Pekanbaru (Nadariau.com) – Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Pepatah itulah agaknya suai untuk disematkan kepada H Damuri SPd yang saat ini masih menjabat Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 008 Desa Kualu Baru, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau.
Betapa tidak, bermula di awal tahun 2016 lalu, Damuri menderita penyakit kencing manis atau diebetes mellitus (DM). Karena tidak diobati secara serius, akhirnya penyakit gula yang dideritanya sampai merusak ginjal.
Karena ginjalnya sudah mengalami disfungsi, sudah dapat dibayangkan Bapak Haji ini bolak-balik keluar dan masuk rumah sakit dan harus menjalani opname beberapa kali dan beberapa hari di rumah sakit.
Karena ginjalnya tidak normal lagi mengolah makanan dan minuman dalam tubuhnya. Akhir kata, pria kelahiran 1965 ini wajib menjalani obat rutin dan cuci darah atau hemodialisis dengan durasi 2 kali seminggu.
”Sejak tahun 2018 sampai sekarang saya wajib menjalani cuci darah di Rumah Sakit Aulia Pekanbaru yang waktunya 2 kali seminggu, yakni Selasa dan Jumat sore. Saya sengaja ambil jadwalnya sore, karena paginya saya mengajar dan menjabat sebagai kepala sekolah,” ujar suami Yusmarwati ini.
Diceritakan Pak Kepsek, apa yang dialaminya selama ini memang tidak terbayangkan sebelumnya. Kejadian bermula sekitar tahun 2016 lalu. Awalnya, badannya terasa lemas terasa tidak bertenaga, sering buang air kecil, cepat lapar dan berat badan turun dratis. Dengan ada kejadian ini, dia berdiskusi dengan dokter Faskes Klinik Sansani Panam yang tidak jauh dari rumahnya.
Melihat seperti itu, dokter klinik itu memberikan surat rujukan kepada Damuri untuk berobat ke dokter spesialis penyakit dalam.
”Memang ada juga berobat sesakali tetapi aku tak disiplin dan tak rutin makan obat dengan alasan waktu kesibukan. Waktu itu masih sebagai guru sehingga penyakitnya tidak sembuh malah semakin parah. Kemudian ditambah kebiasaan buruk aku setiap makan harus diringi minum teh manis atau teh es,“ aku Damuri.
Makanya, tak heran pertengahan tahun 2016, dia sering masuk keluar rumah sakit.
”Sejak tahun 2016 sampai tahun 2018 tidak terhitung lagi saya diopname masuk rumah sakit yang waktunya kadang mencapai 10 sampai 15 hari. Bahkan istri saya ini sampai tak sanggup lagi menunggu saya di rumah sakit kala itu. Selain itu tentang biaya, tidak tahu jumlahnya lagi berapa biayanya pengobatan yang angkanya mencapai ratusan juta,“ papar Damuri sambil melihatkan lengan kiri yang sudah bengkak kena infus.
Seperti sekarang ini, Damuri wajib menjalani cuci darah 2 x seminggu dengan biaya sekitar Rp1 juta sampai Rp1,2 juta sekali tindakan. Berarti satu minggu itu, kalau saya pakai bayar uang pribadi harus merogoh kocek sebesar Rp2,4 juta. Dengan demikian, kalau sebulan saja saya harus mengeluarkan uang untuk cuci darah itu Rp2,4 x 4 = 9.6 juta.
”Makanya, sering saya guyon sama istri saya, kalaulah sempat BPJS Kesehatan ini tidak ada dibuat pemerintah, bisa-bisa orang seperti saya ini lumpuh sebelum meninggal agaknya atau bisa jatuh miskin karena untuk berobat terpaksa jual apa yang ada termasuk rumah. Apalagi orang seperti saya ini hanya mengharapkan gaji semata,“ bebernya.
Diakui Damuri, begitu didiagnosa dokter DM termasuk cuci darah itu, banyak orang bahkan sanak saudara sudah pesimis melihat kondisi yang dialaminya itu. Karena yang namanya DM dan sampai cuci darah itu, tidak lama bisa bertahan.
Selain itu biayanya pengobatan besar. Namun apa terjadi, seperti yang dialami sekarang, di tengah kesibukannya sebagai kepala sekolah dengan ikut rapat dan kegiatan lain, semua dapat dilalui dengan baik berkat BPJS Kesehatan.
”Sesuai kondisi sekarang ini, yang nama Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan jabatan seorang kepala sekolah, kesibukannya luar biasa, mulai rapat, penataran dan pertemuan lainnya. Namun Alhamdulillah semua tugas yang diemban kepada saya itu dapat saya lalui dengan baik,” ujarnya.
Makanya, kalau ada orang mengatakan BPJS Kesehatan ini tidak jelas agar ditutup saja, terus terang dia katakan dirinya lah orang yang menentang duluan. Karena dia benar-benar merasakan manfaat dari BPJS Kesehatan. Sesuai tujuannya membantu masyarakat yang sedang sakit yang tentunya memerlukan pertolongan.
”Saya sangat tidak setuju BPJS Kesehatan ditutup. Bahkan kapan perlu kapabilitas dan kapasitasnya mestinya ditingkatkan. Karena saya sendiri benar-benar yang mengalami. Hanya saja, pelayanannya perlu terus disempurnakan, itulah yang lebih baik,” sarannya. (ind)


