Para Pemain Pelapis

OLEH: Yuniandono Ahmad -pengamat bulutangkis tinggal di kec. Bojonggede, Bogor

Gambar di atas ialah foto Sabar Karyaman Gutama/ Muhammad Reza Pahlevi Isfahani. Keduanya adalah pemain non pelatnas yang mampu lolos semifinal SIN Open. Picture from bwfworldtour[dot]com.

MASIH belum sirna aura kegembiraan kita di turnamen Singapura Open sepekan lalu. Saat tim kita menjadi juara umum dengan 3 (tiga) gelar pamungkas, yaitu dari tunggal putra melalui Antony Sinisuka Ginting, ganda putra dari Leo Rolly Carnando/ Daniel Marthin, dan ganda putri via Apriyani Rahayu/ Siti Fadia Ramadhanti. Lebih spektakuler lagi prestasi ganda putra Indonesia, yang mampu menciptakan “all Indonesian Semifinal” di negara lain. Keempat ganda tersebut ialah “the daddies” Hendra Setiawan/ Moh Ahsan, pasangan non pelatnas Sabar Karyaman Gutama/ Muhammad Reza Pahlevi Isfahani, sang runner up Fajar Alfian/ Rian Ardianto, dan pasangan kampiun Leo Rolly Carnando/ Daniel Marthin.

Memang kita pernah punya beberapa prestasi spektakuler yang mirip dengan ganda putra tersebut, namun bedanya lokasi kejadiannya di Indonesia, alias kita sebagai tuan rumah. Pada tahun 1980 di Istora Senayan, para tunggal putra Indonesia menciptakan all Indonesian semifinal melalui Rudy Hartono (juara), Liem Swie King (runner up), Lius Pongoh, dan Hardianto. Kemudian di ajang Indonesia Terbuka, mungkin tahun 1992 atau 1993, para tunggal putra Indonesia bahkan menciptakan all Indonesian quarter final, karena delapan-delapannya dari Indonesia semua.

Namun kedigdayaan Indonesia di Singapura itu, beritanya hanya berselang 3 (tiga) hari-an apabila dihadapkan dengan realita di turnamen Taipei Terbuka. Ya sekarang kita dihadapkan hasil yang tidak bagus dari Taipei Open. Di turnamen yang terselenggara di Taipei Heping Basketball Gymnasium tersebut, PBSI mengirim 3 (tiga) wakil, dan ketiganya kandas sebelum perempat final. Hanya Komang Ayu Dewi (tunggal putri) yang lumayan bisa maju sampai 16 besar. Sedangkan Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay tersingkir di 32 besar. Sementara Cristian Adinata gugur di babak kualifikasi.

Kekalahan Komang Ayu Dewi setelah menang 2 (dua) kali, di babak kualifikasi dan babak 32 besar. Komang mampu mengalahkan pemain India, Keyora Mupati. Kemudian pemain tuan rumah Taiwan, Chen Su Yu. Baru ketika ketemu pemain Malaysia usia 23 tahun, yakni Goh Jin Wei, Komang takluk 2 (dua) game langsung.

Sedangkan Ikhsan Leonardo kalah melawan pemain kawakan Taiwan, Wang Tzu Wei. Sementara Christian Adinata kalah dengan pemain tuan rumah yang peringkatnya hanya selisih 1 (satu) tangga saja, yaitu Chen Chi Ting melalui permainan rubber.

Ketiga pemain kita tersebut memiliki usia yang tidak terlampau jauh terpautnya. Yaitu sekitar 21½  tahun. Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay kelahiran 2000, Christian Adinata tahun 2001, dan Komang Ayu tahun 2002. Namun nasib berbeda, artinya sedikit mendingan, dialami pemain Jepang kelahiran 2001, yaitu tunggal putra Kodai Naraoka. Di turnamen yang hanya berselang 3 (tiga) hari, yaitu Singapore Open dan Taipei Open, Kodai mampu mencapai final. Sebelumnya di bulan April 2022, Kodai juga mampu menjadi runner up di turnamen Korea Master, sebelum kalah melawan wakil tuan rumah, Jeon Hyeok Jin.

Kodai Naraoka juga sudah masuk tunggal ketiga Thomas tim Jepang. Namun memang mungkin beban mental yang dirasa terlampau tinggi, sewaktu semifinal Thomas Cup, Kodai takluk straight game bahkan di bawah angka 10, ketika dikalahkan oleh pemain kita Shesar Hiren Rustavito. Kodai meski baru berusia 21 tahun namun memiliki pengalaman melibas pemain peringkat atas, salahsatunya pemain kita Jonathan Christie, waktu di Singapura Terbuka baru lalu. Pemain lainnya seperti Khosit Petradab dari Thailand, disingkirkan di Taipei Open kali ini. Sebelumnya di Korea Open, Kodai mampu mengalahkan Li Shi Feng dari Tiongkok.

Melihat prestasi Kodai yang mampu menjadi runner up di dua turnamen berdekatan maka fisik atau stamina Kodai tentunya sangat yahud. Bandingkan misalnya dengan Chico Aura Dwi Wardoyo yang sehabis menjuarai Malaysia Master, namun langsung tumbang di babak pertama -saat melawan Brian Yang dari Kanada- di turnamen Singapura Terbuka tiga hari kemudian.

Membandingkan keempat pemain (Kodai, Komang, Ikhsan, Adinata) yang usianya mirip-mirip tersebut, maka prestasi Kodai dapat dianggap jauh meninggalkan teman sengkatannya. Walapun mungkin kita berharap untuk Komang Dewi baru tahun depan menginjak kedewasaan permainannya.

Keempatnya merupakan pemain pelapis dari tim inti atau pemain utama dari negaranya. Mungkin generasi Ginting dan Jojo Christie (juga Shesar Hiren) hanya bertahan sampai olimpiade Paris 2024, atau setidaknya sampai tahun 2025. Pemain sesuper Victor Axelsen pun menurut saya di olimpiade 2028 sudah menurun prestasinya -karena usia mendekati 35 tahun. Sesudah era-era mereka itu perlu disiapkan pemain inti -yang saat sekarang ini disebut pemain pelapis- agar meneruskan estafet prestasi bulutangkis republik ini. Sebenarnya Indonesia termasuk beruntung karena pelapis masih berlimpah, terutama di ganda putra. Kalau di tunggal putra, di bawah Ginting tapi di atas Adinata CS ini, masih ada Chico Aura Dwi Wardoyo. Lalu di tunggal putri ada Putri Kusuma Wardhani. Kita harapkan proses ini berjalan liniar atau lurus.

Memang sering terjadi hal-hal yang tidak linier di bulutangkis terutama jenjang yunior ke senior. Dulu pasca mundurnya Icuk Sugiarto dan Eddy Kurniawan, tunggal putra kita mengalami paceklik sekitar 10 tahun. Sebelumnya estafet kepemimpinan tunggal putra tanah air berjalan mulus ketika era Rudy Hartono muncul yuniornya bernama Liem Swie King, lalu berlanjut ke Icuk. Namun sesudah itu perlu menunggu 10 tahun ketika terjadi all Indonesian final di Kejuaraan Dunia tahun 1983 (Icuk S versus LS King) dan tahun 1993 muncul lagi all Indonesian final melalui Joko Supriyanto melawan Hermawan Susanto.

Trio emas kita di tunggal putra Olimpiade Barcelona (yaitu Alan, Ardi, dan Hermawan) mengalami perbedaan masa prestasi sesudah 1992 tersebut. Ardi BW yang merupakan pemain paling muda diantara ketiganya, tidak mampu menembus Olimpiade Atlanta 1996 (padahal usia masih 25 tahun). Malah Alan Budi Kusuma yang usia 30 tahun masuk persaingan, demikian pula Joko Supriyanto yang usianya sama dengan Alan. Peraih emas olimpiade Atlanta juga berusia 30 tahun, yaitu Poul Erik Hoyer Larsen dari Denmark. Demikian pula peraih perunggunya usia yang sama, yakni Rashid Sidek dari Malaysia.

Pemain tunggal kita yang termasuk usia senja baru memetik prestasi, zaman dahulu misalnya adalah Hendrawan yang sekarang melatih Malaysia. Hendrawan usia 28 tahun baru bisa masuk pemain yang ikut kompetisi di Olimpiade Sidney tahun 2000 dan meraih perak. Setahun kemudian meraih juara dunia. Usia 30 sebagai tunggal putra ketiga menyumbang kejayaan tim Thomas 2002 di Guangzhao kala menewaskan Malaysia 3-2. Hendrawan pensiun di usia sekitar 31 tahun, ketika sang juara bertahan tersebut tidak lolos Kejuaraan Dunia 2003.

Melimpahnya stok pemain ganda kita pada satu sisi mendatangkan ranjau bahaya, yaitu promosi degradasi pelatnas yang bisa jadi -atau kalau perlu- lebih diperlebar. Konsekuensinya pendanaan lebih atau tambah banyak menyangkut pelatih, tempat, dan pengiriman ke series turnamen. Maka masuknya Sabar Karyaman Gutama/ Muhammad Reza Pahlevi Isfahani di semifinal Singapura Open kemarin sebenarnya merupakan perihal positif. Karyaman/ Reza sebagai pasangan non pelatnas bisa menjadi model bahwa tidak harus di pelatnas untuk bisa berprestasi di level dunia.

Kemudian sisi negatif lainnya -dari melimpahnya pemain- adalah kita bisa jadi kurang konsentrasi untuk memikirkan pemain pelapis. Misalnya fenomena Chico Aura Dwi W dan Lee Jii Zia dari Malaysia. Mereka berdua usia sama, namun Lee Jii Zia lebih dikejar oleh BAM Malaysia untuk cepat orbit, karena kosongnya pelapis pasca Lee Chong Wei. Sementara Chico Aura selama ini tertutup oleh melimpahnya pemain tunggal putra kita dari Antony Sinisuka Ginting, Jojo, Vito, bahkan dulu ada Ihsan Maulana Mustofa dan bahkan sempat ada “Si Kidal” Firman Abdul Kholik.

Kembali ke fenomenalnya Kodai Naraoka ini (usia 21 namun bisa berturut-turut menjadi runner up) maka perlu menjadi perhatian PBSI bahwa setelah atau pasca Ginting CS nanti perlu dipersiapkan pemain tunggal yang setara dengan Kodai pemain Jepang ini. Wallahu alam bissawab.

Artikel ini ditulis Yuni Andono Achmad, SE, ME. Beliau adalah staf pengajar di sebuah PTS di jalan Margonda, kota Depok, provinsi Jawa Barat. Penulis juga berprofesi sebagai konsultan di beberapa Kementerian/ Lembaga di Jakarta.

 116 total views