Jago Bulutangkis tapi Keok di Sepak Bola, kok Bisa?

oleh: Yuni Andono Achmad, pengamat Bulu Tangkis, dosen di sebuah PTS di Kota Depok

Lagi-lagi Indonesia gagal di final piala AFF atau ASEAN Football Federation. Setelah menjadi runner up di tahun 2000, kemudian 2002, selanjutnya 2004, 2010, 2016, dan sekarang 2021. Artinya kalau Thailand mampu meraih 6 (enam) kali juara piala AFF, kita 6 (enam) kali juara dua. Selain Thailand, negara yang mampu juara sepakbola Asia Tenggara dua tahunan ini adalah Singapura sebanyak 4 (empat) kali. Bayangkan negara seluas Semarang, Jawa Tengah, mampu menjadi jawara AFF di tahun 1998, 2004, 2007, dan 2012.

Berikutnya negara yang mampu menjadi kampiun AFF adalah Vietnam sebanyak 2 (dua) kali, dan Malaysia sebanyak 1 (satu) kali -pada tahun 2010. Waktu itu Malaysia mengalahkan PSSI secara aggregate 4-2.

Seandainya final leg kedua berlangsung di bulan Desember 2021 (bukan pada tanggal 1 Januari 2022) maka peristiwa final AFF ini bisa masuk kaleidoskop 2021. Namun “keberhasilan” menahan Thailand 2-2 berlangsung di tahun baru. Artinya awal tahun ini menahbiskan kita menjadi negara di dunia yang paling banyak mengumpulkan gelar runner-up kejuaraan AFF.

Seandainya masuk kaleidoskop 2021 maka predikat kita menjadi lengkap. Menjadi juara beregu bulutangkis dunia putra (Thomas Cup) terbanyak dengan 14 gelar. Kemudian pengumpul runner up AFF terbanyak. Perbandingan yang bisa dikatakan kontras. Sehingga bisa muncul pertanyaan, mengapa Indonesia bisa jago dalam cabang olahraga bulutangkis -namun apes dalam sepakbola.

Pasti akan muncul berbagai perspektif jawaban. Dulu Indonesia dikenal dengan nama Hindia Belanda, mewakili negara Asia dalam perhelatan Piala Dunia 1932. Kemudian negara kita pernah dikenal jago di sepakbola junior. Waktu zaman Widodo Cahyono Putro masih pemain muda (sebelum 1991) kita menjadi juara Asia Yunior, di era 80-an. Bahkan dua kali berturut-turut.

Indonesia juga pernah menjadi semifinalis Asian Games 1986, kemudian menjadi juara Sea Games 1987, keduanya dibawah asuhan pelatih Bertje Matulapelwa. Berlanjut di Sea Games 1991, mendapatkan emas sepakbola dengan duet pelatih Rusia -yaitu Polosin dan Urin- serta manajer I Gusti Kompyang Manila.

Untuk bersaing di level Asia Tenggara saja PSSI agak kesulitan, apalagi ke tingkat Asia atau juga dunia. Sebenarnya ini berlaku untuk negara Asia Tenggara lainnya. Katakanlah ranking FIFA tertinggi untuk Asia Tenggara saat ini dipegang Vietnam, atau Thailand. Keduanya belum pernah tampil di Piala Dunia. Prestasi terbaik Vietnam sewaktu Asian Games 2018 di Jakarta Palembang kemarin, mampu menjadi juara keempat.

Secara fisik, negara Asia Tenggara ini mirip semua. Tinggi rata rata tidak lebih dari 170 cm. Sehingga memang olahraga yang cocok adalah bulutangkis. Singapura pernah membikin kejutan pada olimpiade Rio tahun 2016, ketika Joseph Schooling mampu meraih emas renang gaya kupu-kupu. Atau mungkin angkat besi, yang pada olimpiade Tokyo 2020 dipersembahkan lifter wanita Filipina. Emas angkat besi itu menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya negara Filipina meraih emas olimpiade. Di angkat berat ini Thailand dan Indonesia juga langganan mendapatkan medali olimpiade.

Selain olahraga di atas, ada lagi tinju -namun khusus untuk kelas bawah. Filipina pernah meraih perunggu olimpiade, bahkan Muangthai pernah mendapat emas olimpiade. Namun itu kisah dulu.

Di podcast Helmy Yahya (saat mewawancarai Gita WIiryawan) sempat mencuat pertanyaan menarik seperti ini. Mengapa untuk olahraga yang lebih dari 3 (tiga) orang, negara kita termasuk sulit untuk berprestasi di tingkat dunia.

Pertanyaan yang unik. Kita ambil contoh cabang olahraga -atau cabor- yang berpasangan 3 (tiga) orang ialah sepak takraw. Di Asian Games 2018 kemarin, Thailand menjadi juara umum untuk cabor tersebut. Kita mendapat 1 (satu) emas, juga Vietnam. Biasanya Malaysia mendapat juga. Akan tetapi sepaktakraw ini memang belum mendunia. Bayangkan kalau misalnya ras timur -yaitu RRT, Korea, Japan- sudah mulai bergabung, maka persaingan akan menjadi ketat.

Di atas jumlah 3 (tiga) pemain ada cabor polo air, basket, bola voli, rugby, kriket, dan tentunya kesebelasan sepakbola. Kita hanya mampu di level Asia Tenggara, di Asia sangat sulit berprestasi. Bagaimana dengan negara Asean lain? Sama. Singapura yang langganan emas polo air di Sea Games, susah untuk mendapat emas Asian Games. Filipina yang jago basket, juga kesulitan di AG. Thailand yang sering juara bola voli, tidak mampu menembus semifinal Asia.

Jadi memang olahraga yang cocok dan sesuai untuk postur tubuh Asia Tenggara adalah bulutangkis. Indonesia, Thailand, Malaysia dan sekarang Singapura -bahkan Vietnam dulu juga pernah memiliki pemain ranking 20an dunia- merupakan salah satu penguasa bulutangkis dunia.

Namun kembali ke pertanyaan sesuai judul, mengapa untuk tingkat Asia Tenggara saja tim sepakbola kita sangat jarang juara.

Jawabannya bisa beragam.

Kalau mantan petenis dunia kita mbak Yayuk Basuki pernah menyarankan untuk petenis muda kita agar mengambil tour di negara eropa. Itu artinya iklim kompetisi belum terbentuk di negara kita. Memang yang bermain adalah 11 orang, namun di belakang itu bisa ratusan, bahkan ribuan sumberdaya yang berkualitas yang membentuknya. Dari mulai sekolah sepakbola atau SSB, yang membentuk ketrampilan dasar bermain bola, kemudian klub yang mematangkan pemain melalui kompetisi liga nasional, dan pengurus sepakbolanya.

Sekrup olahraga semacam itu belum optimal di Indonesia. Terkadang masih terjadi pencurian kelompok umur. Kemudian kekerasan terhadap wasit, juga “titipan” pemain untuk masuk timnas. Hal ini kemudian yang melandasi coach Indra Syafri dulu ketika melatih PSSI di AFF U19 tahun 2013, dia mencari sendiri pemain sampai ke pelosok -dengan menggunakan ojek motor.

Sistem konpetisi dan infrastruktur sepakbola Indonesia itu berbeda dengan bulutangkis. Dari mulai kampung (setiap RT biasanya memiliki lapangan bulutangkis), sampai kantor atau instansi pasti memiliki lapangan bulutangkis di sekitarnya. Kemudian didukung oleh sektor swasta yang telah berkecimpung di bulutangkis sejak era Liem Swie King “kecil” (tahun 1960-an) sampai sekarang.

Pernah PSSI “menyekolahkan” atau mengirim pemain-pemain yunior terbaiknya untuk berkompetisi di liga Italy, yang disebut PSSI Primavera. Namun hanya talenta individu yang muncul (seperti Kurniawan DY, Bima Sakti, Aples Gideon Tecuari dan sang kiper Kurnia Sandy) sehingga dikontrak oleh negara lain, namun ketika berkumpul menjadi kesebelasan hanya runner up yang didapat -seperti Ketika Sea Games 1997. Atau hanya mengejutkan saja Ketika mampu menahan Kuwait 2-2 di Piala Asia 1996. Kita belum pernah juara.

Di sepakbola, fisik menjadi topangan utama. Misal ada yang menolak fisik bukan kendala, dengan mengambil analogi Diego Armando Maradona (almarhum, tinggi 165 cm) dan/ atau Leonal Messi (170 cm). namun mereka didukung oleh teman satu tim yang tingginya 180an senti. Bandingkan dengan peringkat 1 ganda putra dunia -yakni the minnions– yang tinggi badannya mendekati 170 centimetre. Atau tunggal putri Jepang, sang juara dunia 2021, Akane Yamaguchi yang memiliki tinggi 154 cm.

Sebagai perbandingan juga, Ketika PSSI melawan Korea dalam perebutan tiket ke World Cup Meksiko 1986. Pemain Korea kecil-kecil, tidak jauh berbeda dengan kita. Namun kemarin saat Shin Tae Yong melatih timnas Korea di piala dunia 2018, dan mampu mengalahkan Jerman 2-0, tinggi pemain Korea sama dengan pemain Jerman. Beberapa opini mengatakan bahwa konsumsi ikan yang meningkat mulai tahun 1980-an, membuat Jepang dan Korea memilki pemain-pemain bongsor sekelas Eropa.

Menarik juga untuk dikaji pernyataan Lee_Jae_Hong, pelatih fisik yang dibawa Shin Tae Young ke PSSI ini. Menurutnya, fisik pemain bola dipengaruhi oleh gaya hidup pemain, pola dan budaya. Pemain kita terlahir untuk doyan gorengan sama nasi. Hal tersebut sangat amat mempengaruhi fisik pemain. Padahal yang dibutuhkan untuk membentuk pemain yang kuat dan berotot adalah kadar protein yang banyak dalam makanan. Protein dan makan makanan bergizi, itu yang membuat kebutuhan energi cukup, dan otot bisa terbentuk.

Semoga tim kita ini berada di tangan pelatih yang tepat. Dengan hampir 100 persen pemain muda, menjadi modal berharga untuk AFF under 23 atau youth championship bulan Februari nanti -yang direncanakan berlangsung di Kamboja. Ingat, tahun 2019 kita jawara di ajang AFF Yunior tersebut. Kita harap PSSI bisa mempertahankannya.(***)