Dilema, Antara Sea Gamesatau Uber/ Thomas

Penulis: Yuni Andono Achmad, pengamat bulutangkis, sehari-hari mengajar di Universitas Gunadarma (Depok)

Pesta Olahraga Asia Tenggara (South East Asia/ SEA Games atau SG) yang semestinya berlangsung tahun 2021 kemarin -diundur menjadi tahun ini. Tuan rumah Vietnam –beserta Komite Olimpiadenya- secara resmi memundurkan perhelatan tersebut menjadi nanti bulan Mei 2022.

Jadwal SG 2022 Vietnam tepatnya adalah tanggal 12-23 Mei 2022. Sementara kejuaraan beregu dunia bulutangkis, yakni Thomas Uber cup, akan berlangsung pada tanggal adalah 8-15 Mei 2022. Artinya: bentrok alias overlapped. Bentrok jadwal terjadi pada 2 (dua) event tersebut. PBSI dan KONI dihadapkan pada dilema. Apakah mau fokus di Thomas uber, ataukah meraih medali untuk menambah emas di Sea Games.

Disinilah PBSI -bekerjasama dengan KONI- harus memikirkan soal prioritas, mana yang sekiranya lebih penting. Negara peserta SG pasti berusaha mendulang emas sebanyakbanyaknya. Cabang olahraga yang mendatangkan emas terbanyak adalah atletik, dan renang. Thailand dan Vietnam sangat sadar akan hal itu sehingga mereka pasti akan berusaha menjadi juara umum melalui kedua cabor tersebut. Uniknya, Singapura, yang biasa peringkat bawah dalam banyak-banyakan emas, sering menjadi juara umum untuk cabang renang. Seperti yang terjadi pada waktu SG 2019 di Filipina lalu.

Seandainya Indonesia kuat di atletik dan renang, maka perolehan di bulutangkis -yang hanya maksimal memberikan 7 (tujuh) emas- akan tampak kecil. Belum ditambah gulat, tinju, dan wushu. Waktu SG 2019 lalu, kita zonk emas di gulat dan tinju. Sehingga dari cabor-cabor yang kecil maka kita kumpulkan medali emasnya. Salah satunya ya bulutangkis ini.

Bagaimana memilah dan memilih prioritas antara SG 2022 atau Thomas/ Uber agar optimal? Mengutip Riant Nugroho Dwijowijoto dalam bukunya “Public Policy” diperkenalkan matriks antara penting dan mendesak. Ada kuadran “penting dan mendesak”, itulah yang diutamakan. Kemudian kuadran “penting tapi tidak mendesak”, kemudian “tidak penting namun mendesak”, dan terakhir “tidak penting dan tidak mendesak”.

Untuk memudahkan pembahasan (karena istilah “mendesak” cenderung kepada indikator waktu, sementara masih ada jeda 5 (lima) bulanan) maka kata “mendesak” kita ganti dengan: prestigious atau prestisius. Perihal yang pasti sangat penting dan sangat prestisius adalah mempertahankan piala Thomas. Maka mau tidak mau, suka tidak suka, tim putra terbaiklah yang akan dikirim ke perhelatan Thomas Cup.

Sehingga predikat juara beregu putra Sea Games yang selama ini menjadi langganan kita, tampaknya harus dilepas. Namun bisa jadi tetap bisa juga kita raih emas beregu putra, dengan catatan, tim Thailand dan Malaysia juga lebih konsen ke Thomas Cup. Thailand pasti akan lebih mencurahkan perhatiannya ke ajang Thomas. Selain sebagai tuan rumah, mereka memiliki dua tunggal yang “moncer” saat ini, yaitu Kantapon dan Kunlavut. Keduanya sangat bisa diandalkan. Kemudian ganda pertama mereka Kitipong Kedren-Puavaranukro pelan pelan mulai meniti karir di peringkat 40 besar dunia.

Malaysia yang masih misteri, apakah mereka mau konsen di SG ataukah Piala Thomas. Tahun 2019 lalu mereka mendapat emas SG melalui tunggal putra -yakni Lee Ji Zia- dan ganda putranya Aaron Chia/ Soh Wooi Yik. Apakah mereka mau mempertahankan emas tersebut -artinya mengirim pemain yang sama. Ataukah memberi peluang ke pemain muda Harimau Malaya yang lain. Mereka minim pemain tunggal, namun lumayan banyak di sektor ganda.ada setidaknya 3 pasang ganda lagi (selain Chia/ Yik) yang menempati peringkat 20 besar dunia.

Selanjutnya yang menjadi masalah adalah bagian tim putri kita. PBSI tampaknya sudah merasa tahu diri tidak mungkin untuk menjadi juara Uber. Namun pada sisi lainnya -emas SG juga belum pasti didapat. Sehingga matriks seperti di atas menjadi “penting untuk dapat emas SG, tapi kurang prestisius untuk meraih Uber”. Kurang prestisius karena kans-nya kecil. Minimal lolos ke perempat final (sebelum semifinal) sepertinya sudah bagus buat Uber kita.

Apalagi kalau Uber Thailand dan Malaysia tidak menurunkan tim terbaik untuk sea games. Seandainyapun Thailand akan fokus ke Uber (karena mereka tuan rumah) siapa tahu Malaysia berpikir sama dengan kita: mending concern ke Sea Games. Sehingga kemungkinan final beregu putri akan mempertemukan Indonesia melawan Malaysia.

Sea Games untuk cabang bulutangkis menyediakan total 7 (tujuh) emas, yang terdiri dari 5 emas individu (tunggal putra putri, ganda putra putri, dan campuran) serta 2 (dua) beregu putra/ putri. Selama ini kita tidak terlalu mempermasalahkan emas individu di SG, namun untuk beregu putra harus selalu didapat.

Untuk tim putra tampaknya kita tidak masalah memecah konsentrasi di 2 (dua) turnamen yang bersamaan tersebut. Terutama sektor ganda putra kita yang memiliki stok melimpah. Namun perlu menjadi perhatian bahwa sejak Thomas Cup tahun 2021 kemarin, komposisi pemain bisa 12 pemain. Sebelumnya adalah maksimal 10 pemain.

Tahun lalu ke-12 pemain Thomas itu adalah Antony Ginting, Jonathan Christie, Shesar Hiren Rhustavito, Cicho Aura Dwi Wardoyo, kemudian Markus Gideon/ Kevin Sanjaya Sukomuljo, Hendra/ Moh Ahsan, Fajar/ Rian Ardianto, dan Leo Carnando/ Daniel Martin. Artinya ada 4 (empat) pemain tunggal dan 4 (empat) pasang ganda. Mungkin kedepannya bisa kita kombinasi untuk 5 (lima) pemain tunggal dan 7 (tujuh) pemain ganda. Artinya ada 1 pemain ganda yang bebas -dipasangkan siapa saja bisa. Dengan memasang banyak alternatif pemain tunggal, jaga-jaga kalau ada yang cedera, dan sumbangan pemain tunggal lebih banyak (3 angka) -dibanding ganda yang dua angka. Bagaimana dengan sektor putri? PBSI perlu untuk memanggil lagi pemain yang pernah didegadrasi dari Pelatnas. Seperti Fitriani dan Ruselli Hartawan.

Setelah turnamen SG Vietnam dan Thomas/ Uber Cup nanti, ada lagi Asian Games 2022 yang digelar pada 10-25 September di Hangzhou, Tiongkok. Sejak AG 2014 dan AG 2018 Indonesia selalu mendapat dua keping emas dari bulutangkis. Tahun 2014 melalui ganda putri Greysia/ Nitya Krisinda Mahewari, dan ganda putra Hendra Ahsan. Kemudian tahun 2018 melalui tunggal putra Jonathan Christie, dan ganda putra “the minnions” yang menang dalam All Indonesian Final melawan Fajar/ Rian. Semoga pinggat emas tersebut bisa dipertahankan. (***)