Sabtu, Maret 21, 2026
BerandaHeadlineKebutuhan Hewan Kurban di Riau Kurang 42 Ribu Sementara Ketersediaan Hanya 12...

Kebutuhan Hewan Kurban di Riau Kurang 42 Ribu Sementara Ketersediaan Hanya 12 Ribu Ekor

Pekanbaru (Nadariau.com) – Di Provinsi Riau, kebutuhan hewan sejauh ini masih belum cukup. Hal ini merupakan salah satu dampak dari wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang kini tengah mewabah.

Sementara ketersediaan atau stok hewan kurban, baik sapi, kerbau dan kambing di Provinsi Riau untuk menghadapi hari raya Idul Adha 1443 Hijriyah hanya 30 persen atau 12 ribu lebih dari total kebutuhan sekitar 42 ribu ekor.

Kondisi ini tentu menyulitkan masyarakat mencari sapi untuk hewan kurban hari raya Idul Adha. Kondisi itu diperparah lagi adanya kasus positif Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hewan ternak di sejumlah daerah. Sehingga, adanya larangan untuk mengeluarkan hewan ternak ke provinsi lain.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau Herman melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Faralinda Sari, mengungkapkan, ketersediaan hewan kurban di Riau hingga kini masih 12%, yakni sebanyak 12 ribu ekor dari total kebutuhan sebanyak 42 ribu ekor.

“Adanya PMK tentu sangat menyulitkan masyarakat untuk mendapatkan hewan kurban. Baik sapi, kambing dan kerbau, untuk kebutuhan Idul Adha 1443 H,” ujarnya di Pekanbaru, Jumat, (3/6/2022).

Dijelaskan, akibat wabah PMK, sejumlah daerah diberlakukan pelarangan mengeluarkan hewan ternak mereka ke daerah atau ke provinsi lain.

“Ketersediaan hewan kurban kita hanya 30 persen yang lokal. Kalau kebutuhan kita itu 42 ribu, itu termasuk sapi, kerbau dan kambing,” kata Faralinda.

Dia mengatakan, biasanya untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban, Riau selalu disuplai dari provinsi tetangga, seperti Sumbar, Sumut dan Lampung.

Sejauh ini, belasan daerah di Sumbar juga sudah terkonfirmasi PMK. Sedangkan kalau daerah positif PMK tidak boleh ada pengeluaran sapi.

“Begitu juga Sumut kondisinya sama. Di Sumatera ini semua provinsi sudah tertular PMK, kecuali Provinsi Bengkulu. Lampung juga sudah banyak yang kena PMK,” sambungnya.

Disamping sapi dari luar provinsi Riau, khususnya di provinsi yang tertular PMK tidak boleh masuk Riau, sapi lokal dari daerah penghasil juga mengalami hal sama.

“Sapi lokal ini yang menjadi masalah itu daerah penghasil positif PMK. Jadi tidak boleh ada pengeluaran hewan ternak dari daerah tersebut. Seperti Rohul, di sana salah satu kantong ternak di Riau. Artinya produksi ternaknya tinggi di sana, dan bisa mensuplai di Pekanbaru. Itu yang menjadi masalah saat ini,” jelasnya.

Tak hanya masyarakat, Faralinda mengakui, pedagang sapi kurban di Riau juga mengeluhkan kondisi ini. Sebab mereka kesulitan memasukan sapi dari provinsi tetangga ke Riau.

“Tapi sekarang sudah ada pengirim dari Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk ke Pekanbaru, sudah ada rencana mau masuk sekitar 2.000 ekor sapi untuk suplai kurban,” katanya. (ed)

BERITA TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Berita Populer