Pengerjaan Drainase di Desa Tarai Bangun Diduga Asal Jadi Untuk Raup Keuntungan

Kampar (Nadariau.com) – Proyek pengerjaan drainase di Desa Tarai Bangun Kecamatan Tambang yang merupakan program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang dikelola oleh masyarakat yang ditunjuk dalam pengerjaannya diduga tidak sesuai dari standar pemerintah.

Pasalnya, didalam pengerjaan drainase tersebut penggunaan besinya diduga tidak menggunakan besi – besi SNI. Namun besi – besi yang kualitas dan kuantitasnya rendah dengan harga jauh lebih murah dari besi berlabel SNI asli, dilapangan sering disebut dengan besi – besi banci.

Hal ini disampaikan oleh Efialdi selaku pimpinan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat Jaringan Informasi Himpunan Rakyat (LPKSM JIHAT).

“Pengerjaan drainase tidak sesuai spek, besi 8 dipasang besi ukuran 6,5,” ujar Efialdi kepada awak media.

Efialdi mengatakan siap untuk melakukan pengukuran bersama terhadap besi – besi yang dipasang itu mau dari sudut mana pun dan ia pun siap untuk melayangkan surat laporan pengaduan kepada kejaksaan.

Awak media pun mencoba menelusuri dan mengkonfirmasi klarifikasi kepada Hamunar, Kaur Kesra di desa Tarai Bangun, yang merupakan pengawas sekaligus penyediaan bahan – bahan pengerjaan drainase tersebut.

Namun ketika ditanya tentang penggunaan besi tersebut, ia seakan berkilah dan melempar tanggung jawab kepada pendamping dari kotaku .

“Setiap pengerjaan itu, kita apa yang kita kerjakan diawasi oleh pendamping dari kotaku,” jawab Hamunar singkat.

Basri Kadus 2 yang juga turut dalam pengerjaan proyek tersebut sebagai kordinator ketika ditanya oleh awak media apakah pemakaian besi dari seharusnya ukuran 8 SNI namun dipasang besi ukuran 6,5 mengatakan bahwa ia paham dan mengatakan itu hal benar.,

“Coba tanya di toko ada berapa besi ukuran 8, kami tidak asal beli, kami punya pendamping dan pengawas” ujar Basri

Ketika awak media mencoba meminta nomor seluler pendamping dan konsultan guna konfirmasi kepada Hamunar dan Basri, mereka mengatakan tidak mempunyai nomornya dan mempersilahkan awak media mencarinya di balai. (af)