Niat Naikkan Elektabilitas Berujung Kritik Tak Terbatas

Oleh : Firha Adhera
Mahasiswa Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

Menjelang pemilu 2024, beberapa partai politik sudah mulai aktif dengan kampanye untuk menaikkan calon presiden dan wakil presiden besutan mereka.

Usaha untuk memperoleh suara
terbanyak pun dilakukan dengan giat. Namun, tak jarang usaha yang dilakukan oleh para calon dan parpolnya malah berbuah penolakan dari masyarakat.

Seperti halnya yang sedang terjadi saat ini dengan salah satu kandidat yang mencalonkan diri sebagai presiden, yaitu Puan Maharani.

Putri dari Megawati Soekarno Putri ini ikut sebagai calon presiden pada pemilu 2024 mendatang. Puan tertinggal jauh di belakang Ganjar Pranowo, ketertinggalan yang sangat jauh dan signifikan dari segi persentasenya.

Oleh karena itu, Puan
dan parpolnya memutar otak agar bisa menaikkan persentase elektabilitas mereka. Baliho yang menampilkan wajah Puan Maharani, disertai dengan kalimat “Tangismu, tangisku.

Ceriamu, ceriaku. Saatnya bangkit menatap masa depan.” Terpampang di daerah terdampak Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. Salah satu produk yang dipilih untuk mempromosikan diri agar lebih dikenal oleh masyarakat luas.

Namun, hal ini menjadi sangat kontroversial saat warga-warga di sekitar merasa tersinggung
dan sakit hati karena baliho tersebut. seperti yang dikatakan oleh salah seorang warga Desa Sumberwulu, Kecamatan Candi puro, Lumajang, Ahmad Samiludin.

Ia mengutarakan kekecewaannya, “Jujur kalau itu ndak pantas, karena orang lagi berduka. Kalau mau bagi-bagi
bantuan saja, jangan baliho,” ujarnya.

Ahmad Samiludin mengklaim bahwa baliho itu sudah ada sejak Senin (20/12). Kritikan ini juga datang dari relawan yang bertugas di wilayah terdampak tersebut, yang
bernama Christian Joshua Pale.

Ia merasa sakit hati akan banyaknya baliho yang terpampang
di situ, “Jujur ini menyakitkan hati, kenapa juga balihonya panjang-panjang banyak terpasang
seperti ini,” tukasnya.

Begitupun dengan pengamat politik dari Universitas Andalas, Asrinaldi yang memahami alasan pemasangan baliho tersebut, akan tetapi tidak setuju dengan pelaksanaannya yang bisa dibilang tidak memperhatikan masyarakat setempat. “Apa yang dilakukan Mbak Puan ini
sebenarnya bagian dari upaya membangun komunikasi politik ke publik terutama yang terdampak bencana.

Cuma, cara komunikasi politik dia enggak pas kalau sekadar menampilkan baliho-baliho saja,” ujar Asrinaldi pada Rabu (22/12) Ia menambahkan lagi, “Kalau baliho yang ditampilkan di sana, ya, persepsi orang jadi negatif.

Artinya, apa kepentingan baliho di sana. Kecuali Mbak Puan datang dan beri bantuang, beri perhatian, dialog, dan simpati.” Pendapat yang diucapkan sebelumnya yang menunjukkan ketidaksetujuan tidak bisa dibilang
salah juga. Bagaimanapun juga, warga terdampak bencana pasti sedang kesulitan dan hal itu membuat sensitivitas mereka semakin tinggi.

Seharusnya, untuk hal-hal seperti kampanye ini jangan dulu dilakukan di daerah tersebut, promosi diri juga harus memperhatikan semua aspek
yang ada di sekitar. Warga terdampak butuh bantuan dan uluran tangan yang nyata, bukan hanya sekedar kertas
terbal yang didirikan di sepanjang jalan mereka.

Warga yang sedang berduka, kehilangan keluarganya, rumahnya, dan semua hasil jerih payah mereka, tidak butuh baliho, mereka butuh bantuan yang bisa membantu mereka melewati ini semua.
Tidak etis sekali apabila seseorang yang dikatakan ingin menjadi calon presiden untuk tahun 2024, malah sibuk mempromosikan dirinya dan bukan membantu rakyatnya.

Hanya karena takut tertinggal suara dari kandidat lainnya, sampai tak memperdulikan norma yang ada.
Simpati seharusnya ditunjukkan secara nyata bukan dengan tulisan-tulisan semu di atas kertas baliho.

Tanggapan dari partai yang mengusung Puan Maharani pun terkesan sangat tidak bertanggung jawab. Seperti tanggapan dari Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, “Sehingga ini
dalam konteks untuk memberikan semangat. Kalau kritik sudah bias. Sejak zaman Bung Karno dulu kritik sudah biasa,” kemudian dia berkata lagi, “Dikritik itu mereka yang tidak turun ke lapangan. PDI Perjuangan turun ke lapangan , bekerja dengan seluruh DPC di lapangan,” tambahnya.

Sebuah ungkapan yang terkesan arogan dari seorang yang berpangkat Sekjen. Bagaimana bisa, dia dengan mudahnya mengatakan bahwa baliho itu bisa memberikan semangat bagi warga
terdampak? Apa baliho tersebut bisa meringankan hati warga yang kehilangan keluarganya?
Apa baliho tersebut bisa membantu menghilangkan kesedihan warga yang kini tak punya lagi tempat berlindung? Niatan untuk memberi semangat memang baik, akan tetapi alangkah lebih baiknya jangan mengirim baliho tak bisa membantu secara langsung.

Kemudian dalam statementnya yang menekankan bahwa partainya sudah turun ke lapangan secara nyata dan tidak seperti partai lainnya. Hal ini sungguh miris, bukankah kepedulian
sesama manusia itu memang adalah hal yang mendasar. Kalau begitu, para relawan pun bisa berkata seperti itu dan langsung menjadi presiden bukan?
Apabila memang niat untuk membantu warga terdampak itu tulus dan ikhlas, maka seharusnya tidak membandingkan diri dengan partai lainnya.

Kalau sudah seperti ini, jangan salahkan masyarakat yang berpikir kalau semua perbuatan baik yang sudah dilakukan untuk mereka adalah semata-mata hanya untuk kepentingan kampanye saja. Meskipun dikatakan bahwa mereka sudah memberikan bantuan langsung ke lapangan, tetap saja mendirikan baliho di sepanjang jalan warga terdampak sangat tidak etis.

Bagaimana jika baliho tersebut malah mengakibatkan masalah yang lebih banyak? Bagaimana jika baligo
tersebut ambruk dan menimpa warga sekitar apabila terjadi bencana susulan? Apalagi, seperti yang dikatakan oleh relawan di sana bahwa baliho tersebut dipasang juga di depan posko
penyelamatan.

Sungguh tidak bijaksana sekali.
Promosi diri memang penting, tapi seharusnya para kandidat calon presiden dan wakil presiden ingat bahwa tujuan mereka menjadi pemimpin negara ini adalah untuk mengabdi pada rakyat dan membantu rakyat.
Karena itu, lebih baik membeikan bukti nyata daripada ucapan belaka
apabila mau menaikkan elektabilitas di mata masyarakat.