Balai Bahasa Riau dan Unilak Gelar Seminar Nasional Tentang Bahasa Indonesia

Pekanbaru (Nadariau.com) – Balai Bahasa Provinsi Riau bekerjasama dengan Universitas Lancang Kuning (Unilak) menggelar seminar nasional, dengan tema menjulang Bahasa Indonesia sebagai kekuatan bangsa

Seminar nasional ini diikuti oleh lebih dari 150 mahasiswa, dan 48 guru SMP/SMA yang ada di Riau.

Sebagai narasumber yaitu kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Republik Indonesia Prof Dr Dadang Sunendar MHum, Ketua Majelis kerapatan Adat LAM Riau, Al Azhar, wakil dekan II FIB Unilak Dr Evizariza MHum.

Turut hadir Rektor Unilak Dr Junaidi SS MHum, dekan FIB Hermansyah SS MA, kepala Balai bahasa Riau, Drs Songgo A Siruah MPd dan sejumlah dosen di lingkungan Unilak. Seminar diawali dengan penampilan pembacaan syair Melayu oleh mahasiswa FIB.

Kepala Balai Bahasa Riau diawal seminar mengatakan bahasa Indonesia adalah simbol negara, dan telah diatur di UU.

Balai bahasa bergerak lintas kementerian dan lembaga negara, yang dihubungkan oleh bahasa dan sekarang setiap dokumen resmi harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Bahasa Indonesia akan direncanakan menjadi bahasa internasional di tahun 2045.

Dikatakan, Songgo, kontribusi orang Melayu bagi Indonesia adalah bahasa Melayu yang digunakan sebagai lahirnya bahasa Indonesia, yang tidak dapat diukur dengan material.

“Jadi kita harus merawat Bahasa Indonesia. Karena ini adalah bingkai pemersatu bangsa Indonesia,” sebut Songgo, Selasa (26/11/2019).

Ditempat yang sama rektor Unilak Dr Junaidi SS MHum dalam sambutannya menerangkan bahwa di Unilak memiliki 19 prodi S1. Dua diantaranya prodi sastra yaitu, sastra daerah dan sastra Indonesia.

Ia sangat menyambut baik adanya’ seminar ini, di Riau Fakultas ilmu budaya(FIB) adalah yang mengambil muatan lokal. Insyallah kami akan mereposisi sastra Melayu akan menjadi bahasa Melayu sehingga akan menjadi muatan lokal di Riau.

Diharapkan kegiatan ini betul betul membangkitkan perhatian, untuk memperhatikan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Baginya bahasa Indonesia dan bahasa Melayu sangat erat, kontribusi besar orang Melayu bagi Indonesia adalah bahasa Melayu.

“FIB akan bermitra dengan Balai Bahasa untuk malaksanakan uji kompetensi bahasa Indonesia,” kata Rektor Unilak. (wid)

Salah satu narasumber, Prof Dr Dadang Sunendar, yang juga guru besar UPI Bandung mengatakan, penjagaan dan perawatan bahasa Melayu hari harus terus dilakukan.

Keberadaan bahasa Melayu di Riau tertanam dan terjaga dan bahkan dipelajari dalam muatan lokal pendidikan. Dan jangan lupa sastranya juga perlu dijaga. Supaya bisa menjadi contoh bagi daerah lain.

“Jika satu bahasa kita punah maka sastra juga akan hilang, kearifan lokal dan muatan lokal bisa hilang juga. Hal ini tugas badan perubukuan dan bahasa untuk terus menjaga,” kata Prof Dadang.

Dijelaskan Prof Dadang, Indonesia memiliki 718 bahasa daerah, 408 ada di Papua dan Papua barat.

“Indonesia adalah negara nomor dua terbanyak memiliki bahasa, yang nomor satu adalah Papua Nugini. Jadi bisa dikatakan Pulau Papua adalah surga bagi para peneliti bahasa,” jelas Dadang.

Kegiatan seminar berlangsung menarik, guru dan mahasiswa antusias menggali pengetahuan dan bertanya ke narasumber. (wid)