UPT BP2MI Pekanbaru dan Tanjung Pinang Kolaborasi Taja “Cerita dari Perbatasan, Prosedur Pemulangan PMI”

Tanggapan Rencana Malaysia akan Pulangkan 7.000 Orang PMI

PEKANBARU (nadariau.com) – Program Kamis Live UPT BP2MI Pekanbaru bersama Tanjak Live UPT BP2MI Tanjungpinang berkolaborasi secara daring melalui media sosial dengan mengusung tema ‘Cerita dari Perbatasan, Prosedur Pemulangan PMI’ , Kamis (3/6/2021) pukul 13.00 WIB. Acara ini merupakan kegiatan rutin kedua UPT sebagai upaya perluasan informasi tenaga kerja yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Munculnya ide kolaborasi ini,  menurut rilis Humas UPT BP2MI Pekanbaru, sebagai tanggapan atas kebijakan Pemerintah Malaysia yang akan memulangkan sebanyak kurang lebih 7.000 orang PMI terkendala melalui Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang, Kepri dan Pelabuhan Dumai, Riau pada bulan Juni 2021. Hal ini menjadi sangat penting dibahas karena dua pelabuhan tersebut merupakan enter dan exit point para PMI Malaysia dan Singapura.

Hadir Kepala UPT Tanjung Pinang, Mangiring Hasoloan Sinaga dan Plt. Kepala Seksi Perlindungan UPT BP2MI Pekanbaru, Ronny Sepriadi sebagai narasumber. Dalam kegiatan ini dibahas beberapa poin penting mengenai proses pelayanan pemulangan PMI di perbatasan, alasan PMI dipulangkan, dan pelaksanaan pemulangan PMI terkendala sesuai protokol Covid-19.

Sebagai salah satu pemangku kepentingan di wilayah perbatasan, Sinaga telah menerima 18.159 orang PMI asal Malaysia dan Singapura yang dipulangkan melalui proses Repatriasi, Deportasi, Rekalibrasi dan Evakuasi.

“Sementara itu, selama masa pandemi ini PMI terkendala yang paling banyak difasilitasi adalah PMI yang dipulangkan dengan proses Rekalibrasi melalui Batam. Rekalibrasi adalah pengampunan yang diberikan pemerintah Malaysia kepada PMI terkendala untuk bekerja secara legal dengan melengkapi dokumen-dokumen yang dipersyaratkan atau pulang secara sukarela dengan syarat-syarat tertentu,” ungkap Sinaga.

Ia juga menambahkan bahwa hal yang paling mengkhawatirkan saat ini adalah PMI yang berangkat secara nonprosedural sehingga pulang ke Indonesia juga melalui proses nonrosedural dan tidak mengikuti protokol kesehatan Covid-19. PMI seperti ini sulit terdeteksi dan sangat mungkin menularkan virus Covid-19 kepada keluarga ataupun kerabatnya.

Hal senada disampaikan Ronny. “PMI terkendala yang paling banyak difasilitasi kepulangannya oleh UPT BP2MI Pekanbaru adalah PMI asal Malaysia yang telah selesai menjalani masa hukuman di Rumah Tahanan dan dipulangkan sebelum wabah Covid-19 melalui jalur laut Dumai.”

Dijelaskan oleh kedua narasumber, proses pemulangan PMI secara teknis melalui prosedur yang sangat ketat guna menekan penyebaran Covid-19 di tanah air. Selain harus membawa sertifikat bebas Covid-19 dari negara asal, para PMI ini juga akan di swab sebanyak dua kali dan dikarantina paling cepat lima hari.

Selama masa karantina, para PMI disediakan fasilitas tempat tinggal, makanan dan minuman serta vitamin. Para PMI ini akan dipulangkan melalui jalur darat, udara atau laut setelah dinyatakan bebas dari Covid-19 pada swab kedua. Untuk PMI meninggal dunia yang tidak terdeteksi Covid-19 akan difasilitasi kepulangannya, sedangkan yang terdeteksi Covid-19 akan dimakamkan.  (bud)