Menebar Semangat RRD, Kemanusian yang Adil dan Beradab

Para relawan yang tergabung di dalam RRD selalu siap mengulurkan tangan untuk membantu sesama

PELALAWAN (Nadariau) – Dedi Azwandi, founder Yayasan Rumah Relawan Dhuafa (RRD) tengah memberi semangat kepada Fitrianti orang tua dari Aila Restiana Hara (1 tahun 8 bulan) pengidap jantung bocor dari Penyalai, di sana juga duduk Ramidi (55) pasien struk dari Sokoi Kecamatan Kuala Kampar bersama Arbaini (50) juga pasien struk dari Pulau Muda Kecamatan Teluk Meranti, Senin (8/11/2021).

Di rumah singgah RRD, para pesien dan pendamping pasien disediakan tempat penginapan selama berobat, sembako dan dapur umum. Dibantu pengurusan administrasi untuk berobat gratis. seperti pengurusan BPJS kesehatan, jamkesda maupun pembiayaan yang diluar tanggungan ansuransi tersebut. Selain itu, di rumah singgah pula para pasien mendapatkan motivasi untuk berjuang melawan sakit.

Menurut sang founder, selama ini yang menjadi beban orang sakit dari keluarga miskin di kampung kampung adalah  pertama biaya dokter dan rumah sakit, kedua biaya makan minum selama masa pengobatan. Tanpa bekerja, hanya makan tidur saja selama berobat. Tentu harus dengan modal besar datang ke kota Pangkalan Kerinci, apalagi jika masa pengobatan membutuhkan waktu yang sangat lama.

Masalah itu lah yang tengah di pecahkan oleh Rumah Relawan Dhuafa. Semua kebutuhan pasien dan pendamping di tanggung oleh donatur, relawan yang tergabung dalam komunitas sosial  RRD.

Seperti yang diungkapkan oleh Arbaini. Ia sudah dua pekan tinggal di rumah singgah RRD, datang ke Kota Pangkalan Kerinci untuk menjalani terapi struk di RSUD Selasih. Dua kali se pekan ia diantar jemput oleh relawan RRD, selama proses perawatan itu pula ia menggantungkan hidupnya pada yayasan yang berdiri untuk membantu masyarakat lemah itu.

Selama tinggal di rumah singgah RRD, dirinya merasa punya semangat baru untuk melawan sakit. Hidupnya lagi harapan untuk kembali sehat, ia benar benar merasa terperhatikan disana.

“Keberadaan mereka (relawan RRD) sangat membantu kami yang lemah ini,” kata Arbaini

Ungkapan yang sama juga keluar dari mulut Ramidi, perhatian yang diberikan oleh para relawan membuat mereka nyaman tinggal di rumah singgah, sehingga bisa fokus berjuang melawan penyakit. Tidak dibebankan dengan biaya hidup dan biaya rumah sakit selama masa pengobatan. Semua telah disediakan oleh RRD.

“Sudah sebulan saya disini bersama istri. Saya hanya fokus berobat, yang lain lain sudah disediakan oleh para relawan RRD. Mulai dari makan minum, ngurus jamkesda sampai antar jemput ke tempat berobat, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan mereka,” kata Ramidi terharu

Lain lagi cerita tentang Aila, bocah mungil pengidap jantung bocor saat ini sedang menunggu pemeriksaan terakhir di Rumah Sakit Awal Bross Pekanbaru, sebelum dirujuk ke RSCM Jakarta.

“Nanti adek Aila ini akan kita rujuk ke RSCM Jakarta. Disana peralatan lengkap untuk pasien jantung, dan kita (RRD) yang akan mengurus semua nya, nanti kita juga dampingi ke RSCM,” terang Ketua Yayasan RRD Deddy Azwandi, Senin (8/11/2021).

Pertemuan orang tua Aila dengan RRD bermula saat Deddy berkunjung ke Kecamatan Kuala Kampar dalam rangka peresmian pondok pesantren di Pulau Penyalai pada pertengahan Oktober lalu. Ia dipertemukan oleh relawan RRD setempat dengan keluarga Aila yang hampir putus asa setelah enam bulan berjuang mencari bantuan agar bisa mengakses pengobatan gratis.

Orang tua Aila tidak punya BPJS Kesehatan maupun Jamkesda. Saat penyakit datang ia tak punya daya untuk melawan dalam keterbatasannya. Ada bantuan ia terima, namun belum maksimal untuk memberikan pengobatan terbaik untuk si buah hati.

“Ayah Aila waktu itu bercerita tentang penyakit putrinya. mulai saat itu, kita membantu Aila agar mendapatkan pengobatan yang semestinya,” lanjut Deddy

Setelah dibantu RRD, pengobatan Aila seakan berjalan sesuai harapan. Walau di tinggal sang ayah yang masih harus berjuang banting tulang mengolah sawah padi milik mereka di kampung Penyalai. Mereka tak merasa sendiri, RRD selalu hadir dalam setiap waktu yang dibutuhkan.

Aila berasal dari keluarga petani di Penyalai, ia merupakan bungsu dan tiga saudara. Masih ada dua kakaknya yang juga harus mendapatkan biaya hidup dan perhatian yang sama, perhatian dan waktu kedua orang tua Aila dipaksa terbelah. Mau tidak mau ayah Aila harus menyelesaikan dulu persoalan di Kuala Kampar,  kakak kakak Aila yang masih sekolah juga butuh biaya, untuk kebutuhan dapur, biaya sekolah dan lain lain.

“Alhamdulillah, disini kami di urus dengan sangat baik oleh relawan RRD,”kata ibunda Aila, Fitrianti

Dikatakan Fitri, keberangakatan ke RSCM Jakarta dijadwalkan akhir november, saat ini Aila hanya di rawat jalan oleh dokter spesialis di RS Awal Bross Pekanbaru. Pihak RRD yang mengurus administrasinya. Dan semua kebutuhan keberangkatannya.

Sudah dua pekan Aila di rumah singgah bersama ibunya, mereka tak tampak gelisah menatap cobaan yang datang. Wajah tenang sang ibu menyiratkan ketabahan dalam ikhtiar, lewat tangan dingin para donatur dan relawan RRD, sang pemilik alam semesta masih bersama mereka, tetap tawakal dalam doa.

“Allah mengirim orang baik ini membantu kami,” kata Fitri

Disela – sela perbincangan hangat bersama Nadariau.com, Fitrianti orang tua Aila, Ramidi dan Arbaini serta istrinya, telpon seluler Deddy berdering. Nama Juliani Lase di layar hp. Deddy angkat telpon genggamnya,  suaranya lembut untuk menenangkan lawan bicaranya di ujung telpon. Sambil berkata, “datang saja ke Rumah Sakit Amelia Medika, nanti semua RRD yang urus”.

Kepada Nadariau.com, Dedy mencerita tentang apa yang dialami Juliani Lase (36), seorang ibu hamil asal Nias itu yang sebelumnya didiagnosa tidak bisa melahirkan secara normal. kelahiran bayinya membutuhkan bantuan meja operasi, cesar satu satunya pilihan yang harus diambil.

Juliani bukan istri orang berada di tanah perantauan. Bayangan biaya besar untuk operasi memaksanya ia bolak balik mengurus surat domisili ke kantor Lurah Pangkalan Kerinci Kota, surat keterangan tinggal itu sebagai syarat pembuatan Jamkesda. Jarak dari rumahnya di jalan Pemda ke kantor lurah yang cukup jauh di tempuhnya dengan berjalan kaki, ia lakuin ketika hamil tua, di masa menunggu hari bersalin tiba.

Ketika sampai di kantor Kelurahan Pangkalan Kerinci kota, keadaan Juliani membuat aparat kelurahan setempat iba. Salah seorang staff kelurahan menghubungi RRD, mengabarkan terkait kondisi ibu hamil itu. Relawanpun datang. Sejak saat itu, semua pengurusan surat menyurat dan biaya berobat diambil alih oleh RRD.

Sambil mengisahkan awal bertemu dengan ibu juliani, jemari deddy sibuk menekan tombol tombol keyboard di scren androidnya, rupanya ia tengah berbalas pesan whatsapp dengan pihak RS Amelia Medika. Tak lama berselang, ia mengatakan bahwa masalah Juliani telah selesai.

“Alhamdulillah, ibu Juliani sudah di IGD, tadi saya mendapat pesan dari Rumah Sakit Amelia Medika, ibu Julaini ditangani dengan baik,” tegas Deddy

Begitulah cara RRD bekerja di zaman digital, bantuan segera didapat pasien lewat komunikasi yang baik yang dibangun RRD dengan pihak Rumah Sakit, walau lewat apilkasi yang menyediakan layanan bertukar pesan dan panggilan yang sederhana itu. Masalah dapat selesai dengan teknologi di tangan.

Memang diakui Deddy, pihaknya sudah meneken MoU dengan beberapa RS di Pangkalan Kerinci. Di Pekanbarupu, RRD sudah ada MoU dengan RS Ibnu Sina, tujuannya agar pasien yang membutuhkan segera ditangani, urusan administrasi menjadi tanggung jawab RRD sesudahnya.

Prinsip kerja yang dijalankan RRD adalah bagaimana si pasien langsung mendapat penanganan kesehatan dari Rumah Sakit, pikiran pasien tidak terbelah dengan rumitnya urusan administrasi, apalagi administrasi pengobatan tak berbayar. RRD telah memberikan solusi, memberikan kemudahan.

Diakui Deddy, pasien yang mendesak membutuhkan pertolongan medis, RRD tidak mengeluarkan biaya pengobatan yang ditimbulkan di Rumah Sakit, namun RRD bertanggung jawab menyelesaikan administrasi sampai pihak Rumah Sakit bisa mengklaim biaya tersebut ke BPJS Kesehatan atau jamkesda.

“Jika suratnya sudah lengkap kita urus, pihak Rumah Sakit bisa mengklaim biayanya di BPJS atau Jamkesda. Intinya, pasien yang kita bantu itu tidak memikirkan biaya pengobatan mereka,”tandasnya

Melalui kisah Juliani Lase, pria yang di kenal sebagai pegiat sosial di tanah Melayu Riau ini ingin mengkonfirmasi bahwa RRD melayani semua masyarakat lintas suku, lintas agama dan golongan, uluran tangan dari para komunitas relawan RRD ini hanya atas dasar kemanusian.

“Tidak ada sekat suku bangsa, tidak ada perbedaan agama. Semua suku kita bantu, semua agama juga kita bantu, seperti ibu Juliani asal Nias yang nasrani tetap kita bantu. Perlakuan kita tetap sama, demi kemanusian, bagi orang miskin, adab kita adil,” tegas Deddy

Begitulah mind set yang tertanam dalam pribadi Deddy Azwandi, setiap waktu adalah gairah menyelesaikan persoalan banyak orang. Berbekal banyak pengalaman mengurusi orang miskin yang tak bisa makan. Dan orang miskin sakit yang tak bisa berobat itu pula lah yang membelatarbelakangi nya membidani lahirnya Yayasan Rumah Relawan Dhuafa.

Relawan RRD membantu mengantarkan pasien ke rumah sakit

Dahulu, kalau ada orang sakit yang tidak mampu berobat, para pegiat pegiat sosial di tanah negeri seiya sekata ini buka open donasi. Deddy terdepan menggalang bantuan juga membantu pengurusan Jamkesda atau BPJS nya, tapi saat itu sifatnya situasional saja, dengan adanya RRD ini. Urusan urusan yang sifatnya sosial  lebih terorganisir, punya manajemen yang lebih baik, dengan demikian tentu pelayanan yang didapat pasien akan semakin lebih baik pula.

Sudah satu setengah tahun RRD berdiri, yang lahir di masa pandemi. Ketika banyak orang membutuhkan bantuan tapi tidak bisa mengakses pertolongan medis. Perhatian pemerintah terfokus pada penanganan Covid 19. Dengan segala keterbatasan, Deddy Azwandi cs mantap dalam keyakinan membantu sesama dalam wadah yayasan Rumah Relawan Dhuafa. Mereka memberi porsi perhatian kepada orang miskin, baik itu menghadapi masalah Covid atau tidak.

RRD juga mengambil peran dalam membantu pasien dan pendamping pasien yang tengah menjalani perawatan dan isolasi di rumah sakit – rumah sakit yang ada di kota Pangkalan Kerinci kala itu. Rumah singgah yang di bangun menjadi tempat penampungan dan peristirahatan keluarga pasien yang terkena Covid 19.

RRD lahir lewat semangat kebersamaan, di setiap desa se Kabupaten Pelalawan RRD punya relawan dan jaringan sosialnya, mereka bekerja tanpa pamrih, pejuang kemanusian sejati.

Lambat laun, RRD mulai mendapat empati masyarakat. Perhatian, dukungan dan bantuan datang dari banyak pihak, ada yang menawarkan tenaganya, pemikirannya, uangnya untuk operasional RRD.

Lebih dari 100 orang relawan tersebar di setiap desa se Kabupaten Pelalawan. ada 104 desa dan 14 kelurahan, ada relawan RRD disana. Namun kedepannya RRD bercita cita mengembangkan sayap sosialnya sepenjuru Riau daratan, membantu dhuafa satu provinsi.

Dalam pendanaan, RRD mendapat dukungan dari musisi Pelalawan yang tergabung dalam Music Carity Senandung Nada Untuk Bersama yang setiap pekan menggelar konser amal di lapangan kreatif Pangkalan Kerinci, konser amal juga sering diadakan di beberapa kecamatan diluar kota Pangkalan Kerinci, seperti di Sorek dan Ukui.

Dari kegiatan kegiatan seniman berhati baik itu, tiap kegiatan sosial RRD bisa mengumpulkan donasi sebesar dua sampai tiga juta rupiah, lumayan untuk membantu operasional rumah singgah.

Bantuan juga datang dari seorang hamba Allah, pemilik toko sembako di jalan Seminai Pangkalan Kerinci, semua kebutuhan dapur untuk rumah singgah RRD disediakan secara gratis, bahkan Deddy Azwandi saja tidak tahu berapa nilai sumbangan hamba Allah itu, karena yang diberikan dalam bentuk sembako.

“Untuk makanan, pendamping pasien masak bersama di dapur umum secara kekeluargaan. Semua kebutuhan kita sediakan, alhamdulillah kita punya donatur,” tutur Dedy Azwandi

Untuk mengembangkan Yayasan Rumah Relawan Dhuafa. Deddy Azwandi telah menjalin kerjasama dengan 115 yayasan dan komunitas sejenis di seluruh Indonesia, kerjasama ini bertujuan untuk bisa membantu pasien yang ditangani RRD untuk memperoleh pertolongan medis di daerah lain.

Melalui kerjasama antar yayasan sosial lintas daerah tentu membuat kerja dan tugas para relawan di RRD menjadi lebih ringan, semangat kemanusian dalam kebersamaan semakin bersemi setiap hari.

“Pernah ada kejadian, pasien dari kita minta di rujuk ke Rumah Sakit di Solo, kita tidak punya akses rumah sakit disana, namun pasien kita tetap tertangani berkat bantuan sebuah yayasan di Solo. Sepersenpun pasien itu tidak mengeluar uang untuk biaya berobat, semua diselesaikan dengan relasi kita disana,”katanya

Kegiatan Jumat religi, membagikan makanan ke pasien Rumah sakit di ruang perawatan kelas tiga

Semangat membantu yang lemah juga disalurkan lewat kegiatan jumat religi yang diinisiasi oleh RRD, saban jumat para relawan membagikan nasi kotak ke pasien pasien di ruang perawatan kelas tiga di Rumah Sakit-Rumah Sakit di kota Pangkalan Kerinci.

Tak hanya bergerak mengurusi orang miskin dan sakit saja, Yayasan Rumah Relawan Dhuafa pernah pula menggalang dana kemanusian untuk palestina, lewat kerjasama dengan National Palestine Center, RRD berhasil menyalurkan sumbangan sebesar Rp. 230 juta dipengiriman pertama, dan Rp. 11 juta dipengiriman kedua. Dari donasi yang terkumpulkan itu, 700.000 liter air bersih dan obat obatan berhasil di kirim ke Rumah Sakit di Gaza.

Penggalangan dana untuk Palestina mendapatkan dukungan dari banyak pihak di Kabupaten Pelalawan, barang barang pribadi milik pejabat dan keluarga di lelang guna membantu menyalurkan bantuan air bersih dan obat obatan kepada warga Gaza. Terkumpulnya donasi ratusan juta tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat Kabupaten Pelalawan kepada yayasan RRD.

RRD berdiri saat ini melampaui ekspektasi para pendiri. Walau dimasa pandemi Covid 19, semangat membantu sesama yang dalam kesusahan tidak pernah mati, RRD membuktikan dalam nyata, banyak nyawa berhasil ditolong, banyak harapan yang diwujudkan. Rumah Relawan Dhuafa semakin menunjukkan eksistensinya sebagai wadah orang orang berhati mulia yang berkerja setulus hati ini.

Deddy Azwandi tak pula memungkiri, semakin besar RRD, semakin besar pula tanggung jawab yang akan diemban, semakin besar pula harapan masyarakat yang harus dilayani, para relawan sering dihadapkan pada situasi rumah singgah over capasity, pasien yang mau di antar berobat antri menunggu ambulance yang menjadi satu satunya armada yang dimiliki, kadang pasien harus berhimpitan di ambulance, kadang relawan mencari mobil sewa untuk melayani pasien berobat jalan.

Relawan RRD siap mendampingi pasien untuk mendapatkan pengobatan di rumah sakit

Rata rata ambulance milik RRD saat ini memiliki tiga rute pengantaran pasien per hari, sedangkan dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya memiliki jarak tempuh yang sangat jauh. kadang di waktu bersamaan ada dua sampai tiga pasien dengan status emergensi yang sama.

Apapun masalah yang dihadapi, semangat RRD tidak menyurut yang kadung bersemi dalam membantu orang – orang tak berpunya. Walau kadang terselip harapan akan adanya tambahan armada baru dalam meningkatkan pelayanan antar jemput pasien.

“Semoga RRD dipertemukan dengan donatur yang baik, yang bersedia menyumbang satu unit ambulance,”harap Deddy

Direktur Rumas Sakit Umum Daerah (RSUD) Selasih dr. Khairul Hamdi M.Kes menyebutkan bahwa pihaknya menyambut baik adanya RRD. Sebagai institusi kesehatan milik pemerintah daerah, RSUD memiliki visi yang sama untuk menyukseskan program Pemerintah lewat “Pelalawan Sehat”

Para petugas medis di Rumah Sakit kebanggaan masyarakat Kabupaten Pelalawan itu sudah paham betul bagaimana pola pelayanan bagi pasien yang dirujuk lewat bantuan RRD. Mereka tidak lagi menanyakan surat rujukan dan administrasi lainnya. Yang mereka lakukan pertama adalah memberikan pertolongan bagi pasien secara cepat dan tepat.

“Kita selalu siap bekerja sama dengan Rumah Relawan Dhuafa, prinsip kita sama membantu masyarakat dalam bidang kesehatan,”pungkas dr Khairul.

Penulis : Apon Hadiwijaya

 30 total views