Sang Visioner Itu Ciptakan Metropolitan Pekansikawan

Calon Gubernur Riau (Cagubri) Firdaus ST, adalah sang visioner hebat.

[divide]

Pekanbaru (Nadariau.com) – Sang visioner yang sedang mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Riau (Cagubri) Firdaus ST, sudah menyiapkan program pengembangan Riau bila nanti dirinya bersama Calon Wakil Gubernur Riau (Cawagubri) H Rusli Effendi, dipercaya untuk memimpin Riau.

Dimana sang visioner ini telah menciptakan Metropolitan Pekansikawan (Pekanbaru, Siak, Kampar dan Pelalawan) yang sejak beberapa waktu terakhir semakin ramai dibicarakan.

Pekansikawan sendiri sengaja dirancang Walikota Pekanbaru nonaktif itu untuk kurun waktu 20-30 tahun ke depan sebagai penunjang pembangunan seluruh kawasan secara sinergis lewat potensi kawasan dan prasarana infrastruktur yang terintegrasi dan terkoneksi.

Program tersebut adalah bukti dari komitmen besar Firdaus untuk bisa mengembangkan posisi kawasan di sekitar Pekanbaru sebagai center poin (titik pusat) yang akan berkembang secara bersamaan mengingat akan semakin terbatasnya lahan di wilayah kota dalam 20 sampai 30 tahun ke depan.

“Karena harus kita akui bahwa luas lahan di wilayah Pekanbaru akan semakin terbatas hingga 20 sampai 30 tahun ke depan. Untuk itulah, Pekanbaru membutuhkan sinergi dari daerah-daerah di sekitarnya untuk meningkatkan daya dukung sekaligus meningkatkan produktivitas bersama,” katanya, Rabu (28/03/2018) lalu.

Konsep tersebut, dikatakan Firdaus mencontoh pembangunan kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) sebagai solusi untuk perkembangan wilayah Jakarta sebagai ibukota negara.

Daerah-daerah di sekitar Pekanbaru dikatakan Firdaus sangat relevan dan mempunyai daya dukung yang sangat memungkinkan untuk dikembangkan.

Saat ini, kerangka dari Pekansikawan sudah diwujudkan secara bertahap bersamaan dengan pengembangan kawasan Tenayan Raya.

Bukan cuma perkantoran milik Pemko Pekanbaru, di sekitar kawasan itu, kini juga sudah didirikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan Pembangkit Listrik Tenaga gas (PLTG).

Selain itu, pemerintah juga memberikan kemudahan bagi pelaku usaha properti untuk membuka akses kawasan pemukiman dan sentral perekonomian lainnya.

Pemko Pekanbaru juga sudah membuka akses pembangunan ruas jalan lingkar yang mengkoneksikan wilayah Pekanbaru dengan kawasan-kawasan lainnya yang mengelilinginya.

Seperti jalan lingkar luar Pekanbaru di wilayah Okura yang akan terkoneksi dengan jalan lintas timur Sumatera yang berbatasan dengan Siak, Kampar dan Pelalawan.

Dengan tuntasnya pembangunan ruas tol Pekanbaru-Dumai, Firdaus berharap akan mendukung kemudahan akses di kawasan Pekansikawan yang menghubungkan daerah lainnya lewat struktur jalan menuju Bengkalis, Dumai maupun Rokan Hilir.

Untuk itu, Firdaus sangat optimis jika Metropolitan Pekansikawan yang sudah digaungkan semenjak awal kepemimpinannya di Kota Pekanbaru dapat terwujud bila mana ada sinergi yang kuat antar daerah dalam menciptakan daya dukung menuju kawasan ekonomi yang tersinergi.

“Jadi, kita ibaratkan saja pohon sawit yang tumbuh liar dan yang tumbuh ditanam dengan bibit yang baik dan dipelihara dengan baik sesuai dengan rencana yang tepat. Buah sawit, kecambahnya itu bisa saja tumbuh sebagai pohon sawit dewasa dan besar tanpa dirawat. Itu bisa. Tapi soal hasilnya, belum tentu akan sebaik sawit yang ditanam dari bibit pilihan, yang baik, dipelihara, diberi pupuk yang cukup. Begitu juga dengan pembangun kawasan. Setiap daerah potensial untuk tumbuh dan berkembang,” ujarnya.

Tapi, dengan dikelola secara baik dan saling sinergi, akan bisa menghasilkan kawasan yang strategis, mahal dan akan menarik banyak investor masuk. Bagi kota Pekanbaru, terang Firdaus, Metropolitan Pekansikawan merupakan sebuah solusi untuk membangun bersama.

Dengan Metropolitan Pekansikawan, nantinya bukan hanya Pekanbaru yang akan terdukung, namun juga kawasan-kawasan yang berada di zona penyangga Pekanbaru.
Dia juga yakin, dengan program bersama ini, seluruh daerah di sekitarnya akan berjuang mengembangkan wilayahnya menjadi kawasan strategis yang diminati dan diproyeksi akan menjadi wilayah metropolitan baru.

Dia mencontohkan program pengembangan kawasan Teknopolitan oleh Pemkab Pelalawan, yang menjadi cikal bakal kawasan ekonomi baru Pelalawan, sangat terbuka untuk berkembang karena masih berada di zona strategis Pekansikawan.

Begitu pun dengan pengembangan kawasan Industri Buton di Siak. Pihaknya sangat optimis akan bisa berkembang lebih cepat melalui skema pembangunan secara bersama dan berkelanjutan.

Karena itulah, sebut Firdaus, bila kelak dia terpilih memimpin Riau, Metropolitan Pekansikawan merupakan program yang akan langsung dikelola secara apik dan terencana.

“Kita tak bisa menggambarkan bagaimana hidupnya kawasan Pekansikawan kelak mengingat tingginya tingkat pertumbuhan pembangunan di Kota Pekanbaru. Tapi, saya bisa memberi gambaran bagaimana pada tahun 2001 lalu, pemerintah membuka akses dua ruas jalan di Lintas Riau-Sumbar di HR Soebrantas. Efeknya tak hanya dirasakan dengan demikian padatnya wilayah Kecamatan Tampan saat ini, namun juga bisa dirasakan hingga wilayah Kampar,” kata dia.

“Tahap itu juga sudah dialami warga di Tenayan Raya saat ini. Bahkan dengan semakin terbatas dan mahalnya lahan saat ini, pihaknya yakin, Metropolitan Pekansikawan bisa diwujudkan dalam 20-30 tahun ke depan. Tak harus sampai 50-100 tahun,” ulasnya optimis.

Begitupun, Firdaus menyebutkan pengembangan Metropolitan Pekansikawan tak akan menelantarkan proses pembangunan di kawasan lain.

“Kita punya wilayah sangat strategis dan semua mempunyai daya dukung yang cukup besar untuk dikembangkan. Seperti Dumai dengan Pelintung dan Lubuk Gaung dan pelabuhan internasionalnya. Siak dengan Kawasan Industri Buton (KITB), Indragiri Hilir dengan Kuala Enok. Seluruh kawasan itu bisa menjadi potensi ekonomi besar yang akan membangkitkan Riau ke depan pasca minyak,” paparnya.

Sebenarnya, ini sudah dilaksanakan sekitar 10-2 tahun lalu ketika Rusli Zainal memimpin Riau dan dia masih menjabat sebagai Kepala DInas Pekerjaan Umum. Sayangnya, kebijakan tersebut tidak berlanjut dan terkesan tidak dimanfaatkan secara optimal.

“Mudah-mudahan, bila diberi kesempatan, kita akan wujudkan kembali kemajuan Riau ini,” tandasnya. (ind)