunggal putri yang baru menanjak kariernya, Bilqis Prasista. Prestasi tahun ini, Bilqis merupakan anggota tim Uber Cup 2022 yang sempat melaju ke perempat final. Bilqis secara mengejutkan mengalahkan Akane Yamaguci (pemain peringkat pertama dunia) pada saat penyisihan grup.

Lalu bagaimana kita memahami genetika bulutangkis dari Trikus Harjanto ke Rehan Naufal Kusharjanto?. Seperti diketahui pada hampir sepekan yang lalu, Rehan bersama dengan Lisa Kusumawati menjuarai Hylo open di Jerman. Hylo Open turnamen berlevel 300.

Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusumawati berhasil menaklukkan wakil China, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping 21-17 dan 21-15 dalam 43 menit. Ini merupakan kali pertama bagi Duo K (Kusharjanto/ Kusumawati) meraih gelar juara di turnamen Super Series BWF, sejak debutnya di level senior pada tahun 2021.

Rehan merupakan anak dari pasangan Tri Kusharjanto dan Siti Untari. Trikus merupakan pemain ganda campuran peraih perak pada olimpiade Sidney 2000 -berpasangan dengan Minarti Timur. Sedangkan Siti Untari juga mantan pebulutangkis ganda campuran yang pernah meraih gelar juara di Piala Asia.

Secara postur Rehan mirip dengan ayahnya. Tinggi tidak mencapai 170 cm. padahal di ganda campuran jelajah pemain putranya mirip dengan pemain tunggal putra (Men Single). Bahkan dia punya tugas ekstra untuk melindungi si pemain putrinya. Karena jelajah yang termasuk kategori luas, hampir semua pemain putra di sektor ganda campuran terhitung tinggi -secara postur badannya.

Hal itu bisa saja terjadi karena untuk mengcover sisi luas lapangan. Pada ganda campuran, pemain putri biasanya bermain di depan net. Dia hanya posisi sejajar ketika lawan melancarkan smes. Sehingga syarat pemain putri di ganda campuran adalah defence bagus, dan mampu bermain net

Kembali ke pemain putra di sektor ganda campuran. Kita mengenal Nova Widianto, Flandy Limpele. Tontowi Ahmad, dan Praveen Jordan. Mereka semua tingginya melebihi 170 cm. Bahkan Praven sampai 180+. Lawan Rehan/ Lisa di final, yaitu Feng Yan Zhe tingginya mencapai lebih dari 190 senti. Huang Dong Ping sewaktu merebut pinggat emas olimpiade Tokyo kemarin, pasangannya adalah Wang Yilyu -yang tingginya juga hampir 190 senti.

 

Meskipun tentu tidak semua. Pemain ganda campuran lainnya seperti Zhang Siwei (putra Tiongkok) dan Dechapol (putra Thailand) juga hanya 170 senti tingginya. Daya jelajah pemain putra di ganda campuran yang tergolong luas ini mengindikasikan bahwa mereka layak juga bermain tunggal. Seperti kita tahu, mantan pemain kita di sektor XD yaitu Hafiz/ Gloria, yang setelah dipisah, si Hafiz ini mencoba bermain tunggal putra.

Trikus hanya bermain ganda campuran setelah dia meraih perak olimpiade 2000. Waktu itu usianya 26 tahun. Tahun 2002 Trikus mencoba bermain ganda putra, puncaknya adalah mampu lolos ke Olimpiade 2004. Pada saat Thomas 2002, Trikus berpasangan dengan Halim Haryanto. Kemudian pada saat Olimpiade Yunani 2004, sekondan Trikus adalah Sigit Budiarto (meski hanya bertahan di babak kedua).

Pada final Thomas 2002, pasangan dadakan Trikus/ Halim mampu mengalahkan ganda top Malaysia, Lee Wan Wah/ Chong Tan Fook. Kedudukan saat itu 2-1 bagi keunggulan Malaysia. Kedua tunggal kita (Marleve Mainaky dan Taufik Hidayat) kalah, hanya pasangan Chandra/ Sigit yang menang.

Partai keempat, ganda baru Trikus/ Halim jelas underdog. Namun pasangan kita ini bisa memutarbalikkan ramalan di atas kertas. Permainan atraktif Trikus di partai final tersebut, menjadikan dirinya bintang lapangan. Sehingga saat tim kita mengangkat Piala Thomas, Trikus mendapat kehormatan di tengah -bersama dengan Hendrawan (pemain partai kelima).

Komentator televisi saat itu, Poul Erik Hoyer Larsen (sekarang Presiden BWF) menyebut Trikus sebagai “tricky”. Sayang memang di Youtube belum terpasang partai Trikus/ Halim melawan ganda Malaysia itu. Tapi sebagai gambaran, Trikus bermain jumpalitan ke sana kemari, jatuh bangun, dan seperti memberi psy war ke lawan. Lawan pun seperti menjadi down atau malah terpesona oleh tingkah laku Trikus itu.

Permainan Trikus adalah “tricky”, penuh trik dan tipu muslihat. Melihat permainan anaknya, yaitu Rehan, di final Hylo Open, serta sebelumnya di Perancis Terbuka, sepertinya tidak menurun dari bapak ke anak. Rehan tipe pemain yang tekun, pekerja keras, dan sangat serius.

Bisa jadi faktor usia juga berpengaruh. Saat merebut perak olimpiade Sidney sektor XD, Trikus berusia 26 tahun. Kemudian ketika tampil di Olimpiade Yunani 2004, Trikus sudah melewati 30 tahun. Saat ini Rehan masih berusia 22 tahun, tentunya masih panjang perjalanan kariernya.

Saat olimpiade Paris tahun 2024 nanti usia Rehan mencapai 24 tahun. Usia matang untuk pemain bulutangkis, apalagi seorang putra di ganda campuran, dengan notabene tinggi badan di bawah 170 cm. Kalau tahun 2024 itu terlewat, maka kesempatan baru datang lagi tahun 2028, itupun sudah mendekati “senja’ untuk pemain ganda campuran. Mungkin Rehan bisa meniru langkah ayahnya -Trikus Harjanto- untuk pindah ke ganda putra Ketika usia mendekati 30 tahunan. Memang ini sebuah pilihan.

Bermain “tricky” saat ini tidak menurun ke Rehan. Atau kemungkinan lain. Barangkali Lisa Ayu Kusumawati-lah yang bermain tricky saat final itu. Lisa mampu mengimbangi -bahkan mengalahkan- permainan bola-bola depan dari Huang Dongping, maestro ganda nomor satu saat ini. Huang Dongping bermain baik di XD maupun WD. Ternyata Lisa mampu mengatasinya.

Keberhasilan Duo K (Kusharjanto/ Kusumawati) tentunya membuat coach Flandy Limpele, dan asistennya yaitu Nova Widianto sedikit bisa bernafas lega. Setelah menunggu beberapa purnama akhirnya gelar kampiun bisa teraih oleh ganda campuran kita. Seperti kata Rehan, bahwa dia mencoba membuktikan sektor ganda campuran bukan kelas dua lagi. Untuk kali ini terbukti. Kita akan semakin banyak berharap ke ganda campuran kita lainnya. Ayo Zachariah Josiahno Sumanti/Hediana Julimarbela, dan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas serta pasangan XD lainnya …… samai prestasi Rehan/ Lisa.

Yuniandono Achmad SE ME adalah staf pengajar di sebuah PTS di jalan Margonda, kota Depok. Saat ini masih menjadi konsultan di beberapa K/L di Jakarta Pusat.

 76 total views